Senin, 08 Juni 2026

PBNU, AI, dan Durian: Ketika Organisasi Keagamaan Mulai Bermain di Liga Masa Depan

Pada zaman dahulu, orang mengenal organisasi keagamaan dari tiga hal: pengajian, kitab kuning, dan konsumsi rapat yang kadang lebih panas daripada materi diskusinya. Namun dunia berubah. Kini, ketika seseorang menyebut Nahdlatul Ulama, jangan kaget jika yang dibicarakan bukan hanya fikih wudu, tetapi juga kecerdasan buatan, energi terbarukan, ekonomi syariah, bahkan... durian.

Ya, durian.

Pada 5 Juni 2026, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima kunjungan Dewan Perniagaan Melayu Malaysia (DPMM). Jika dibaca sekilas, peristiwa ini tampak seperti kunjungan persahabatan biasa. Foto-foto berjabat tangan, senyum diplomatis, dan kalimat-kalimat yang selalu mengandung kata "sinergi", "kolaborasi", dan "penguatan kapasitas".

Namun jika diperhatikan lebih dalam, pertemuan ini sebenarnya seperti trailer film yang memberi bocoran arah cerita berikutnya: PBNU tampaknya sedang mencoba naik level dari organisasi sosial-keagamaan menjadi pemain yang ikut menentukan arah ekonomi, teknologi, dan bahkan diplomasi kawasan.

Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Buatan

Salah satu topik yang dibahas adalah pemanfaatan AI untuk pendidikan, khususnya di pesantren dan madrasah.

Bayangkan seorang santri tahun 1990-an yang harus membolak-balik kitab setebal batu bata untuk mencari satu kalimat dalam kitab tafsir. Kini muncul kemungkinan bahwa suatu hari nanti seorang santri cukup bertanya kepada AI:

"Apa pendapat Imam Nawawi tentang masalah ini?"

Lalu dalam hitungan detik jawaban muncul lengkap dengan referensi.

Tentu saja ini tidak berarti AI akan menggantikan kiai. Sama seperti kalkulator tidak menggantikan guru matematika. Yang terjadi justru sebaliknya: orang jadi makin sadar bahwa memahami jawaban jauh lebih sulit daripada sekadar menemukannya.

AI mungkin bisa menemukan dalil dalam satu detik. Tetapi memahami kapan dalil itu tepat digunakan tetap membutuhkan kebijaksanaan manusia.

Singkatnya, AI bisa menjadi santri yang rajin membaca, tetapi belum tentu santri yang paham adab.

Ekonomi Syariah: Dari Mustahiq ke Market Share

Bagian lain yang menarik adalah ambisi PBNU untuk menjadi penggerak utama ekosistem ekonomi syariah.

Ini adalah perubahan yang cukup besar.

Selama puluhan tahun NU dikenal sebagai kekuatan sosial dengan jutaan anggota dan jaringan pesantren yang luas. Namun kini PBNU tampaknya menyadari sebuah kenyataan sederhana: ceramah yang baik memang menggerakkan hati, tetapi ekonomi yang kuat membantu menjaga dapur tetap menyala.

Dalam bahasa yang lebih jenaka, umat tidak bisa hidup dari tausiyah saja. Bahkan setelah mendengarkan ceramah paling menyentuh sekalipun, seseorang tetap perlu membeli beras saat pulang.

Karena itu masuk akal jika NU mulai berbicara tentang industri halal, investasi, farmasi, energi, dan berbagai sektor ekonomi lainnya.

Ini seperti seorang kiai yang selama bertahun-tahun mengajarkan pentingnya menanam pohon, lalu suatu hari memutuskan membuka perkebunan sendiri.

Diplomasi Durian

Namun dari semua topik yang dibahas, ada satu yang paling mencuri perhatian: durian.

Banyak orang mungkin tersenyum ketika membaca kata itu.

Apa hubungan organisasi Islam terbesar di dunia dengan durian?

Jawabannya sederhana: ekonomi.

Malaysia memiliki pengalaman, teknologi, dan akses pasar yang kuat. Indonesia memiliki lahan luas dan potensi produksi yang besar. Maka lahirlah kerja sama durian.

Sebenarnya durian adalah simbol yang menarik.

Ia mengajarkan bahwa diplomasi tidak selalu harus membahas hal-hal rumit seperti konflik geopolitik, tarif perdagangan, atau perjanjian multilateral. Kadang-kadang hubungan antarbangsa bisa dimulai dari sesuatu yang baunya membuat sebagian orang lari dan sebagian lainnya jatuh cinta.

Durian mengingatkan kita bahwa ekonomi sering bergerak melalui hal-hal yang sangat konkret.

Tidak semua kerja sama harus terdengar canggih. Kadang yang dibutuhkan hanyalah buah berduri dengan aroma yang mampu mengusir nyamuk dalam radius beberapa meter.

Gus Yahya dan Politik Jendela

Jika diperhatikan, seluruh pertemuan ini mencerminkan gaya kepemimpinan Gus Yahya yang relatif berbeda.

Jika sebagian organisasi sibuk memperkuat tembok, PBNU saat ini tampaknya lebih sibuk membuka jendela.

Mereka berbicara dengan berbagai pihak, menjalin hubungan internasional, membangun jejaring ekonomi, dan mencoba menempatkan NU dalam percakapan global.

Pendekatan ini mengingatkan pada filosofi rumah tradisional Nusantara.

Rumah yang sehat bukan rumah yang seluruh pintunya tertutup rapat. Rumah yang sehat adalah rumah yang cukup kokoh menjaga identitasnya, tetapi cukup terbuka untuk menerima angin segar dari luar.

Terlalu tertutup membuat penghuninya pengap.

Terlalu terbuka membuat ayam tetangga ikut masuk.

Kebijaksanaan terletak pada menemukan titik tengahnya.

Tantangan yang Tidak Kecil

Tentu saja jalan menuju transformasi ini tidak bebas hambatan.

Mengelola organisasi keagamaan besar saja sudah rumit. Mengelola ekosistem ekonomi berskala nasional jauh lebih rumit lagi.

Pertanyaannya bukan apakah NU memiliki massa yang besar. Semua orang tahu jawabannya.

Pertanyaannya adalah apakah massa besar itu dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi yang efektif, profesional, dan berkelanjutan.

Lalu ada tantangan AI.

Teknologi sering kali seperti pisau dapur. Di tangan koki, ia menghasilkan makanan lezat. Di tangan anak kecil yang baru belajar bermain-main, hasilnya bisa berbeda.

Karena itu modernisasi pesantren tidak cukup hanya membeli perangkat lunak atau memasang internet cepat. Yang lebih penting adalah membangun budaya berpikir kritis, etika digital, dan kemampuan menyaring informasi.

Jika tidak, AI hanya akan menjadi versi mahal dari mesin fotokopi.

Dari Penonton Menjadi Pemain

Pada akhirnya, pertemuan PBNU dan DPMM bukan sekadar berita kunjungan biasa.

Ia adalah pertanda bahwa NU sedang mencoba mendefinisikan ulang perannya di abad ke-21.

Dunia hari ini ibarat sebuah pertandingan sepak bola yang dimainkan dengan aturan baru setiap beberapa menit. Ada AI, ekonomi digital, perubahan geopolitik, dan transformasi sosial yang bergerak sangat cepat.

Dalam situasi seperti itu, PBNU tampaknya tidak ingin duduk di tribun sambil mengomentari pertandingan.

Mereka ingin turun ke lapangan.

Tentu, belum ada jaminan semua rencana akan berhasil. AI bisa gagal menjangkau pesantren terpencil. Ekonomi syariah bisa tersandung birokrasi. Diplomasi durian bisa saja berakhir hanya menjadi obrolan sambil minum kopi.

Namun sejarah selalu lebih ramah kepada mereka yang mencoba daripada mereka yang hanya mengeluh.

Dan jika suatu hari nanti ada santri yang belajar fikih menggunakan AI sambil menikmati durian hasil kerja sama Indonesia-Malaysia, mungkin kita akan tersenyum dan berkata:

"Ternyata masa depan datang bukan dengan suara gemuruh. Kadang ia datang membawa laptop di satu tangan dan durian di tangan yang lain."

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Sumber: https://nu.or.id/nasional/pbnu-terima-delegasi-dpm-malaysia-bahas-ekonomi-syariah-hingga-ai-untuk-pendidikan-2wiZz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.