Ada sebuah ironi yang menarik dalam kehidupan manusia: kita ingin bertumbuh, tetapi takut berubah. Kita ingin sukses, tetapi takut meninggalkan zona nyaman. Kita ingin menemukan makna hidup, tetapi panik ketika hidup mulai mengubah arah.
Kita mirip seseorang yang memesan tiket pesawat jauh-jauh
hari, lalu ketika pesawat benar-benar datang, ia bersembunyi di toilet bandara
sambil berkata, "Saya belum siap terbang."
Khalil Gibran memahami keanehan ini dengan sangat baik.
Melalui kisah sederhana tentang sungai yang hendak bertemu lautan, ia
menyodorkan sebuah cermin yang membuat kita tersenyum sekaligus merenung.
Bayangkan sebuah sungai tua yang telah berkelana sejak masa
kecilnya sebagai mata air mungil di pegunungan. Ia telah melewati hutan, sawah,
desa, kota, jembatan, bahkan mungkin beberapa sandal jepit yang hanyut tanpa
izin.
Perjalanannya panjang dan penuh pengalaman.
Sungai itu punya identitas.
Ia tahu setiap tikungan tubuhnya.
Ia bangga pada gemericiknya.
Ia hafal batu-batu yang pernah menghalangi jalannya.
Pendek kata, sungai itu sudah sangat nyaman menjadi dirinya
sendiri.
Lalu suatu hari ia melihat sesuatu yang mengerikan.
Lautan.
Hamparan air tak berujung.
Tak ada pagar.
Tak ada papan petunjuk.
Tak ada tulisan "Selamat Datang di Samudra, Silakan
Ambil Nomor Antrean."
Hanya keluasan yang membuatnya gugup.
Dan sungai itu mulai berpikir seperti manusia modern.
"Kalau aku masuk ke sana, aku hilang."
"Aku tidak akan menjadi diriku lagi."
"Bagaimana dengan identitasku?"
"Bagaimana dengan seluruh perjalanan hidupku?"
Jika sungai memiliki media sosial, mungkin saat itu ia
sedang menulis status panjang:
"Sedang mengalami krisis eksistensial. Mohon
doa."
Masalahnya, sebagaimana kehidupan, sungai tidak memiliki
tombol mundur.
Ia tidak bisa berkata:
"Maaf, saya ingin kembali menjadi mata air saja."
Air tidak mengenal fitur undo.
Hidup juga tidak.
Kita semua sesungguhnya pernah menjadi sungai itu.
Saat lulus sekolah.
Saat menikah.
Saat pindah pekerjaan.
Saat menjadi orang tua.
Saat anak-anak mulai dewasa.
Saat rambut yang dulu hitam mulai berunding diam-diam dengan
warna putih.
Pada setiap fase, kita berdiri di tepi lautan yang baru.
Dan hampir selalu kita mengira perubahan adalah kematian
kecil.
Padahal sering kali ia adalah kelahiran besar.
Lucunya, manusia memiliki bakat luar biasa dalam
membayangkan bencana yang belum tentu terjadi.
Ketika akan memulai usaha, kita membayangkan kebangkrutan.
Ketika jatuh cinta, kita membayangkan patah hati.
Ketika presentasi, kita membayangkan seluruh ruangan
menertawakan kita.
Ketika batuk tiga kali, sebagian orang sudah membayangkan
wasiat.
Pikiran kita kadang seperti satpam yang terlalu rajin.
Semua orang dicurigai.
Semua kemungkinan dianggap ancaman.
Termasuk masa depan.
Karena itu bagian paling indah dari kisah Gibran muncul
ketika sungai akhirnya menyerah pada arus dan memasuki lautan.
Ternyata yang terjadi tidak seperti yang ia takutkan.
Ia memang kehilangan bentuk lamanya.
Tetapi ia tidak kehilangan dirinya.
Ia tidak musnah.
Ia menjadi lebih luas.
Yang hilang hanyalah batas-batas sempit yang selama ini ia
kira sebagai dirinya.
Ini adalah pelajaran yang juga diajarkan banyak tradisi
spiritual.
Dalam tasawuf, para sufi berbicara tentang fana.
Bagi orang yang baru mendengarnya, istilah itu terdengar
menakutkan, seolah-olah seseorang akan lenyap seperti file yang dihapus
permanen dari komputer.
Padahal maknanya jauh lebih indah.
Yang lenyap bukan hakikat diri, melainkan kesombongan diri.
Yang hilang bukan keberadaan, melainkan ilusi bahwa kita
berdiri sendiri.
Ibarat setetes air yang ketakutan masuk ke laut karena
merasa akan mati, padahal justru di sanalah ia menemukan keluasan yang selama
ini tidak pernah dibayangkannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering salah mengira
pegangan sebagai tujuan.
Seperti anak kecil yang menangis ketika balonnya dilepaskan,
padahal di atas sana balon itu sedang menikmati pemandangan yang jauh lebih
luas.
Atau seperti ulat yang mungkin menganggap kepompong sebagai
akhir dunia, tanpa mengetahui bahwa beberapa hari lagi ia akan memiliki sayap.
Bayangkan jika ulat bisa berbicara.
Mungkin ia akan protes:
"Transformasi ini tidak sesuai harapan saya."
Untunglah alam tidak terlalu sering meminta persetujuan dari
kita.
Karena jika semua perubahan harus lolos rapat terlebih
dahulu, kemungkinan besar kupu-kupu tidak akan pernah ada.
Begitu pula manusia.
Sebagian kebahagiaan terbesar dalam hidup lahir dari
keputusan-keputusan yang awalnya menakutkan.
Sebagian kebijaksanaan lahir dari kehilangan.
Sebagian kedewasaan lahir dari ketidakpastian.
Dan sebagian kedekatan kepada Tuhan lahir ketika kita
akhirnya berhenti berusaha mengendalikan segala sesuatu.
Mungkin itulah sebabnya lautan dalam kisah Gibran tidak
pernah memaksa sungai.
Ia hanya menunggu.
Diam.
Luas.
Sabar.
Sebagaimana kehidupan menunggu kita berhenti berdebat dengan
perubahan.
Pada akhirnya, keberanian bukanlah keadaan tanpa rasa takut.
Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah sambil
membawa ketakutan itu bersama kita.
Sungai yang berani bukan sungai yang tidak takut kepada
laut.
Sungai yang berani adalah sungai yang berkata:
"Aku takut. Tetapi aku tetap mengalir."
Dan mungkin itulah pesan terbesar Khalil Gibran.
Bahwa banyak hal yang kita sebut akhir ternyata hanyalah
pintu yang terlalu besar untuk dikenali sebagai awal.
Maka jika hari ini Anda sedang berdiri di tepi muara
kehidupan—entah itu pekerjaan baru, hubungan baru, fase baru, atau bahkan
pemahaman baru tentang diri sendiri—ingatlah nasihat sang sungai.
Jangan terlalu khawatir kehilangan dirimu.
Bisa jadi yang akan hilang hanyalah batas-batas kecil yang
selama ini mengurungmu.
Sebab sering kali, setelah kita melompat, kita baru
menyadari bahwa lautan yang kita takuti selama ini ternyata adalah rumah yang
lebih luas.
Dan siapa tahu, di sana Tuhan sedang tersenyum melihat kita
panik selama bertahun-tahun hanya karena takut menjadi samudra.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.