Konon, manusia modern adalah makhluk paling bebas sepanjang sejarah. Kita bisa memesan makanan tanpa turun dari kasur, berdebat filsafat sambil memakai celana pendek, bahkan memutuskan hubungan asmara hanya dengan menekan tombol “unfollow”. Kebebasan kini hadir dalam bentuk paket data unlimited. Namun anehnya, semakin banyak pilihan, semakin banyak pula manusia yang hidup seperti ayam kehilangan induk hanya karena unggahannya sepi “like”.
Di sinilah Diogenes muncul seperti tamu tak diundang di
pesta influencer.
Bayangkan suasananya. Di tengah manusia modern yang sibuk
memilih filter Instagram agar wajah tampak “natural”, Diogenes mungkin hanya
muncul dengan satu mangkuk reyot—atau bahkan tanpa mangkuk, karena menurut
legenda, ia pernah membuang mangkuknya setelah melihat anak kecil bisa minum
langsung dari tangan. Bagi Diogenes, minimalisme bukan gaya hidup estetik
dengan meja kayu pinus dan kopi tanpa gula. Minimalisme baginya adalah: “Kalau
tidak perlu, buang. Kalau masih bikin gelisah, buang lagi.”
Ia bukan filsuf yang hidup di perpustakaan nyaman sambil
menyeruput teh chamomile. Ia tidur di jalanan, hidup nyaris tanpa harta, dan
berbicara kepada penguasa seperti orang menegur tukang parkir liar. Ketika
ditangkap bajak laut lalu dijual sebagai budak, ia tidak panik sebagaimana
manusia modern panik saat baterai tinggal 3%.
Saat ditanya, “Apa kemampuanmu?”
Diogenes menjawab santai:
“ Saya tahu cara memerintah manusia. Jual saya kepada orang
yang membutuhkan tuan.”
Kalimat itu terdengar seperti gabungan antara penghinaan,
stand-up comedy, dan tamparan metafisik.
Di pasar budak, semua orang mungkin melihat Diogenes sebagai
manusia kalah. Tapi Diogenes melihat sesuatu yang berbeda: para pembelinya
justru tampak lebih terikat daripada dirinya. Mereka punya rumah, tapi
diperbudak cicilan. Mereka punya status, tapi hidup ketakutan kehilangannya.
Mereka punya kekuasaan, tapi tidak mampu tidur nyenyak tanpa validasi publik.
Diogenes miskin harta, tetapi kaya ketidakpedulian.
Dan ternyata, ketidakpedulian adalah mata uang paling mahal
di dunia modern.
Hari ini kita hidup dalam bentuk perbudakan yang jauh lebih
halus. Tidak ada rantai besi. Tidak ada cambuk. Yang ada hanyalah notifikasi.
“Ding!”
Seseorang menyukai foto kita.
“Ding!”
Seseorang tidak setuju dengan opini kita.
“Ding!”
Ada orang asing yang marah karena kita salah menggunakan
tanda baca.
Manusia modern bangun tidur bukan lagi bertanya, “Apa makna
hidup?” melainkan, “Story saya sudah dilihat siapa saja?”
Kita seperti ikan yang berenang bebas di laut digital,
tetapi diam-diam hidung kita dikait kail algoritma. Kita tertawa, marah, jatuh
cinta, bahkan merasa rendah diri sesuai irama mesin rekomendasi. Ironis sekali:
dulu manusia takut dirampas kerajaannya, sekarang manusia takut dirampas
centang birunya.
Diogenes mungkin akan tertawa melihat semua ini.
Bukan tertawa sinis seperti penjahat film, tetapi tertawa
seperti orang yang sadar bahwa manusia sering membangun penjara sendiri lalu
sibuk mendekorasi dindingnya.
Ada orang rela bekerja mati-matian membeli mobil agar
dianggap sukses oleh tetangga yang sebenarnya juga sedang stres membayar
cicilan mobilnya sendiri. Ini seperti dua kambing saling kagum karena sama-sama
terjebak di kandang emas.
Koji Sensei tampaknya ingin menunjukkan bahwa perbudakan
modern tidak bekerja lewat kekerasan, tetapi lewat ketergantungan psikologis.
Kita takut tidak dianggap keren. Takut tertinggal tren. Takut sepi. Takut tidak
relevan. Takut tidak dipuji. Bahkan ada manusia yang lebih takut kehilangan
WiFi daripada kehilangan arah hidup.
Diogenes mengajarkan sesuatu yang sangat mengganggu: semakin
banyak yang kau butuhkan untuk merasa utuh, semakin mudah dunia memperbudakmu.
Karena itu orang yang paling sulit ditaklukkan bukanlah
orang paling kaya, melainkan orang yang sudah berdamai dengan kehilangan.
Ini mengingatkan pada paradoks lucu kehidupan modern. Kita
membeli barang untuk mengurangi stres, lalu stres karena harus membayar barang
itu. Kita mencari hiburan untuk menenangkan pikiran, lalu pikiran makin gaduh
karena terlalu banyak hiburan. Kita mengejar kebebasan finansial, tetapi
akhirnya menjadi budak spreadsheet dan seminar motivasi jam lima pagi.
Manusia modern seperti orang yang membeli treadmill mahal
agar bisa lari tanpa pergi ke mana-mana.
Sementara Diogenes? Ia bahkan mungkin tidak punya sandal,
tetapi pikirannya berjalan ke mana-mana.
Namun jangan salah paham. Pesan Diogenes bukan berarti semua
orang harus tinggal di tong dan memusuhi sabun. Ia bukan nabi anti-peradaban.
Yang ia kritik adalah keterikatan berlebihan terhadap hal-hal fana. Masalahnya
bukan memiliki barang, tetapi ketika barang mulai memiliki kita.
Ponsel misalnya, awalnya alat komunikasi. Lama-lama menjadi
alat pengukur harga diri. Orang bisa lebih sedih kehilangan ponsel daripada
kehilangan ketenangan batin. Bahkan ada yang rela kembali ke rumah sejauh lima
kilometer demi mengambil ponsel tertinggal, tetapi tidak pernah kembali kepada
dirinya sendiri yang sudah lama tertinggal.
Di situlah kebebasan sejati menjadi konsep yang menakutkan.
Sebab bebas bukan berarti bisa melakukan apa saja. Bebas
justru berarti tidak lagi dikendalikan oleh apa saja.
Orang yang benar-benar bebas tidak mudah dipermainkan pujian
maupun hinaan. Ia tidak mabuk ketika dipuji, dan tidak runtuh ketika dicaci.
Jiwanya seperti warung kopi pinggir jalan: hujan datang tetap buka, panas
datang tetap buka, netizen marah pun tetap jualan gorengan.
Dan mungkin itu sebabnya Diogenes terasa begitu relevan hari
ini.
Di tengah dunia yang makin bising, ia mengajarkan seni
menjadi tidak terlalu tergantung. Di tengah budaya pencitraan, ia mengajarkan
keberanian menjadi biasa saja. Di tengah manusia yang sibuk tampil kaya, ia
menunjukkan bahwa ketenangan batin jauh lebih mewah daripada barang bermerek.
Pada akhirnya, kebebasan sejati bukan tentang memiliki
seluruh dunia, tetapi tentang dunia tidak lagi mampu mengendalikan isi
kepalamu.
Karena orang yang masih bisa tertawa ketika dihina, masih
bisa tenang ketika kehilangan, dan masih bisa tidur nyenyak tanpa tepuk tangan
manusia—barangkali memang lebih merdeka daripada banyak orang yang tampak
sukses di permukaan.
Dan kalau Diogenes hidup hari ini, mungkin ia tidak akan
punya akun media sosial.
Atau lebih lucu lagi: ia punya akun, tetapi tidak pernah
mengecek komentar.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.