Ada sebuah perbedaan besar antara berjualan gorengan di depan mal dan memiliki mal itu sendiri.
Yang pertama sibuk menghitung berapa pisang yang laku hari
ini. Yang kedua sibuk menentukan siapa yang boleh membuka toko, berapa harga
sewanya, bahkan warna cat temboknya. Selama bertahun-tahun, ekonomi Indonesia
sering digambarkan berada pada posisi pertama: ramai, sibuk, penuh aktivitas,
tetapi nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh pihak lain.
Kini muncul sebuah ambisi baru: Indonesia tidak ingin lagi
sekadar menjadi pasar. Indonesia ingin menjadi pemain. Bahkan kalau
memungkinkan, menjadi wasit sekaligus pemilik stadion.
Di sinilah kisah BP Danantara dan ekspansi korporasi
nasional menjadi menarik. Ia bukan sekadar cerita tentang akuisisi perusahaan,
melainkan tentang perubahan mentalitas nasional. Dari yang semula bertanya,
"Kita bisa jual apa?" menjadi "Kita bisa memiliki apa?"
Operasi Senyap yang Tidak Terlalu Senyap
Dalam dunia spionase, operasi senyap biasanya dilakukan
tanpa diketahui siapa pun.
Dalam dunia bisnis Indonesia, operasi senyap justru
dilakukan dengan konferensi pers, rilis media, dan presentasi investor.
Ketika PT TBS Energi Utama mengakuisisi Sembcorp Environment
di Singapura, atau ketika Chandra Asri mengambil alih fasilitas raksasa Shell
di Pulau Bukom, yang berpindah tangan bukan sekadar aset. Yang berpindah adalah
posisi tawar.
Ibarat anak kos yang selama ini membeli nasi goreng setiap
malam, lalu suatu hari membeli warung nasi goreng itu sendiri.
Tiba-tiba percakapan berubah.
Dulu: "Bang, tambah kerupuk ya."
Sekarang: "Bang, mulai besok kita yang menentukan harga
kerupuk."
Akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura semakin menunjukkan
arah yang sama. Indonesia mulai bergerak dari sekadar pembeli energi menjadi
pengelola rantai pasok energi. Dari pelanggan menjadi pemilik toko.
Tentu ini bukan berarti Indonesia mendadak berubah menjadi
konglomerat global seperti dalam film-film bisnis. Tetapi setidaknya ada tanda
bahwa bangsa ini mulai belajar bermain catur, bukan sekadar menjadi bidak.
Danantara: Temasek dengan Logat Nusantara
Kemunculan BP Danantara sering dibandingkan dengan Temasek
milik Singapura.
Perbandingan ini mirip membandingkan dua orang yang
sama-sama membeli kendaraan, tetapi tujuan perjalanannya berbeda.
Temasek membeli mobil sport untuk menjelajah dunia.
Danantara membeli truk besar untuk membangun rumah.
Danantara lahir dengan misi yang lebih domestik: memperkuat
fondasi industri nasional. Ia ingin menjadi semacam "bank tenaga
dalam" bagi perusahaan-perusahaan strategis Indonesia.
Kalau ekonomi Indonesia adalah tubuh manusia, maka Danantara
berperan seperti pelatih kebugaran yang mondar-mandir sambil membawa suplemen
dan berkata:
"Angkat lagi! Industri kita masih kurang otot!"
Masalahnya, seperti semua pelatih kebugaran, hasil akhirnya
bergantung pada disiplin latihan. Membeli alat gym tidak otomatis membuat
seseorang memiliki perut six-pack. Kadang yang bertambah justru koleksi foto
alat gym di media sosial.
Tiga Pilar: Darah, Jantung, dan Tulang
Strategi industri Indonesia kini banyak bertumpu pada tiga
sektor utama: petrokimia, baterai, dan baja.
Pilihan ini sebenarnya cukup masuk akal.
Petrokimia adalah darah industri.
Tanpa petrokimia, banyak pabrik akan seperti tubuh yang
kekurangan hemoglobin: pucat, lemas, dan sulit bergerak.
Baterai adalah jantung masa depan.
Semua orang sedang berbicara tentang kendaraan listrik,
pusat data, kecerdasan buatan, dan energi hijau. Namun semua itu pada akhirnya
membutuhkan baterai. Bahkan ponsel yang dipakai untuk berdebat di media sosial
tentang masa depan energi pun membutuhkan baterai.
Sedangkan baja adalah tulang punggung.
Bangunan pencakar langit, jembatan, pelabuhan, rel kereta,
hingga pabrik modern berdiri di atas baja. Negara tanpa industri baja yang kuat
ibarat binaragawan dengan otot besar tetapi kerangka rapuh.
Mungkin terlihat tidak romantis. Tidak ada puisi cinta yang
memuji petrokimia. Tidak ada lagu pop yang didedikasikan untuk baja. Tetapi
sejarah menunjukkan bahwa negara maju biasanya dibangun oleh hal-hal
membosankan yang sangat penting.
Dari Jago Kandang Menuju Pemain Liga Champions
Selama bertahun-tahun Indonesia sering berada dalam posisi
yang unik.
Kita kaya sumber daya, tetapi nilai tambahnya sering terbang
ke luar negeri seperti burung migrasi yang tidak pernah kembali.
Kita mengekspor bahan mentah, lalu mengimpor barang jadi
dengan harga lebih mahal. Situasi ini mirip menjual tepung, telur, dan gula
kepada tetangga, lalu membeli kembali kuenya dengan harga sepuluh kali lipat.
Menyenangkan bagi pembeli kuenya.
Kurang menyenangkan bagi penjual bahan bakunya.
Karena itu, hilirisasi dan penguasaan industri hulu menjadi
mantra baru pembangunan ekonomi.
Indonesia ingin naik kelas dari pemasok bahan mentah menjadi
pemilik dapur.
Tetapi Setiap Dongeng Memiliki Naga
Sayangnya, setiap kisah besar selalu memiliki tantangan.
Dalam dongeng klasik, tantangannya adalah naga.
Dalam dunia modern, tantangannya adalah regulasi, tata
kelola, dan akuntabilitas.
Terdapat pertanyaan penting mengenai posisi Danantara yang
memiliki fleksibilitas besar dalam mengelola aset negara. Fleksibilitas memang
bagus. Mobil balap juga fleksibel.
Namun semakin cepat kendaraan melaju, semakin penting pula
remnya.
Di sinilah diskusi mengenai pengawasan publik menjadi
relevan. Sebab uang negara bukanlah uang monopoli yang bisa diulang dari kotak
permainan jika habis. Ia berasal dari keringat jutaan warga negara yang
berharap setiap rupiah bekerja sebaik mungkin.
Maka keberhasilan Danantara nantinya tidak hanya diukur dari
besarnya keuntungan, tetapi juga dari transparansi dan kepercayaan yang mampu
dibangunnya.
Indonesia Sedang Berjalan
Pada akhirnya, kisah ini bukan tentang satu lembaga atau
satu perusahaan.
Ini adalah kisah tentang perubahan cara berpikir.
Indonesia tampaknya mulai menyadari bahwa menjadi pasar
terbesar saja tidak cukup. Menjadi tempat orang datang berbelanja memang
menyenangkan, tetapi menjadi pemilik toko tentu lebih menarik.
Apakah Danantara akan menjadi mesin yang membawa Indonesia
menuju Indonesia Emas 2045?
Belum ada yang tahu.
Sejarah memiliki kebiasaan buruk: ia jarang membocorkan
akhir ceritanya.
Namun satu hal sudah terlihat. Indonesia sedang bergerak.
Mungkin langkahnya belum sempurna. Mungkin masih tersandung regulasi,
birokrasi, atau dinamika politik.
Tetapi setidaknya bangsa ini tidak lagi duduk di tribun
sambil menonton pertandingan ekonomi dunia.
Ia sudah turun ke lapangan, mengenakan seragam, dan mulai
meminta bola.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.