Ketika Gelar Akademik Disangka Bukti Kebijaksanaan
Ada sebuah keyakinan yang begitu kuat hidup di masyarakat
sehingga ia nyaris menyerupai hukum gravitasi: semakin panjang gelar seseorang,
semakin berat pula bobot pikirannya.
Maka lahirlah makhluk-makhluk sosial yang percaya bahwa
huruf-huruf di belakang nama bekerja seperti cheat code dalam permainan
kehidupan. S.H., M.H., M.M., M.T., Ph.D., dan berbagai alfabet lainnya dianggap
semacam jimat intelektual yang otomatis membuat pemiliknya kebal dari
kebodohan.
Masalahnya, kehidupan memiliki selera humor yang luar biasa.
Sesekali kita bertemu seseorang dengan gelar setinggi menara
BTS, tetapi ketika diminta berpikir di luar buku panduan, ia mendadak seperti
GPS yang kehilangan sinyal di tengah sawah. Sebaliknya, ada pula tukang servis
elektronik yang tidak pernah menulis tesis, tetapi mampu memecahkan masalah
lebih cepat daripada rapat tiga jam yang menghasilkan tujuh notulen dan nol
keputusan.
Di sinilah kutipan Richard Feynman terasa seperti tamparan
yang dibungkus senyum:
"Jangan pernah samakan pendidikan dengan kecerdasan;
kamu bisa memiliki doktor dan tetap menjadi idiot."
Kalimat itu terdengar kasar. Namun kadang kebenaran memang datang seperti sambal: pedas, tetapi membuat kita sadar bahwa makanan yang kita santap selama ini terlalu hambar.
Universitas dan Pabrik Stempel Kehormatan
Mari kita bayangkan universitas sebagai sebuah pabrik.
Bukan pabrik mobil atau pabrik sepatu, melainkan pabrik
stempel.
Bahan bakunya adalah anak muda berusia delapan belas tahun
yang masih bingung menentukan masa depan. Mereka masuk melalui gerbang besar
sambil membawa harapan orang tua, tabungan keluarga, dan kadang-kadang cicilan
yang lebih panjang daripada kisah cinta mereka.
Empat tahun kemudian mereka keluar dengan sebuah stempel
resmi bernama ijazah.
Stempel itu sangat penting.
Perusahaan menyukainya.
Instansi pemerintah memintanya.
Tetangga menghormatinya.
Keluarga memamerkannya di ruang tamu.
Hanya satu pertanyaan kecil yang sering terlupakan:
Apakah stempel itu benar-benar menjamin bahwa pemiliknya
mampu berpikir?
Di sinilah letak kejenakaan terbesar sistem pendidikan
modern.
Kita sering memperlakukan ijazah seperti sertifikat bahwa seseorang telah memahami kehidupan, padahal yang dibuktikan sering kali hanyalah kemampuan bertahan menghadapi tugas kelompok, dosen yang sulit dihubungi, dan printer yang selalu rusak menjelang tenggat waktu.
Kecerdasan Tidak Tinggal di Dalam Map Wisuda
Ada kesalahpahaman yang sudah lama bercokol di kepala kita.
Kita mengira kecerdasan adalah barang yang dapat dipindahkan
dari dosen ke mahasiswa seperti file PDF melalui Bluetooth.
Padahal kecerdasan lebih mirip otot daripada dokumen.
Ia tumbuh karena digunakan.
Ia menguat karena diuji.
Ia berkembang karena dipaksa menghadapi masalah yang tidak
memiliki jawaban di halaman belakang buku.
Seseorang bisa menghafal seluruh definisi kepemimpinan,
tetapi panik ketika harus memimpin lima orang.
Seseorang bisa menguasai teori komunikasi, tetapi gagal
menjelaskan sesuatu kepada ibunya sendiri.
Seseorang bisa lulus dengan predikat cum laude, tetapi tetap
tertipu investasi bodong yang menjanjikan keuntungan 500 persen per minggu.
Realitas tidak pernah bertanya IPK kita.
Kehidupan tidak pernah meminta fotokopi transkrip nilai
sebelum memberikan masalah.
Ketika krisis datang, dunia tidak peduli berapa banyak seminar yang pernah kita hadiri. Yang diuji adalah kemampuan membaca situasi, beradaptasi, dan mengambil keputusan.
Penyakit Bernama Gengsi Gelar
Di Indonesia, gelar sering memiliki fungsi yang lebih luas
daripada pendidikan.
Ia adalah aksesori sosial.
Sebagian orang mengoleksinya seperti kolektor perangko.
Sarjana satu.
Magister satu.
Doktor satu.
Kalau memungkinkan, tambah lagi beberapa singkatan agar
kartu nama tampak seperti paragraf.
Kadang kita tidak sedang mengejar ilmu.
Kita sedang mengejar efek psikologis ketika nama kita
dipanggil lengkap dalam sebuah acara.
Ada kenikmatan tertentu saat moderator membutuhkan waktu
lebih lama menyebut gelar daripada memperkenalkan isi pembicaraan.
Akibatnya, pendidikan sering berubah menjadi perlombaan
kosmetik intelektual.
Yang dipoles bukan pikiran, melainkan penampilan akademik.
Yang dikejar bukan pemahaman, melainkan pengakuan.
Padahal buku tidak pernah peduli siapa yang membacanya.
Kebenaran juga tidak tunduk kepada gelar.
Api tetap panas meskipun disentuh profesor.
Dan gravitasi tetap bekerja meskipun yang jatuh adalah seorang doktor.
Namun Jangan Terlalu Cepat Membakar Kampus
Di titik ini biasanya muncul kelompok revolusioner yang
berteriak:
"Kalau begitu universitas tidak berguna!"
Tunggu dulu.
Kesimpulan itu sama tergesa-gesanya dengan orang yang
menganggap semua dokter buruk hanya karena pernah salah diagnosis.
Universitas tetap memiliki fungsi penting.
Ia menyediakan fondasi pengetahuan.
Ia mempertemukan orang-orang yang berpikir.
Ia membuka akses terhadap penelitian, laboratorium, jaringan
profesional, dan kesempatan yang sulit diperoleh sendirian.
Masalahnya bukan keberadaan universitas.
Masalahnya adalah ketika universitas dijadikan tujuan akhir.
Kampus seharusnya menjadi pelabuhan, bukan tempat pensiun.
Ia adalah titik keberangkatan untuk berpikir, bukan titik
akhir untuk berhenti berpikir.
Ijazah adalah tiket naik kereta, bukan jaminan bahwa perjalanan akan menyenangkan.
Menyatukan Buku dan Kehidupan
Barangkali kesalahan terbesar kita adalah memaksa memilih
antara pendidikan formal dan pengalaman nyata.
Padahal keduanya seperti dua kaki.
Dengan satu kaki kita bisa berdiri.
Dengan dua kaki kita bisa berjalan.
Pendidikan tanpa pengalaman melahirkan menara gading yang
tinggi tetapi rapuh.
Pengalaman tanpa pengetahuan sering melahirkan keberanian
yang besar tetapi salah arah.
Kecerdasan sejati lahir ketika keduanya bertemu.
Ketika teori turun dari podium dan masuk ke pasar.
Ketika buku bertemu kenyataan.
Ketika pengetahuan bersedia diuji oleh kehidupan.
Nilai Seseorang Tidak Bisa Dilaminating
Pada akhirnya, masalahnya bukan pada ijazah.
Masalahnya adalah ketika kita menganggap ijazah sebagai
pengganti berpikir.
Selembar kertas dapat menunjukkan bahwa seseorang pernah
belajar.
Tetapi ia tidak dapat membuktikan bahwa seseorang terus
belajar.
Ia dapat menunjukkan bahwa seseorang pernah lulus ujian.
Tetapi tidak dapat menjamin bahwa ia lulus ujian kehidupan.
Mungkin karena itulah kecerdasan sejati selalu sedikit sulit
difoto dan sulit dibingkai.
Ia tidak tinggal di dalam map wisuda.
Ia tinggal dalam rasa ingin tahu yang tidak pernah pensiun,
dalam keberanian mengakui kesalahan, dan dalam kemampuan mempertanyakan
jawaban-jawaban yang terlalu nyaman.
Dan kalau suatu hari kita bertemu seseorang dengan gelar
sangat panjang tetapi pemikirannya sangat pendek, jangan terlalu heran.
Richard Feynman sudah memberi peringatan sejak lama.
Ternyata kebodohan memang cukup cerdas untuk ikut wisuda.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.