Ada dua jenis manusia di dunia ini.
Golongan kedua inilah yang sedang dibela secara elegan oleh
Fabrice Luchini ketika ia berbicara tentang psikoanalisis. Dengan humor khas
Prancis—yang selalu terdengar seperti campuran antara filsafat, satire, dan
pelayan kafe yang lelah menghadapi turis—Luchini mengutip Woody Allen: setelah
41 tahun menjalani analisis, hasilnya hanya “sedikit lebih baik.”
Sedikit.
Hanya sedikit lebih baik.
Dan anehnya, justru di situlah letak kejujuran yang
menyegarkan.
Di zaman sekarang, segala hal dijual dengan bahasa mukjizat.
Minum teh ini: hidup Anda berubah. Ikuti seminar itu: inner child Anda sembuh.
Dengarkan podcast ini: energi kosmik Anda sinkron dengan semesta. Dunia modern
seperti pasar malam spiritual; semua orang menjajakan pencerahan instan seperti
promo beli dua gratis satu.
Psikoanalisis, menurut Luchini, jauh lebih rendah hati. Ia
tidak menjanjikan surga batin. Ia cuma membantu agar orang lain tidak ingin
melempar sandal kepada kita setiap lima menit.
Dan itu, kalau dipikir-pikir, sudah pencapaian besar.
Psikoanalisis sebagai Jasa Outsourcing Drama
Luchini mengatakan sesuatu yang terdengar seperti lelucon,
tetapi sebenarnya sangat tragis: fungsi utama psikoanalisis adalah memindahkan
kecemasan kita kepada seseorang yang dibayar untuk mendengarkannya.
Luar biasa modern.
Kapitalisme akhirnya menemukan bentuk paling puitisnya:
outsourcing penderitaan.
Bayangkan betapa leganya teman-teman kita setelah kita mulai
terapi.
Peradaban maju selangkah.
Psikoanalisis, dalam gambaran Luchini, seperti tempat
pembuangan limbah emosional berstandar internasional. Semua kecemasan,
paranoia, luka masa kecil, rasa tidak dicintai, dan obsesi absurd boleh dibuang
di sana dengan aman. Sang analis tidak kabur. Ia tidak berkata, “Kamu lebay.”
Ia tidak pura-pura tidur. Ia tetap duduk tenang karena, ya… itu pekerjaannya.
Sementara orang-orang di sekitar kita akhirnya bisa
bernapas.
Karena sering kali problem terbesar manusia bukan bahwa ia
menderita, melainkan bahwa ia ingin semua orang ikut menderita bersamanya. Ada
orang yang kalau patah hati, auranya berubah menjadi siaran darurat nasional.
Semua orang harus tahu. Semua orang wajib ikut murung. Bahkan tukang gorengan
di ujung jalan pun terasa bersalah tanpa tahu sebabnya.
Psikoanalisis mencoba menghentikan teror kecil semacam itu.
Levinas dan Seni Tidak Menjadikan Orang Lain sebagai
Furnitur Emosional
Bagian paling menarik dari pemikiran Luchini muncul ketika
ia membawa nama Emmanuel Levinas. Di tangan filsuf ini, hubungan dengan orang
lain bukan sekadar urusan sosial, tetapi urusan etika yang hampir sakral.
Levinas berkata: orang lain bukan alat untuk memenuhi
kebutuhan kita.
Karena diam-diam kita sering memperlakukan orang lain
seperti aplikasi multifungsi:
- pasangan
untuk mengobati kesepian,
- teman
untuk validasi,
- atasan
untuk pengakuan,
- mantan
untuk nostalgia,
- followers
untuk harga diri.
Kita jarang benar-benar melihat manusia lain sebagai
manusia. Kita melihat mereka sebagai colokan charger psikologis.
Dan ketika colokan itu tidak bekerja sesuai harapan, kita
marah.
Di sinilah psikoanalisis menjadi seperti tukang
bersih-bersih gudang batin. Ia membantu membongkar tumpukan proyeksi absurd
yang selama ini kita lemparkan kepada orang lain.
Penemuan-penemuan ini memang tidak mistis. Tidak ada cahaya
turun dari langit. Tidak ada musik harpa. Tetapi efeknya luar biasa: kita
menjadi sedikit lebih ringan untuk ditanggung orang lain.
Dan mungkin itulah definisi kedewasaan yang paling
realistis.
Menjadi Manusia yang Tidak Terlalu Merepotkan
Dunia modern memuja “menjadi diri sendiri.” Masalahnya,
kadang “diri sendiri” itu melelahkan bagi lingkungan sekitar.
Ada orang yang autentik sekali sampai seluruh ruangan ikut
stres.
Luchini menawarkan tujuan yang lebih sederhana dan lebih
waras: jangan terlalu mengganggu orang lain.
Kedengarannya remeh, tetapi coba bayangkan jika semua
manusia berhasil melakukan itu. Timeline media sosial akan lebih damai. Grup
keluarga lebih sunyi. Rapat kantor tidak berubah menjadi sesi terapi kolektif.
Bahkan mungkin sebagian perang dalam sejarah bisa dicegah jika seseorang mau
terapi daripada pidato empat jam sambil menunjuk peta.
Karena banyak konflik besar sebenarnya hanyalah luka kecil
yang diberi mikrofon.
Manusia yang tidak selesai dengan dirinya sendiri cenderung
mengubah orang lain menjadi panggung. Semua harus ikut memainkan drama
batinnya. Semua dipaksa menjadi figuran dalam film psikologis yang bahkan
mereka tidak beli tiketnya.
Psikoanalisis mencoba mematikan kamera itu.
Bukan supaya kita menjadi suci, melainkan supaya kita
berhenti menyeret semua orang ke dalam badai internal kita.
Mukjizat Kecil Bernama “Tidak Lagi Menyusahkan”
Yang paling indah dari pandangan Luchini adalah
kerendahannya. Ia tidak berbicara tentang kesempurnaan. Ia tidak menjual
kebahagiaan permanen seperti iklan properti syariah.
Ia cuma berkata: mungkin setelah semua kerja batin itu, kita
menjadi sedikit lebih bisa ditoleransi.
Sedikit.
Dan mungkin memang begitu cara manusia bertumbuh—bukan lewat
ledakan pencerahan, melainkan lewat pengurangan kecil atas kekacauan yang kita
sebarkan.
Seperti kipas angin tua yang tadinya berisik sekali, lalu
setelah diperbaiki tetap berputar, tetapi tidak lagi mengganggu tidur seluruh
rumah.
Dan kalau dipikir-pikir, bukankah itu sudah cukup mulia?
Karena dunia ini sudah cukup bising oleh orang-orang yang
merasa dirinya pusat semesta. Maka hadirnya satu manusia yang sedikit lebih
tenang, sedikit lebih sadar diri, dan sedikit lebih tidak manipulatif mungkin
memang sebuah mukjizat kecil.
Mukjizat yang sangat manusiawi.
Bahkan Woody Allen mungkin akan mengakuinya—meski setelah 41
tahun, sambil tetap cemas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.