Minggu, 14 Juni 2026

Biji, Ayam, dan Grup WhatsApp: Sebuah Renungan tentang Pergaulan dan Nasib Manusia

Ada sebuah pertanyaan yang jarang diajukan para filsuf, tetapi diam-diam menentukan nasib peradaban:

Mengapa ada orang yang hidupnya tumbuh seperti pohon jati, sementara yang lain tumbuh seperti kecambah yang baru muncul sudah dimakan ayam?

Jawabannya ternyata tidak selalu serumit teori ekonomi, psikologi, atau geopolitik. Kadang jawabannya sesederhana: ia ditanam di mana.

Sebuah nasihat menggunakan metafora yang sangat membumi. Manusia diibaratkan seperti biji. Ada biji yang ditanam dalam-dalam di tanah, ada pula yang cuma diletakkan di permukaan.

Nasib keduanya berbeda.

Biji yang ditanam dalam tanah memang mengalami masa-masa sulit. Ia harus bergelut dengan kegelapan, kelembapan, dan tekanan. Dari luar, hidupnya tampak tidak menarik. Tidak ada yang memuji. Tidak ada yang memberi "like". Tidak ada yang mengomentari perjuangannya.

Tetapi justru di sanalah akar tumbuh.

Sebaliknya, biji yang nongkrong di permukaan tanah terlihat lebih eksis. Semua orang bisa melihatnya. Ia mendapat sinar matahari lebih dulu. Ia merasa terkenal.

Sayangnya, ayam juga bisa melihatnya lebih dulu.

Tikus juga.

Semut juga.

Pendek kata, seluruh makhluk yang sedang mencari camilan melihatnya sebagai peluang investasi.

Biji itu belum sempat menjadi pohon. Ia sudah lebih dulu menjadi sarapan.

Metafora ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang pertanian. Ia berbicara tentang kehidupan modern.

Hari ini banyak orang hidup seperti biji di permukaan tanah. Mereka selalu terlihat, tetapi jarang bertumbuh.

Pagi membuka media sosial.

Siang membuka media sosial.

Malam membuka media sosial sambil mengeluh bahwa hidup tidak berkembang.

Sehari-hari mereka sibuk mengikuti gosip artis yang bahkan tidak tahu keberadaan mereka. Mereka hafal konflik para selebritas, tetapi lupa konflik antara dirinya dengan kemalasan.

Mereka tahu siapa yang putus cinta minggu ini, tetapi tidak tahu mengapa cita-citanya putus di tengah jalan.

Mereka seperti penonton sepak bola yang sangat ahli menganalisis pertandingan, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri belum pernah turun ke lapangan.

Akibatnya, energi habis untuk mengomentari kehidupan orang lain, sementara kehidupannya sendiri dibiarkan berjalan tanpa sopir.

Nasihat  itu kemudian menawarkan alternatif yang sangat Jawa.

Jadilah manusia yang ditempa seperti Satrio Piningit.

Bukan manusia yang kerjanya hanya nongkrong dari warung kopi ke warung kopi seperti satelit yang kehilangan orbit.

Dalam dunia pewayangan, para ksatria besar tidak lahir dari rebahan. Mereka lahir dari tempaan.

Mereka masuk Kawah Candradimuka.

Kalau diterjemahkan ke bahasa modern, Kawah Candradimuka mungkin mirip kombinasi antara pesantren, perpustakaan, ruang latihan, dan tempat di mana sinyal Wi-Fi sengaja dibuat lemah agar orang tidak tergoda membuka video kucing selama empat jam.

Di sanalah manusia ditempa.

Besi menjadi pedang bukan karena sering dipuji, tetapi karena sering dipukul.

Otot menjadi kuat bukan karena sering difoto, tetapi karena sering digunakan.

Iman menjadi kokoh bukan karena sering dipamerkan, tetapi karena sering diuji.

Tentu saja, kita tidak boleh memahami nasihat ini secara terlalu harfiah.

Kalau semua orang meninggalkan pergaulan, lalu masuk gunung untuk bertapa, siapa yang akan mengurus pasar?

Siapa yang mengajar sekolah?

Siapa yang membayar pajak?

Dan yang lebih penting, siapa yang akan menjadi pelanggan penjual gorengan?

Masalahnya bukan pada pergaulan itu sendiri.

Masalahnya adalah kualitas pergaulan.

Warung kopi bisa menjadi universitas mini jika yang dibahas adalah gagasan.

Tetapi warung kopi juga bisa berubah menjadi pusat produksi kesia-siaan jika yang dibahas selama tiga jam hanyalah siapa yang menikah, siapa yang bercerai, dan siapa yang membeli motor baru.

Kopi yang sama.

Kursi yang sama.

Meja yang sama.

Tetapi hasil akhirnya bisa berbeda sejauh jarak antara ilmuwan dan tukang gosip.

Dalam tradisi Islam, manusia memang dianjurkan memilih lingkungan yang baik.

Karena manusia itu makhluk yang mudah meniru.

Ia lebih mirip spons daripada batu.

Apa yang sering berada di sekitarnya perlahan akan meresap ke dalam dirinya.

Jika setiap hari bergaul dengan orang yang suka belajar, lama-lama ia ikut belajar.

Jika setiap hari bergaul dengan orang yang suka mengeluh, lama-lama ia mengeluh bahkan ketika tidak ada masalah.

Jika setiap hari bergaul dengan orang yang gemar menyalahkan dunia, suatu saat ia akan menyalahkan cuaca ketika lupa bangun pagi.

Lingkungan bekerja diam-diam.

Ia seperti aroma dapur.

Kita mungkin tidak menyadarinya, tetapi setelah beberapa saat pakaian kita ikut berbau masakan.

Mungkin itulah pesan terpenting dari metafora biji tersebut.

Bukan soal menjadi manusia super dengan otot kawat dan tulang besi.

Bukan pula soal menjadi pertapa yang anti-sosial.

Melainkan tentang keberanian memilih tanah yang tepat untuk bertumbuh.

Karena nasib sebuah biji sering kali ditentukan bukan oleh seberapa hebat dirinya, melainkan oleh tempat ia ditanam.

Dan dalam kehidupan modern, "tanah" itu bisa berupa teman, komunitas, buku yang dibaca, video yang ditonton, atau bahkan grup WhatsApp yang setiap hari memenuhi kepala kita.

Maka sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

"Saya ini sedang ditanam di tanah yang subur, atau cuma sedang nongkrong di permukaan sambil menunggu ayam lewat?"

Sebab tidak semua yang terlihat itu bertumbuh.

Dan tidak semua yang tersembunyi itu gagal.

Akar pohon yang paling kokoh justru bekerja dalam diam, jauh di bawah permukaan, sebelum akhirnya menghadirkan keteduhan bagi banyak orang.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.