Selasa, 02 Juni 2026

Membaca Novel di Zaman Excel: Sebuah Pembelaan bagi Orang-Orang yang Suka "Membuang Waktu"

Suatu hari nanti mungkin akan lahir seorang manajer yang begitu produktif sehingga ia dapat mengukur seluruh hidupnya dengan spreadsheet.

Ia bangun pagi dengan grafik efisiensi tidur, sarapan dengan tabel kalori, berangkat kerja dengan aplikasi pengukur langkah, lalu pulang membawa laporan KPI yang lebih tebal daripada kitab kuning pesantren.

Namun ada satu masalah kecil.

Ia bisa menghitung pertumbuhan perusahaan sampai tiga digit di belakang koma, tetapi tidak tahu mengapa istrinya sedang murung.

Ia bisa membaca tren pasar Asia Tenggara, tetapi gagal membaca wajah anaknya sendiri.

Ia memahami perilaku konsumen, tetapi bingung menghadapi perilaku manusia.

Di sinilah Bernard Pivot tertawa pelan.

Menurut jurnalis dan pecinta sastra Prancis itu, manusia modern sedang terjangkit penyakit aneh: alergi terhadap hal-hal yang dianggap tidak berguna. Buku harus produktif. Bacaan harus menghasilkan uang. Waktu harus memberi keuntungan. Bahkan secangkir kopi pun kini dituntut memiliki manfaat antioksidan sebelum diizinkan masuk ke lambung.

Novel?

"Untuk apa?"

Puisi?

"Tidak ada ROI-nya."

Cerpen?

"Tidak bisa dipakai presentasi."

Maka lahirlah generasi manusia yang membaca seratus buku bisnis tetapi panik ketika berhadapan dengan satu mertua.

Padahal hidup, sayangnya, lebih mirip novel daripada laporan keuangan.

Mengapa Manusia Perlu Sedikit Fiksi?

Bayangkan otak manusia seperti rumah makan.

Sebagian orang hanya menyantap data.

Pagi data.

Siang data.

Malam data.

Camilannya data.

Lama-lama pikiran mereka seperti gudang beras: penuh stok tetapi tidak pernah menghasilkan aroma masakan.

Sastra bekerja berbeda.

Ia bukan sekadar memberi informasi.

Ia memberi pengalaman.

Ketika membaca Les Misérables, kita ikut menjadi Jean Valjean yang dikejar masa lalu.

Ketika membaca Dostoevsky, kita ikut mengalami perang saudara kecil di dalam kepala manusia.

Ketika membaca Pramoedya, kita diajak melihat dunia dari mata orang yang hidup di zaman yang tidak pernah kita alami.

Sastra seperti jasa penyewaan kehidupan.

Dengan harga sebuah buku, kita bisa hidup sebagai ratusan orang tanpa harus mengganti KTP.

Itulah sebabnya pembaca novel sering kali lebih mudah memahami manusia.

Mereka sudah berkali-kali menjadi miskin, kaya, jatuh cinta, dikhianati, gagal, berhasil, dan patah hati—setidaknya secara imajinatif.

Sementara sebagian orang hanya pernah menjadi dirinya sendiri selama lima puluh tahun penuh.

Bahaya Menjadi Manusia yang Terlalu Praktis

Ada sebuah ironi besar dalam peradaban modern.

Kita memiliki teknologi untuk berbicara dengan siapa saja di seluruh dunia, tetapi semakin sulit berbicara dengan tetangga.

Kita dapat mengakses jutaan informasi dalam hitungan detik, tetapi tidak sabar membaca lima halaman tanpa melihat notifikasi.

Kita tahu harga saham hari ini, tetapi lupa harga kesepian.

Kita mengetahui indeks ekonomi, tetapi tidak mengenali indeks kegelisahan dalam hati sendiri.

Manusia praktis sering menganggap sastra tidak efisien.

Memang benar.

Sastra memang tidak efisien.

Sama seperti matahari terbenam tidak efisien.

Sama seperti mendengarkan suara hujan tidak efisien.

Sama seperti memeluk ibu tidak efisien.

Namun anehnya, hal-hal yang tidak efisien itulah yang membuat hidup layak dijalani.

Kalau seluruh hidup hanya diisi oleh hal-hal yang berguna, manusia akhirnya berubah menjadi obeng.

Sangat berguna.

Tetapi tetap saja obeng.

Buku yang Baik Adalah Tukang Ganggu Profesional

Keistimewaan sastra bukan karena ia memberi jawaban.

Justru karena ia suka mengacaukan jawaban.

Media sosial sering bekerja seperti pelayan yang terlalu ramah.

Ia hanya menyajikan apa yang ingin kita dengar.

Jika kita suka satu pendapat, algoritma akan memberi seribu pendapat yang sama.

Akhirnya kita hidup di dalam ruang gema.

Kita berbicara dengan diri sendiri, lalu mengira sedang berdialog dengan dunia.

Novel melakukan kebalikannya.

Ia memaksa kita tinggal sementara di kepala orang lain.

Ia mengajak kita memahami tokoh yang berbeda agama, berbeda bangsa, berbeda kelas sosial, bahkan berbeda moralitas.

Sastra adalah latihan bertetangga dengan manusia yang tidak mirip kita.

Dan itu bukan pekerjaan mudah.

Kadang-kadang buku terbaik justru buku yang membuat kita kesal.

Buku yang membuat kita berkata:

"Tokoh ini menyebalkan sekali!"

Lalu lima puluh halaman kemudian kita sadar:

"Astaga, ternyata saya juga begitu."

Membaca sebagai Olahraga Jiwa

Orang pergi ke gym untuk melatih otot.

Orang membaca sastra untuk melatih kemanusiaan.

Bedanya, otot yang terbentuk tidak terlihat di cermin.

Yang bertambah bukan lingkar lengan, melainkan lingkar pengertian.

Yang membesar bukan dada, melainkan kapasitas memahami sesama.

Membaca novel tidak otomatis membuat seseorang suci.

Banyak orang pintar tetap bisa menjadi orang jahat.

Sejarah sudah membuktikannya.

Namun sastra setidaknya memberi kesempatan untuk keluar dari penjara ego.

Karena masalah terbesar manusia sering bukan kurangnya informasi.

Melainkan terlalu sempitnya imajinasi.

Kita sulit memahami orang lain karena kita tidak pernah mencoba hidup di dalam cerita mereka.

Di Tengah Dunia yang Sibuk Menggeser Layar

Hari ini kita hidup dalam peradaban jempol.

Bangun tidur menggeser layar.

Menunggu bus menggeser layar.

Sebelum tidur menggeser layar.

Kadang-kadang yang lelah bukan mata, melainkan jiwa yang tidak pernah diberi kesempatan berdiam diri.

Maka membaca buku menjadi tindakan yang hampir revolusioner.

Hanya ada dua makhluk yang bertemu:

sebuah pikiran yang menulis dan sebuah pikiran yang membaca.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada iklan.

Tidak ada suara "ting".

Hanya percakapan sunyi antara dua kesadaran manusia.

Mungkin karena itulah Bernard Pivot mengatakan bahwa membaca membuat kecerdasan sampai ke ujung jari.

Sebab saat membalik halaman, yang sebenarnya bergerak bukan hanya jari kita.

Pandangan kita tentang dunia ikut bergerak.

 Jangan Hanya Membaca Neraca

Pada akhirnya, hidup bukan sekadar proyek yang harus dioptimalkan.

Hidup adalah cerita yang harus dipahami.

Kita tentu perlu membaca laporan keuangan, buku bisnis, panduan teknologi, dan berbagai bacaan praktis lainnya.

Tetapi sesekali, duduklah bersama sebuah novel.

Biarkan diri Anda tersesat di dalam kisah orang lain.

Karena mungkin, setelah ratusan halaman, Anda tidak akan menjadi lebih kaya.

Tidak juga lebih terkenal.

Mungkin bahkan tidak lebih produktif.

Namun Anda pulang membawa sesuatu yang jauh lebih langka di abad ini:

kemampuan untuk menjadi manusia.

Dan di zaman ketika banyak orang sibuk menjadi mesin yang efisien, menjadi manusia barangkali adalah pencapaian yang paling luar biasa.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.