Pada zaman dahulu, orang mengenal organisasi keagamaan dari tiga hal: pengajian, kitab kuning, dan konsumsi rapat yang kadang lebih panas daripada materi diskusinya. Namun dunia berubah. Kini, ketika seseorang menyebut Nahdlatul Ulama, jangan kaget jika yang dibicarakan bukan hanya fikih wudu, tetapi juga kecerdasan buatan, energi terbarukan, ekonomi syariah, bahkan... durian.
Ya, durian.
Pada 5 Juni 2026, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
menerima kunjungan Dewan Perniagaan Melayu Malaysia (DPMM). Jika dibaca
sekilas, peristiwa ini tampak seperti kunjungan persahabatan biasa. Foto-foto
berjabat tangan, senyum diplomatis, dan kalimat-kalimat yang selalu mengandung
kata "sinergi", "kolaborasi", dan "penguatan
kapasitas".
Namun jika diperhatikan lebih dalam, pertemuan ini
sebenarnya seperti trailer film yang memberi bocoran arah cerita berikutnya:
PBNU tampaknya sedang mencoba naik level dari organisasi sosial-keagamaan
menjadi pemain yang ikut menentukan arah ekonomi, teknologi, dan bahkan
diplomasi kawasan.
Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Buatan
Salah satu topik yang dibahas adalah pemanfaatan AI untuk
pendidikan, khususnya di pesantren dan madrasah.
Bayangkan seorang santri tahun 1990-an yang harus
membolak-balik kitab setebal batu bata untuk mencari satu kalimat dalam kitab
tafsir. Kini muncul kemungkinan bahwa suatu hari nanti seorang santri cukup
bertanya kepada AI:
"Apa pendapat Imam Nawawi tentang masalah ini?"
Lalu dalam hitungan detik jawaban muncul lengkap dengan
referensi.
Tentu saja ini tidak berarti AI akan menggantikan kiai. Sama
seperti kalkulator tidak menggantikan guru matematika. Yang terjadi justru
sebaliknya: orang jadi makin sadar bahwa memahami jawaban jauh lebih sulit
daripada sekadar menemukannya.
AI mungkin bisa menemukan dalil dalam satu detik. Tetapi
memahami kapan dalil itu tepat digunakan tetap membutuhkan kebijaksanaan
manusia.
Singkatnya, AI bisa menjadi santri yang rajin membaca,
tetapi belum tentu santri yang paham adab.
Ekonomi Syariah: Dari Mustahiq ke Market Share
Bagian lain yang menarik adalah ambisi PBNU untuk menjadi
penggerak utama ekosistem ekonomi syariah.
Ini adalah perubahan yang cukup besar.
Selama puluhan tahun NU dikenal sebagai kekuatan sosial
dengan jutaan anggota dan jaringan pesantren yang luas. Namun kini PBNU
tampaknya menyadari sebuah kenyataan sederhana: ceramah yang baik memang
menggerakkan hati, tetapi ekonomi yang kuat membantu menjaga dapur tetap
menyala.
Dalam bahasa yang lebih jenaka, umat tidak bisa hidup dari
tausiyah saja. Bahkan setelah mendengarkan ceramah paling menyentuh sekalipun,
seseorang tetap perlu membeli beras saat pulang.
Karena itu masuk akal jika NU mulai berbicara tentang
industri halal, investasi, farmasi, energi, dan berbagai sektor ekonomi
lainnya.
Ini seperti seorang kiai yang selama bertahun-tahun
mengajarkan pentingnya menanam pohon, lalu suatu hari memutuskan membuka
perkebunan sendiri.
Diplomasi Durian
Namun dari semua topik yang dibahas, ada satu yang paling
mencuri perhatian: durian.
Banyak orang mungkin tersenyum ketika membaca kata itu.
Apa hubungan organisasi Islam terbesar di dunia dengan
durian?
Jawabannya sederhana: ekonomi.
Malaysia memiliki pengalaman, teknologi, dan akses pasar
yang kuat. Indonesia memiliki lahan luas dan potensi produksi yang besar. Maka
lahirlah kerja sama durian.
Sebenarnya durian adalah simbol yang menarik.
Ia mengajarkan bahwa diplomasi tidak selalu harus membahas
hal-hal rumit seperti konflik geopolitik, tarif perdagangan, atau perjanjian
multilateral. Kadang-kadang hubungan antarbangsa bisa dimulai dari sesuatu yang
baunya membuat sebagian orang lari dan sebagian lainnya jatuh cinta.
Durian mengingatkan kita bahwa ekonomi sering bergerak
melalui hal-hal yang sangat konkret.
Tidak semua kerja sama harus terdengar canggih. Kadang yang
dibutuhkan hanyalah buah berduri dengan aroma yang mampu mengusir nyamuk dalam
radius beberapa meter.
Gus Yahya dan Politik Jendela
Jika diperhatikan, seluruh pertemuan ini mencerminkan gaya
kepemimpinan Gus Yahya yang relatif berbeda.
Jika sebagian organisasi sibuk memperkuat tembok, PBNU saat
ini tampaknya lebih sibuk membuka jendela.
Mereka berbicara dengan berbagai pihak, menjalin hubungan
internasional, membangun jejaring ekonomi, dan mencoba menempatkan NU dalam
percakapan global.
Pendekatan ini mengingatkan pada filosofi rumah tradisional
Nusantara.
Rumah yang sehat bukan rumah yang seluruh pintunya tertutup
rapat. Rumah yang sehat adalah rumah yang cukup kokoh menjaga identitasnya,
tetapi cukup terbuka untuk menerima angin segar dari luar.
Terlalu tertutup membuat penghuninya pengap.
Terlalu terbuka membuat ayam tetangga ikut masuk.
Kebijaksanaan terletak pada menemukan titik tengahnya.
Tantangan yang Tidak Kecil
Tentu saja jalan menuju transformasi ini tidak bebas
hambatan.
Mengelola organisasi keagamaan besar saja sudah rumit.
Mengelola ekosistem ekonomi berskala nasional jauh lebih rumit lagi.
Pertanyaannya bukan apakah NU memiliki massa yang besar.
Semua orang tahu jawabannya.
Pertanyaannya adalah apakah massa besar itu dapat diubah
menjadi kekuatan ekonomi yang efektif, profesional, dan berkelanjutan.
Lalu ada tantangan AI.
Teknologi sering kali seperti pisau dapur. Di tangan koki,
ia menghasilkan makanan lezat. Di tangan anak kecil yang baru belajar
bermain-main, hasilnya bisa berbeda.
Karena itu modernisasi pesantren tidak cukup hanya membeli
perangkat lunak atau memasang internet cepat. Yang lebih penting adalah
membangun budaya berpikir kritis, etika digital, dan kemampuan menyaring
informasi.
Jika tidak, AI hanya akan menjadi versi mahal dari mesin
fotokopi.
Dari Penonton Menjadi Pemain
Pada akhirnya, pertemuan PBNU dan DPMM bukan sekadar berita
kunjungan biasa.
Ia adalah pertanda bahwa NU sedang mencoba mendefinisikan
ulang perannya di abad ke-21.
Dunia hari ini ibarat sebuah pertandingan sepak bola yang
dimainkan dengan aturan baru setiap beberapa menit. Ada AI, ekonomi digital,
perubahan geopolitik, dan transformasi sosial yang bergerak sangat cepat.
Dalam situasi seperti itu, PBNU tampaknya tidak ingin duduk
di tribun sambil mengomentari pertandingan.
Mereka ingin turun ke lapangan.
Tentu, belum ada jaminan semua rencana akan berhasil. AI
bisa gagal menjangkau pesantren terpencil. Ekonomi syariah bisa tersandung
birokrasi. Diplomasi durian bisa saja berakhir hanya menjadi obrolan sambil
minum kopi.
Namun sejarah selalu lebih ramah kepada mereka yang mencoba
daripada mereka yang hanya mengeluh.
Dan jika suatu hari nanti ada santri yang belajar fikih
menggunakan AI sambil menikmati durian hasil kerja sama Indonesia-Malaysia,
mungkin kita akan tersenyum dan berkata:
"Ternyata masa depan datang bukan dengan suara gemuruh.
Kadang ia datang membawa laptop di satu tangan dan durian di tangan yang
lain."
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.