Ramadhan sering membuat manusia melakukan hal-hal yang biasanya tidak dilakukan. Ada yang tiba-tiba rajin ke masjid, ada yang mendadak akrab dengan Al-Qur'an, dan ada pula yang baru sadar bahwa kulkas ternyata lebih sering dibuka daripada kitab tafsir.
Di tengah suasana itulah, kajian tentang Nurul Yaqin
dan Ilusi Hijab dari Al-Hikam Ibn Atha'illah terasa seperti tukang
servis yang datang untuk memperbaiki bukan televisi, melainkan cara pandang
kita terhadap kenyataan.
Masalahnya memang bukan pada dunia.
Masalahnya sering kali ada pada "kacamata" yang
kita pakai untuk melihat dunia.
Dunia yang Terlihat Terlalu Penting
Manusia modern hidup di zaman yang aneh.
Kita bisa melihat foto Mars dengan resolusi tinggi, tetapi
tidak tahu mengapa hati kita gelisah.
Kita bisa melacak paket kiriman dari gudang sampai depan
rumah, tetapi tidak tahu ke mana arah hidup kita sendiri.
Kita bisa mengetahui posisi ojek online secara real-time,
tetapi tidak mengetahui posisi diri kita di hadapan Allah.
Inilah yang oleh para sufi disebut sebagai masalah
perspektif.
Ketika Nurul Yaqin belum menyala, dunia terlihat
seperti pusat segalanya. Jabatan menjadi gunung Everest. Rekening bank terasa
seperti kitab suci kedua. Notifikasi media sosial terdengar seperti wahyu yang
harus segera dijawab.
Padahal menurut Ibn Atha'illah, saat cahaya keyakinan mulai
bersinar, pemandangannya berubah total.
Dunia yang sebelumnya tampak seperti istana megah tiba-tiba
terlihat seperti panggung sandiwara yang sedang dibongkar setelah pertunjukan
selesai.
Lampunya masih menyala.
Spanduknya masih berdiri.
Penontonnya masih ramai.
Tetapi orang yang memiliki Nurul Yaqin tahu bahwa
semua itu sebentar lagi akan dilipat dan dimasukkan ke gudang.
Bukan berarti dunia dibenci.
Bukan berarti rumah harus dijual lalu pindah ke gua.
Bukan berarti laptop harus dibuang ke sungai.
Justru sebaliknya.
Dunia tetap dipakai, tetapi tidak dipuja.
Seperti naik perahu untuk menyeberang sungai. Orang waras
akan menggunakan perahu dengan baik. Tetapi hanya orang aneh yang setelah
sampai di seberang kemudian memeluk perahu sambil berkata, "Aku tidak akan
meninggalkanmu selamanya."
Hijab yang Tidak Ada
Hikmah berikutnya bahkan lebih mengejutkan.
Ibn Atha'illah mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada makhluk
yang bisa menghijab manusia dari Allah.
Kalimat ini mirip teka-teki.
Kalau begitu kenapa banyak orang merasa jauh dari Allah?
Jawabannya sederhana sekaligus rumit.
Karena yang menghalangi bukan tembok.
Yang menghalangi adalah imajinasi.
Bayangkan seseorang kehilangan kacamata.
Ia panik.
Ia mencari ke seluruh rumah.
Ia membongkar lemari.
Ia menggeser sofa.
Ia menuduh anaknya menyembunyikan kacamata.
Setelah dua jam pencarian, istrinya berkata,
"Itu kacamata masih menempel di kepalamu."
Begitulah kira-kira hubungan manusia dengan Allah.
Allah tidak jauh.
Yang jauh adalah kesadaran kita.
Allah tidak tersembunyi.
Yang tertutup adalah perhatian kita.
Allah tidak menghilang.
Yang menghilang adalah kemampuan kita untuk melihat-Nya.
Para sufi menyebut keadaan ini sebagai tawahum—ilusi.
Kita membayangkan bahwa ada banyak hal yang berdiri sendiri.
Kita merasa uanglah yang memberi keamanan.
Kita merasa jabatanlah yang memberi kemuliaan.
Kita merasa teknologi lah yang memberi kekuatan.
Padahal semuanya hanyalah kabel.
Arus listriknya tetap berasal dari sumber yang sama.
Orang yang terjebak ilusi sibuk mengagumi kabel sambil
melupakan pembangkit listriknya.
WiFi Allah dan Manusia Mode Pesawat
Jika konsep ini diterjemahkan ke dalam bahasa abad ke-21,
mungkin para sufi akan menggunakan analogi WiFi.
Allah selalu memancarkan "sinyal".
Tidak pernah mati.
Tidak pernah gangguan.
Tidak pernah kehabisan kuota.
Tidak pernah meminta isi ulang paket data.
Masalahnya ada pada penerima.
Sebagian manusia hidup dalam mode pesawat.
Sebagian lagi sinyalnya tertutup beton ego.
Sebagian lagi terlalu sibuk mengunduh urusan dunia sampai
lupa menyambungkan diri kepada sumber utama.
Lalu ketika hidup terasa kosong, mereka menyalahkan keadaan.
Padahal yang perlu dilakukan hanyalah menyambungkan kembali
hati kepada pusat jaringan.
Dalam bahasa tasawuf, itulah khudur ma'Allah—hadir
bersama Allah.
Kritik untuk Zaman yang Gemerlap
Yang menarik, ajaran ini bukan sekadar urusan sajadah dan
tasbih.
Ia juga merupakan kritik sosial yang sangat tajam.
Kita hidup di era yang memuja pertumbuhan.
Semua harus bertambah.
Pendapatan bertambah.
Pengikut bertambah.
Bangunan bertambah.
Produksi bertambah.
Tetapi jarang ada yang bertanya:
"Apakah kebijaksanaan juga bertambah?"
Manusia hari ini seperti anak kecil yang berhasil
memperbesar ukuran mainannya tetapi lupa memperbesar kedewasaannya.
Teknologi berkembang luar biasa.
Namun perang juga semakin canggih.
Ilmu berkembang pesat.
Namun keserakahan ikut naik kelas.
Kita berhasil membuat mesin yang mampu berpikir, tetapi
belum berhasil membuat manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Karena itu Al-Hikam mengingatkan bahwa peradaban tanpa
orientasi ilahi ibarat mobil sport tanpa rem.
Mengesankan.
Cepat.
Mahal.
Tetapi berpotensi menabrak apa saja.
Menjadi Tukang Bangunan yang Tidak Lupa Arah Kiblat
Tasawuf tidak mengajak manusia kabur dari dunia.
Tasawuf hanya mengingatkan agar dunia tidak menjadi majikan.
Bangunlah sekolah.
Bangunlah usaha.
Bangunlah teknologi.
Bangunlah peradaban.
Tetapi jangan sampai saat membangun gedung yang menjulang ke
langit, hati justru semakin jauh dari Pemilik Langit.
Karena pada akhirnya, dunia bukan tujuan wisata.
Ia hanyalah terminal transit.
Tidak ada orang waras yang jatuh cinta kepada ruang tunggu
bandara lalu memutuskan tinggal di sana selamanya.
Debu di Cermin
Mungkin hijab terbesar bukan setan.
Bukan dunia.
Bukan harta.
Bukan pula teknologi.
Mungkin hijab terbesar adalah debu tipis yang menempel pada
cermin hati.
Debu itu bernama ego.
Bernama kesombongan.
Bernama perasaan bahwa kita bisa berdiri sendiri tanpa
Allah.
Padahal seluruh hidup kita, dari tarikan napas pertama
sampai detik terakhir, bergantung kepada-Nya.
Nurul Yaqin datang bukan untuk membuat kita membenci
dunia, melainkan untuk melihat dunia secara proporsional.
Seperti seseorang yang akhirnya sadar bahwa panggung
bukanlah rumah, kendaraan bukanlah tujuan, dan bayangan bukanlah sumber cahaya.
Ketika cahaya keyakinan itu mulai menyala, dunia tetap ada.
Gedung tetap berdiri.
Pasar tetap ramai.
Media sosial tetap berisik.
Tetapi hati tahu satu hal penting:
Di balik seluruh keramaian itu, ada Sang Realitas yang
selalu hadir, lebih dekat daripada urat leher, sementara kita selama ini hanya
sibuk memandangi dekorasi dan lupa kepada Pemilik Gedung.
Dan barangkali, itulah lelucon terbesar dalam hidup manusia.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.