Di zaman modern, manusia hidup di tengah dua kiblat: satu menghadap Ka'bah, satu lagi menghadap notifikasi.
Setiap pagi kita membuka mata dan bertanya, "Apa kabar
dunia?" Padahal dunia tidak pernah benar-benar peduli dengan kabar kita.
Yang lebih lucu, kadang kita lebih khawatir baterai ponsel tinggal 5 persen
daripada iman yang tinggal 5 persen.
Di tengah perlombaan menjadi terkenal, kaya, viral, dan
relevan, muncul pertanyaan yang jarang masuk daftar pencarian Google:
"Bagaimana kabar hatiku hari ini?"
Pertanyaan inilah yang diam-diam menjadi inti dari ajaran
para sufi.
Sufi sejati ternyata bukan manusia yang terbang di udara,
berjalan di atas air, atau bisa menghilang saat ditagih utang. Mereka adalah
orang-orang yang berhasil melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit: mengalahkan
dirinya sendiri.
Dan ternyata, musuh terbesar manusia bukanlah tetangga yang
suka pamer, bukan pula algoritma media sosial, melainkan makhluk yang setiap
hari ikut mandi, makan, dan bercermin bersama kita: ego.
Sedekah Sebiji Kurma dan Tragedi Kamera Ponsel
Kajian tentang tanda-tanda sufi dimulai dari hadis sederhana
mengenai sedekah sebiji kurma.
Kelihatannya sepele. Sebiji kurma. Bukan vila, bukan kapal
pesiar, bukan transfer miliaran rupiah.
Tetapi Allah melipatgandakannya hingga sebesar gunung.
Di sinilah letak masalah manusia modern.
Kita hidup di era ketika sedekah sering kali lebih besar
kameranya daripada amalnya.
Dulu orang bersedekah lalu lupa.
Sekarang orang bersedekah lalu membuat dokumentasi dari tiga
sudut kamera, diberi musik haru, ditambah tulisan:
"Bukan untuk riya, hanya untuk inspirasi."
Kalimat "bukan untuk riya" kadang memiliki fungsi
yang mirip tulisan "awas licin" di lantai mal. Justru muncul karena
ada potensi besar untuk terpeleset.
Para sufi mengingatkan bahwa amal tanpa ikhlas seperti
amplop kosong. Bentuknya ada, alamatnya jelas, perangkonya lengkap, tetapi
tidak ada isi yang sampai ke tujuan.
Sufi Palsu dan Jalur Tol Menuju Surga
Fenomena menarik lainnya adalah munculnya "sufi
instan".
Mereka ingin mencapai puncak gunung spiritual tanpa mau
mendaki.
Mereka ingin menikmati buah tanpa menanam pohon.
Mereka ingin ma'rifat tanpa syariat.
Logikanya kira-kira seperti orang yang berkata:
"Saya sudah sangat memahami ilmu kesehatan, jadi saya
tidak perlu lagi makan makanan bergizi."
Atau:
"Saya sudah mengerti arti lalu lintas, jadi lampu merah
tidak berlaku bagi saya."
Anehnya, tidak ada yang percaya logika itu dalam urusan
jalan raya. Tetapi sebagian orang percaya dalam urusan agama.
Padahal para ulama tasawuf klasik justru menegaskan bahwa
semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin tunduk ia kepada syariat.
Ibarat kereta api, syariat adalah relnya. Hakikat adalah
perjalanan. Ma'rifat adalah tujuan.
Tidak ada kereta yang sampai ke stasiun dengan cara
membanggakan tujuan sambil menghina rel.
Tiga Penjahat yang Tinggal di Dalam Diri
Menurut para sufi, ada tiga gangguan utama yang harus
dibersihkan.
Pertama, pengaruh nafsu.
Nafsu itu seperti manajer pemasaran yang sangat agresif. Apa
pun dijualnya.
Lapar sedikit? Beli.
Sedih sedikit? Beli.
Senang sedikit? Beli.
Bosan sedikit? Beli lagi.
Kalau perlu, kebahagiaan pun dicicil dua puluh empat bulan
tanpa bunga.
Kedua, pengaruh makhluk.
Ini penyakit yang lebih halus.
Hidup kita sering berubah menjadi perusahaan survei.
Kita sibuk mengukur pendapat orang lain.
Kalau dipuji, terbang.
Kalau dicela, tumbang.
Padahal para sufi mengajarkan bahwa manusia yang terlalu
bergantung pada penilaian publik ibarat daun kering yang menyerahkan arah
hidupnya kepada angin.
Ketiga, pengaruh dunia.
Dunia itu seperti ruang tunggu bandara.
Masalahnya, sebagian orang jatuh cinta kepada ruang tunggu
dan lupa bahwa dirinya sedang dalam perjalanan.
Mereka menghias kursi tunggu, memperdebatkan warna dinding
ruang tunggu, bahkan bertengkar memperebutkan tempat duduk terbaik di ruang
tunggu.
Lalu lupa bahwa pesawat keberangkatan sudah dipanggil sejak
lama.
Ketika Ego Mengundurkan Diri
Salah satu konsep tasawuf yang paling menarik adalah an-nafsi
bila nafsin.
Secara sederhana, diri tetap ada tetapi ego tidak lagi
menjadi direktur utama.
Bayangkan sebuah perusahaan yang selama ini dipimpin oleh
direktur yang egois, impulsif, dan suka mengambil keputusan tengah malam.
Lalu direktur itu pensiun.
Perusahaan tetap berjalan.
Bahkan lebih sehat.
Begitulah kira-kira keadaan hati seorang sufi.
Ia masih makan, bekerja, menikah, berdagang, dan bercanda.
Ia bukan manusia yang menghilang dari dunia.
Ia hanya berhenti menjadikan dirinya pusat alam semesta.
Hati sebagai Baitullah
Para sufi sering berbicara tentang hati sebagai Baitullah.
Tentu bukan dalam arti harfiah.
Maksudnya, hati menjadi tempat hadirnya kesadaran akan
Allah.
Persoalannya, banyak hati modern sudah terlalu penuh.
Ada yang dipenuhi kecemasan.
Ada yang dipenuhi dendam.
Ada yang dipenuhi ambisi.
Ada pula yang dipenuhi komentar netizen yang bahkan tidak
dikenal.
Hati seperti rumah.
Kalau setiap sudutnya sudah dipenuhi barang rongsokan, tamu
agung akan kesulitan masuk.
Maka tugas seorang pencari Tuhan bukan sekadar menambah
dekorasi spiritual, melainkan membersihkan gudang batin yang selama ini penuh
sesak.
Hidup di Waktu yang Sebenarnya
Konsep waqt bila waqt mengajarkan hidup bersama Allah
pada saat ini.
Manusia modern sering tinggal di dua tempat yang sebenarnya
tidak ada.
Tempat pertama adalah masa lalu.
Di sana ia sibuk menyesali.
Tempat kedua adalah masa depan.
Di sana ia sibuk mengkhawatiri.
Akibatnya ia tidak pernah benar-benar tinggal di masa kini.
Ia seperti orang yang membeli rumah tetapi terus-menerus
berlibur ke negeri khayalan.
Para sufi mengajak manusia kembali ke detik ini.
Karena satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki
hanyalah napas yang sedang keluar dan masuk sekarang.
Selain itu hanyalah kenangan dan dugaan.
Menjadi Sufi di Era Wi-Fi
Menjadi sufi ternyata tidak berarti pindah ke gunung,
memelihara kambing, lalu berbicara dengan awan.
Menjadi sufi berarti tetap hidup di tengah keramaian sambil
menjaga kejernihan hati.
Tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan.
Tetap memiliki harta, tetapi tidak dimiliki harta.
Tetap menggunakan media sosial, tetapi tidak menggantungkan
harga diri pada jumlah pengikut.
Tetap bergaul dengan manusia, tetapi tidak melupakan Tuhan.
Inilah mungkin tanda paling sederhana seorang sufi:
Ketika dunia masih ada di tangannya, tetapi sudah tidak
berhasil menyewa ruang permanen di dalam hatinya.
Pada akhirnya, para sufi mengingatkan bahwa manusia tanpa
cinta kepada Allah ibarat lentera tanpa api.
Bentuknya indah.
Hiasannya mahal.
Diletakkan di tempat terhormat.
Tetapi tetap gelap.
Dan mungkin, seluruh perjalanan spiritual hanyalah upaya
menyalakan kembali cahaya itu.
Bukan agar kita terlihat bercahaya di mata manusia,
melainkan agar tidak tersesat di jalan pulang menuju-Nya.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.