Ada sebuah pertanyaan yang jarang diajukan para filsuf, tetapi diam-diam menentukan nasib peradaban:
Mengapa ada orang yang hidupnya tumbuh seperti pohon
jati, sementara yang lain tumbuh seperti kecambah yang baru muncul sudah
dimakan ayam?
Jawabannya ternyata tidak selalu serumit teori ekonomi,
psikologi, atau geopolitik. Kadang jawabannya sesederhana: ia ditanam di
mana.
Sebuah nasihat menggunakan metafora yang sangat
membumi. Manusia diibaratkan seperti biji. Ada biji yang ditanam dalam-dalam di
tanah, ada pula yang cuma diletakkan di permukaan.
Nasib keduanya berbeda.
Biji yang ditanam dalam tanah memang mengalami masa-masa
sulit. Ia harus bergelut dengan kegelapan, kelembapan, dan tekanan. Dari luar,
hidupnya tampak tidak menarik. Tidak ada yang memuji. Tidak ada yang memberi
"like". Tidak ada yang mengomentari perjuangannya.
Tetapi justru di sanalah akar tumbuh.
Sebaliknya, biji yang nongkrong di permukaan tanah terlihat
lebih eksis. Semua orang bisa melihatnya. Ia mendapat sinar matahari lebih
dulu. Ia merasa terkenal.
Sayangnya, ayam juga bisa melihatnya lebih dulu.
Tikus juga.
Semut juga.
Pendek kata, seluruh makhluk yang sedang mencari camilan
melihatnya sebagai peluang investasi.
Biji itu belum sempat menjadi pohon. Ia sudah lebih dulu menjadi sarapan.
Metafora ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang
pertanian. Ia berbicara tentang kehidupan modern.
Hari ini banyak orang hidup seperti biji di permukaan tanah.
Mereka selalu terlihat, tetapi jarang bertumbuh.
Pagi membuka media sosial.
Siang membuka media sosial.
Malam membuka media sosial sambil mengeluh bahwa hidup tidak
berkembang.
Sehari-hari mereka sibuk mengikuti gosip artis yang bahkan
tidak tahu keberadaan mereka. Mereka hafal konflik para selebritas, tetapi lupa
konflik antara dirinya dengan kemalasan.
Mereka tahu siapa yang putus cinta minggu ini, tetapi tidak
tahu mengapa cita-citanya putus di tengah jalan.
Mereka seperti penonton sepak bola yang sangat ahli
menganalisis pertandingan, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri belum pernah turun
ke lapangan.
Akibatnya, energi habis untuk mengomentari kehidupan orang lain, sementara kehidupannya sendiri dibiarkan berjalan tanpa sopir.
Nasihat itu kemudian menawarkan alternatif yang
sangat Jawa.
Jadilah manusia yang ditempa seperti Satrio Piningit.
Bukan manusia yang kerjanya hanya nongkrong dari warung kopi
ke warung kopi seperti satelit yang kehilangan orbit.
Dalam dunia pewayangan, para ksatria besar tidak lahir dari
rebahan. Mereka lahir dari tempaan.
Mereka masuk Kawah Candradimuka.
Kalau diterjemahkan ke bahasa modern, Kawah Candradimuka
mungkin mirip kombinasi antara pesantren, perpustakaan, ruang latihan, dan
tempat di mana sinyal Wi-Fi sengaja dibuat lemah agar orang tidak tergoda
membuka video kucing selama empat jam.
Di sanalah manusia ditempa.
Besi menjadi pedang bukan karena sering dipuji, tetapi
karena sering dipukul.
Otot menjadi kuat bukan karena sering difoto, tetapi karena
sering digunakan.
Iman menjadi kokoh bukan karena sering dipamerkan, tetapi karena sering diuji.
Tentu saja, kita tidak boleh memahami nasihat ini secara
terlalu harfiah.
Kalau semua orang meninggalkan pergaulan, lalu masuk gunung
untuk bertapa, siapa yang akan mengurus pasar?
Siapa yang mengajar sekolah?
Siapa yang membayar pajak?
Dan yang lebih penting, siapa yang akan menjadi pelanggan
penjual gorengan?
Masalahnya bukan pada pergaulan itu sendiri.
Masalahnya adalah kualitas pergaulan.
Warung kopi bisa menjadi universitas mini jika yang dibahas
adalah gagasan.
Tetapi warung kopi juga bisa berubah menjadi pusat produksi
kesia-siaan jika yang dibahas selama tiga jam hanyalah siapa yang menikah,
siapa yang bercerai, dan siapa yang membeli motor baru.
Kopi yang sama.
Kursi yang sama.
Meja yang sama.
Tetapi hasil akhirnya bisa berbeda sejauh jarak antara ilmuwan dan tukang gosip.
Dalam tradisi Islam, manusia memang dianjurkan memilih
lingkungan yang baik.
Karena manusia itu makhluk yang mudah meniru.
Ia lebih mirip spons daripada batu.
Apa yang sering berada di sekitarnya perlahan akan meresap
ke dalam dirinya.
Jika setiap hari bergaul dengan orang yang suka belajar,
lama-lama ia ikut belajar.
Jika setiap hari bergaul dengan orang yang suka mengeluh,
lama-lama ia mengeluh bahkan ketika tidak ada masalah.
Jika setiap hari bergaul dengan orang yang gemar menyalahkan
dunia, suatu saat ia akan menyalahkan cuaca ketika lupa bangun pagi.
Lingkungan bekerja diam-diam.
Ia seperti aroma dapur.
Kita mungkin tidak menyadarinya, tetapi setelah beberapa saat pakaian kita ikut berbau masakan.
Mungkin itulah pesan terpenting dari metafora biji tersebut.
Bukan soal menjadi manusia super dengan otot kawat dan
tulang besi.
Bukan pula soal menjadi pertapa yang anti-sosial.
Melainkan tentang keberanian memilih tanah yang tepat untuk
bertumbuh.
Karena nasib sebuah biji sering kali ditentukan bukan oleh
seberapa hebat dirinya, melainkan oleh tempat ia ditanam.
Dan dalam kehidupan modern, "tanah" itu bisa
berupa teman, komunitas, buku yang dibaca, video yang ditonton, atau bahkan
grup WhatsApp yang setiap hari memenuhi kepala kita.
Maka sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
"Saya ini sedang ditanam di tanah yang subur, atau
cuma sedang nongkrong di permukaan sambil menunggu ayam lewat?"
Sebab tidak semua yang terlihat itu bertumbuh.
Dan tidak semua yang tersembunyi itu gagal.
Akar pohon yang paling kokoh justru bekerja dalam diam, jauh
di bawah permukaan, sebelum akhirnya menghadirkan keteduhan bagi banyak orang.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.