Kamis, 11 Juni 2026

Lubang yang Menyelamatkan Peradaban

Sebuah Renungan tentang Malik Bennabi, Roger Garaudy, dan Sejarah yang Bolong

Ada dua jenis lubang yang sering membuat manusia panik.

Yang pertama adalah lubang di atap rumah saat musim hujan.

Yang kedua adalah lubang dalam pengetahuan saat sedang berdebat di media sosial.

Lubang pertama membuat kasur basah. Lubang kedua membuat kesimpulan basah.

Kisah yang diceritakan akun @ALqasmi801 sebenarnya berbicara tentang jenis lubang yang kedua. Bukan lubang cacing yang menghubungkan galaksi, bukan pula lubang jalan yang menghubungkan motor dengan bengkel, melainkan lubang sejarah yang menghubungkan ketidaktahuan dengan kesombongan.

Pada tahun 1947, filsuf Prancis Roger Garaudy bertanya kepada pemikir Algeria, Malik Bennabi:

"Mengapa peradaban Barat terus berlanjut sementara peradaban Islam sudah berakhir?"

Pertanyaan itu terdengar ilmiah, sopan, dan filosofis. Tetapi Bennabi rupanya melihat sesuatu yang lucu di baliknya.

Ia seperti seorang montir yang mendengar pemilik mobil berkata:

"Kenapa mobil saya tidak bisa jalan?"

Lalu sang montir menjawab:

"Pak, karena rodanya hilang."

Menurut Bennabi, ada roda yang hilang dalam cara Barat membaca sejarah.

Sejarah Versi Roti Tawar

Narasi sejarah yang umum diajarkan di Barat waktu itu kira-kira begini:

Yunani melahirkan filsafat.

Roma membangun peradaban.

Lalu semuanya gelap.

Kemudian tiba-tiba Renaisans datang.

Lalu lahirlah modernitas.

Selesai.

Masalahnya, narasi itu mirip seseorang yang membuat sandwich tetapi lupa mengisi bagian tengahnya.

Bayangkan ada orang berkata:

"Saya sarapan roti. Lalu makan siang roti. Ajaibnya saya kenyang."

Kita tentu bertanya:

"Isi tengahnya mana?"

Nah, menurut Bennabi, bagian tengah yang hilang itulah peradaban Islam.

Selama Eropa mengalami masa yang sering disebut "Abad Kegelapan", dunia Islam justru sibuk melakukan hal-hal yang sangat tidak gelap.

Di Baghdad orang sedang menerjemahkan buku.

Di Cordoba orang sedang membangun perpustakaan.

Di Damaskus orang sedang berdiskusi tentang kedokteran.

Di Kairo para ilmuwan sedang mengamati langit.

Sementara sebagian Eropa masih berusaha menyalakan lilin, sebagian ilmuwan Muslim sudah sibuk menghitung lintasan bintang.

Tentu ini bukan untuk mengejek siapa pun. Setiap peradaban punya musimnya sendiri. Hanya saja, sejarah menjadi aneh ketika satu musim dianggap ada, sementara musim lainnya dihapus dari kalender.

Ketika Dunia Islam Menjadi Kurir Peradaban

Banyak orang membayangkan peradaban seperti perlombaan lari estafet.

Masalahnya, kita sering hanya mengingat pelari terakhir yang masuk garis finis.

Padahal tongkat itu sudah berpindah tangan berkali-kali.

Yunani menyerahkan sebagian warisannya kepada dunia Islam.

Dunia Islam mengembangkan, mengoreksi, memperkaya, dan meneruskannya.

Lalu Eropa mengambil tongkat itu dan berlari lebih jauh.

Jika salah satu pelari dihilangkan dari cerita, perlombaan itu berubah menjadi dongeng.

Al-Khawarizmi memberi dunia aljabar dan algoritma.

Ibnu Sina menulis ensiklopedia kedokteran yang dipakai berabad-abad.

Ibnu al-Haytham mengembangkan optika modern.

Ibnu Khaldun menulis teori masyarakat jauh sebelum sosiologi memiliki nama resmi.

Mereka bukan sekadar penjaga gudang ilmu Yunani. Mereka adalah koki yang mengolah bahan lama menjadi masakan baru.

Sayangnya, banyak buku sejarah populer menggambarkan mereka hanya sebagai tukang antar paket.

Garaudy dan Kejujuran yang Langka

Bagian paling menarik dari kisah ini bukanlah bahwa Garaudy akhirnya masuk Islam.

Bagian yang paling menarik justru pengakuannya.

Ia mengakui bahwa meskipun memiliki pendidikan tinggi, ia ternyata hampir tidak mengenal tradisi intelektual non-Barat.

Ini pengakuan yang langka.

Biasanya semakin tinggi gelar seseorang, semakin sulit ia mengucapkan kalimat:

"Saya tidak tahu."

Padahal kalimat itu adalah pintu masuk ilmu pengetahuan.

Orang yang merasa sudah tahu segalanya seperti gelas yang penuh.

Tidak ada lagi ruang untuk ditambah.

Orang yang berani mengakui ketidaktahuannya seperti cangkir kosong.

Masih ada tempat bagi air kebijaksanaan untuk masuk.

Mungkin itulah sebabnya Garaudy berubah.

Bukan karena ia kehilangan akal.

Justru karena ia menggunakannya.

Lubang yang Kini Berpindah Alamat

Yang ironis, lubang yang dulu dikritik Bennabi kini terkadang berpindah alamat.

Dulu sebagian Barat tidak mengenal kontribusi Islam.

Sekarang sebagian Muslim tidak mengenal kontribusi Islam.

Mereka hafal nama Einstein, tetapi tidak pernah mendengar Al-Biruni.

Mereka mengenal Aristoteles, tetapi asing dengan Ibnu Rushd.

Mereka tahu Steve Jobs, tetapi tidak tahu Al-Jazari yang merancang mesin otomatis berabad-abad sebelumnya.

Ini seperti seseorang yang tinggal di rumah warisan megah tetapi tidak pernah membuka satu pun kamar.

Ia lalu pergi ke rumah tetangga dan berkata:

"Hebat sekali rumah Anda. Andai saya punya rumah seperti ini."

Padahal kunci rumahnya sendiri ada di saku.

Jangan Jatuh ke Lubang yang Berlawanan

Namun ada bahaya lain.

Ketika menemukan bahwa sejarah Islam pernah gemilang, sebagian orang langsung terjatuh ke lubang yang berbeda.

Mereka mulai berpikir bahwa semua ilmu berasal dari Islam.

Bahwa dunia Islam melakukan segalanya.

Bahwa peradaban lain tidak punya kontribusi apa-apa.

Ini juga keliru.

Peradaban manusia bukan pertandingan sepak bola yang harus berakhir dengan skor 7-0.

Ia lebih mirip memasak rendang.

Banyak tangan ikut bekerja.

Ada yang menanam cabai.

Ada yang memerah santan.

Ada yang menyalakan api.

Ada yang mengaduk berjam-jam.

Tidak ada satu pihak yang bisa mengklaim seluruh hasilnya.

Yunani memberi fondasi.

India memberi angka.

Tiongkok memberi inovasi.

Islam menjadi jembatan dan pengembang.

Eropa melanjutkan estafet.

Semua saling terkait dalam jaringan panjang sejarah manusia.

Menambal Lubang Sebelum Terjatuh

Pelajaran terbesar dari kisah Bennabi dan Garaudy bukanlah tentang siapa yang paling hebat.

Pelajaran terbesarnya adalah tentang bahaya lubang.

Lubang dalam jalan bisa membuat kendaraan terguncang.

Lubang dalam sejarah bisa membuat identitas terguncang.

Lubang dalam pengetahuan bisa membuat manusia sombong tanpa sadar.

Karena itu tugas kita bukan membangun tembok antara Timur dan Barat, Islam dan non-Islam, masa lalu dan masa kini.

Tugas kita adalah menambal lubang-lubang itu.

Dengan membaca.

Dengan belajar.

Dengan mengakui bahwa peradaban manusia adalah karya gotong royong lintas abad.

Dan mungkin, jika Malik Bennabi masih hidup hari ini, ia akan tersenyum melihat perdebatan media sosial yang tak ada habisnya, lalu berkata:

"Masalah kalian bukan kekurangan informasi. Masalah kalian adalah terlalu sibuk berdebat di sekitar lubang, sampai lupa mengisinya."

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.