Di zaman sekarang, menjadi manusia ternyata lebih rumit daripada menjadi mie instan. Mie instan cukup punya kemasan menarik, foto ayam yang menggoda, dan janji rasa yang tidak selalu bisa dipertanggungjawabkan. Manusia modern? Ia harus tampak sukses, tampak bahagia, tampak produktif, tampak spiritual, tampak sehat, tampak romantis, dan kalau bisa tampak tampan meskipun sedang cicilan motor.
Karena itulah sebuah kutipan yang konon berasal dari Anthony
Hopkins menjadi viral. Entah benar beliau yang mengucapkannya atau tidak,
tetapi seperti biasa, di internet sumber tidak terlalu penting. Yang penting
fotonya hitam-putih, wajahnya bijak, dan hurufnya memakai font yang membuat
orang merasa tercerahkan sebelum sarapan.
Isi kutipan itu sederhana: "Apa yang orang katakan
tentang saya bukan urusan saya."
Kalimat ini terdengar biasa saja sampai kita membayangkan
betapa revolusionernya jika diterapkan sungguh-sungguh. Bayangkan seseorang
mengunggah foto makan siang lalu tidak mengecek jumlah "like" selama
tiga hari. Itu bukan lagi perilaku manusia biasa. Itu sudah mendekati tingkat
kesaktian para wali.
Sebagian besar dari kita hidup seolah-olah sedang mengikuti
lomba yang jurinya tidak jelas. Kita bangun pagi dan langsung bertanya dalam
hati:
"Apa ya pendapat orang tentang saya hari ini?"
Padahal sering kali orang lain terlalu sibuk memikirkan
dirinya sendiri untuk sempat memikirkan kita. Ironisnya, kita menghabiskan
energi memikirkan apa yang dipikirkan orang yang sebenarnya tidak sedang
memikirkan kita.
Inilah yang mungkin ingin dikatakan Hopkins. Kebebasan
terbesar bukanlah memiliki mobil mewah atau rumah tiga lantai. Kebebasan
terbesar adalah tidak panik ketika ada orang yang mengetik:
"Maaf ya, tapi menurut saya..."
Karena setelah kalimat itu biasanya kebahagiaan seseorang
memasuki masa-masa kritis.
Namun bagian paling menarik dari kutipan tersebut bukanlah
soal membebaskan diri dari opini orang lain. Bagian paling menggelitik adalah
kritiknya terhadap masyarakat modern.
Katanya, kita hidup di dunia di mana pemakaman lebih penting
daripada orang yang meninggal.
Dan memang ada benarnya.
Kadang-kadang semasa hidup seseorang tidak pernah ditanya
kabarnya. Tetapi ketika meninggal, bunga yang datang jumlahnya cukup untuk
membuka toko florist baru.
Semasa hidup tidak pernah dijenguk.
Sesudah wafat, status WhatsApp penuh dengan tulisan:
"Beliau adalah sosok yang sangat berarti."
Almarhum yang melihat dari alam sana mungkin hanya bisa
bergumam,
"Kalau begitu, kenapa dulu chat saya cuma dicentang
biru?"
Lalu ada kritik bahwa pernikahan lebih penting daripada
cinta.
Ini juga fenomena yang menarik.
Ada pasangan yang menghabiskan waktu enam bulan memilih
warna serbet, tiga bulan memilih fotografer, dua bulan menentukan tema
dekorasi, tetapi hanya lima menit membahas cara menyelesaikan konflik rumah
tangga.
Akibatnya pesta berlangsung satu hari, album foto bertahan
lima tahun, dan pertengkaran soal siapa yang lupa menutup pasta gigi bertahan
seumur hidup.
Kadang-kadang yang menikah bukan dua manusia, melainkan dua
tim event organizer yang sedang bertanding.
Kemudian sampailah kita pada penyakit paling populer abad
ini: penampilan lebih penting daripada jiwa.
Media sosial telah menciptakan generasi yang bisa
menghabiskan tiga puluh menit mengatur pencahayaan untuk foto secangkir kopi,
tetapi tidak punya waktu tiga menit untuk merenungkan hidupnya.
Kita hidup dalam era ketika wajah mendapat filter, makanan
mendapat filter, kucing mendapat filter, bahkan kadang-kadang pemikiran juga
mendapat filter.
Yang asli tinggal tagihan listrik.
Anthony Hopkins—atau siapa pun penulis sebenarnya—menyebut
ini sebagai budaya kemasan yang meremehkan isi.
Dan memang begitulah keadaan kita.
Kita membeli buku karena sampulnya cantik.
Memilih calon pemimpin karena videonya sinematik.
Memilih restoran karena estetik.
Memilih tempat ngopi karena ada dinding bata ekspos yang
cocok untuk foto.
Kadang-kadang kopi rasanya seperti air bekas mencuci sendok,
tetapi tidak masalah. Yang penting latarnya industrial.
Dalam dunia seperti ini, menjadi autentik adalah tindakan
yang hampir subversif.
Mengakui bahwa kita tidak selalu bahagia adalah keberanian.
Mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya adalah
kebijaksanaan.
Dan mengunggah foto tanpa editan adalah tindakan yang
mungkin membuat algoritma menangis.
Mungkin itulah sebabnya kutipan ini begitu disukai banyak
orang. Bukan karena ia menawarkan solusi ajaib, tetapi karena ia mengingatkan
sesuatu yang sudah lama kita lupakan: hidup bukan pertunjukan bakat yang
dinilai juri tak terlihat.
Pada akhirnya, manusia tidak diukur dari kemasan profilnya,
jumlah pengikutnya, atau seberapa estetis foto sarapannya.
Yang tersisa adalah isi.
Karakter ketika tidak ada kamera.
Kejujuran ketika tidak ada tepuk tangan.
Kebaikan ketika tidak ada yang mengunggahnya ke media
sosial.
Jadi jika hari ini Anda khawatir tentang apa kata orang,
ingatlah nasihat yang konon berasal dari Anthony Hopkins itu.
Apa yang orang katakan tentang Anda bukan urusan Anda.
Kecuali kalau yang mengatakannya adalah petugas bank yang
menagih cicilan.
Nah, itu memang urusan Anda.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.