Senin, 22 Juni 2026

Danantara dan Mimpi Indonesia Naik Kelas: Dari Pedagang Pasar Menjadi Pemilik Mal

Ada sebuah perbedaan besar antara berjualan gorengan di depan mal dan memiliki mal itu sendiri.

Yang pertama sibuk menghitung berapa pisang yang laku hari ini. Yang kedua sibuk menentukan siapa yang boleh membuka toko, berapa harga sewanya, bahkan warna cat temboknya. Selama bertahun-tahun, ekonomi Indonesia sering digambarkan berada pada posisi pertama: ramai, sibuk, penuh aktivitas, tetapi nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh pihak lain.

Kini muncul sebuah ambisi baru: Indonesia tidak ingin lagi sekadar menjadi pasar. Indonesia ingin menjadi pemain. Bahkan kalau memungkinkan, menjadi wasit sekaligus pemilik stadion.

Di sinilah kisah BP Danantara dan ekspansi korporasi nasional menjadi menarik. Ia bukan sekadar cerita tentang akuisisi perusahaan, melainkan tentang perubahan mentalitas nasional. Dari yang semula bertanya, "Kita bisa jual apa?" menjadi "Kita bisa memiliki apa?"

Operasi Senyap yang Tidak Terlalu Senyap

Dalam dunia spionase, operasi senyap biasanya dilakukan tanpa diketahui siapa pun.

Dalam dunia bisnis Indonesia, operasi senyap justru dilakukan dengan konferensi pers, rilis media, dan presentasi investor.

Ketika PT TBS Energi Utama mengakuisisi Sembcorp Environment di Singapura, atau ketika Chandra Asri mengambil alih fasilitas raksasa Shell di Pulau Bukom, yang berpindah tangan bukan sekadar aset. Yang berpindah adalah posisi tawar.

Ibarat anak kos yang selama ini membeli nasi goreng setiap malam, lalu suatu hari membeli warung nasi goreng itu sendiri.

Tiba-tiba percakapan berubah.

Dulu: "Bang, tambah kerupuk ya."

Sekarang: "Bang, mulai besok kita yang menentukan harga kerupuk."

Akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura semakin menunjukkan arah yang sama. Indonesia mulai bergerak dari sekadar pembeli energi menjadi pengelola rantai pasok energi. Dari pelanggan menjadi pemilik toko.

Tentu ini bukan berarti Indonesia mendadak berubah menjadi konglomerat global seperti dalam film-film bisnis. Tetapi setidaknya ada tanda bahwa bangsa ini mulai belajar bermain catur, bukan sekadar menjadi bidak.

Danantara: Temasek dengan Logat Nusantara

Kemunculan BP Danantara sering dibandingkan dengan Temasek milik Singapura.

Perbandingan ini mirip membandingkan dua orang yang sama-sama membeli kendaraan, tetapi tujuan perjalanannya berbeda.

Temasek membeli mobil sport untuk menjelajah dunia.

Danantara membeli truk besar untuk membangun rumah.

Danantara lahir dengan misi yang lebih domestik: memperkuat fondasi industri nasional. Ia ingin menjadi semacam "bank tenaga dalam" bagi perusahaan-perusahaan strategis Indonesia.

Kalau ekonomi Indonesia adalah tubuh manusia, maka Danantara berperan seperti pelatih kebugaran yang mondar-mandir sambil membawa suplemen dan berkata:

"Angkat lagi! Industri kita masih kurang otot!"

Masalahnya, seperti semua pelatih kebugaran, hasil akhirnya bergantung pada disiplin latihan. Membeli alat gym tidak otomatis membuat seseorang memiliki perut six-pack. Kadang yang bertambah justru koleksi foto alat gym di media sosial.

Tiga Pilar: Darah, Jantung, dan Tulang

Strategi industri Indonesia kini banyak bertumpu pada tiga sektor utama: petrokimia, baterai, dan baja.

Pilihan ini sebenarnya cukup masuk akal.

Petrokimia adalah darah industri.

Tanpa petrokimia, banyak pabrik akan seperti tubuh yang kekurangan hemoglobin: pucat, lemas, dan sulit bergerak.

Baterai adalah jantung masa depan.

Semua orang sedang berbicara tentang kendaraan listrik, pusat data, kecerdasan buatan, dan energi hijau. Namun semua itu pada akhirnya membutuhkan baterai. Bahkan ponsel yang dipakai untuk berdebat di media sosial tentang masa depan energi pun membutuhkan baterai.

Sedangkan baja adalah tulang punggung.

Bangunan pencakar langit, jembatan, pelabuhan, rel kereta, hingga pabrik modern berdiri di atas baja. Negara tanpa industri baja yang kuat ibarat binaragawan dengan otot besar tetapi kerangka rapuh.

Mungkin terlihat tidak romantis. Tidak ada puisi cinta yang memuji petrokimia. Tidak ada lagu pop yang didedikasikan untuk baja. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa negara maju biasanya dibangun oleh hal-hal membosankan yang sangat penting.

Dari Jago Kandang Menuju Pemain Liga Champions

Selama bertahun-tahun Indonesia sering berada dalam posisi yang unik.

Kita kaya sumber daya, tetapi nilai tambahnya sering terbang ke luar negeri seperti burung migrasi yang tidak pernah kembali.

Kita mengekspor bahan mentah, lalu mengimpor barang jadi dengan harga lebih mahal. Situasi ini mirip menjual tepung, telur, dan gula kepada tetangga, lalu membeli kembali kuenya dengan harga sepuluh kali lipat.

Menyenangkan bagi pembeli kuenya.

Kurang menyenangkan bagi penjual bahan bakunya.

Karena itu, hilirisasi dan penguasaan industri hulu menjadi mantra baru pembangunan ekonomi.

Indonesia ingin naik kelas dari pemasok bahan mentah menjadi pemilik dapur.

Tetapi Setiap Dongeng Memiliki Naga

Sayangnya, setiap kisah besar selalu memiliki tantangan.

Dalam dongeng klasik, tantangannya adalah naga.

Dalam dunia modern, tantangannya adalah regulasi, tata kelola, dan akuntabilitas.

Terdapat pertanyaan penting mengenai posisi Danantara yang memiliki fleksibilitas besar dalam mengelola aset negara. Fleksibilitas memang bagus. Mobil balap juga fleksibel.

Namun semakin cepat kendaraan melaju, semakin penting pula remnya.

Di sinilah diskusi mengenai pengawasan publik menjadi relevan. Sebab uang negara bukanlah uang monopoli yang bisa diulang dari kotak permainan jika habis. Ia berasal dari keringat jutaan warga negara yang berharap setiap rupiah bekerja sebaik mungkin.

Maka keberhasilan Danantara nantinya tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari transparansi dan kepercayaan yang mampu dibangunnya.

Indonesia Sedang Berjalan

Pada akhirnya, kisah ini bukan tentang satu lembaga atau satu perusahaan.

Ini adalah kisah tentang perubahan cara berpikir.

Indonesia tampaknya mulai menyadari bahwa menjadi pasar terbesar saja tidak cukup. Menjadi tempat orang datang berbelanja memang menyenangkan, tetapi menjadi pemilik toko tentu lebih menarik.

Apakah Danantara akan menjadi mesin yang membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045?

Belum ada yang tahu.

Sejarah memiliki kebiasaan buruk: ia jarang membocorkan akhir ceritanya.

Namun satu hal sudah terlihat. Indonesia sedang bergerak. Mungkin langkahnya belum sempurna. Mungkin masih tersandung regulasi, birokrasi, atau dinamika politik.

Tetapi setidaknya bangsa ini tidak lagi duduk di tribun sambil menonton pertandingan ekonomi dunia.

Ia sudah turun ke lapangan, mengenakan seragam, dan mulai meminta bola.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.