Sebuah Renungan tentang Malik Bennabi, Roger Garaudy, dan Sejarah yang Bolong
Ada dua jenis lubang yang sering membuat manusia panik.
Yang pertama adalah lubang di atap rumah saat musim hujan.
Yang kedua adalah lubang dalam pengetahuan saat sedang
berdebat di media sosial.
Lubang pertama membuat kasur basah. Lubang kedua membuat
kesimpulan basah.
Kisah yang diceritakan akun @ALqasmi801 sebenarnya berbicara
tentang jenis lubang yang kedua. Bukan lubang cacing yang menghubungkan
galaksi, bukan pula lubang jalan yang menghubungkan motor dengan bengkel,
melainkan lubang sejarah yang menghubungkan ketidaktahuan dengan kesombongan.
Pada tahun 1947, filsuf Prancis Roger Garaudy bertanya
kepada pemikir Algeria, Malik Bennabi:
"Mengapa peradaban Barat terus berlanjut sementara
peradaban Islam sudah berakhir?"
Pertanyaan itu terdengar ilmiah, sopan, dan filosofis.
Tetapi Bennabi rupanya melihat sesuatu yang lucu di baliknya.
Ia seperti seorang montir yang mendengar pemilik mobil
berkata:
"Kenapa mobil saya tidak bisa jalan?"
Lalu sang montir menjawab:
"Pak, karena rodanya hilang."
Menurut Bennabi, ada roda yang hilang dalam cara Barat
membaca sejarah.
Sejarah Versi Roti Tawar
Narasi sejarah yang umum diajarkan di Barat waktu itu
kira-kira begini:
Yunani melahirkan filsafat.
Roma membangun peradaban.
Lalu semuanya gelap.
Kemudian tiba-tiba Renaisans datang.
Lalu lahirlah modernitas.
Selesai.
Masalahnya, narasi itu mirip seseorang yang membuat sandwich
tetapi lupa mengisi bagian tengahnya.
Bayangkan ada orang berkata:
"Saya sarapan roti. Lalu makan siang roti. Ajaibnya
saya kenyang."
Kita tentu bertanya:
"Isi tengahnya mana?"
Nah, menurut Bennabi, bagian tengah yang hilang itulah
peradaban Islam.
Selama Eropa mengalami masa yang sering disebut "Abad
Kegelapan", dunia Islam justru sibuk melakukan hal-hal yang sangat tidak
gelap.
Di Baghdad orang sedang menerjemahkan buku.
Di Cordoba orang sedang membangun perpustakaan.
Di Damaskus orang sedang berdiskusi tentang kedokteran.
Di Kairo para ilmuwan sedang mengamati langit.
Sementara sebagian Eropa masih berusaha menyalakan lilin,
sebagian ilmuwan Muslim sudah sibuk menghitung lintasan bintang.
Tentu ini bukan untuk mengejek siapa pun. Setiap peradaban
punya musimnya sendiri. Hanya saja, sejarah menjadi aneh ketika satu musim
dianggap ada, sementara musim lainnya dihapus dari kalender.
Ketika Dunia Islam Menjadi Kurir Peradaban
Banyak orang membayangkan peradaban seperti perlombaan lari
estafet.
Masalahnya, kita sering hanya mengingat pelari terakhir yang
masuk garis finis.
Padahal tongkat itu sudah berpindah tangan berkali-kali.
Yunani menyerahkan sebagian warisannya kepada dunia Islam.
Dunia Islam mengembangkan, mengoreksi, memperkaya, dan
meneruskannya.
Lalu Eropa mengambil tongkat itu dan berlari lebih jauh.
Jika salah satu pelari dihilangkan dari cerita, perlombaan
itu berubah menjadi dongeng.
Al-Khawarizmi memberi dunia aljabar dan algoritma.
Ibnu Sina menulis ensiklopedia kedokteran yang dipakai
berabad-abad.
Ibnu al-Haytham mengembangkan optika modern.
Ibnu Khaldun menulis teori masyarakat jauh sebelum sosiologi
memiliki nama resmi.
Mereka bukan sekadar penjaga gudang ilmu Yunani. Mereka
adalah koki yang mengolah bahan lama menjadi masakan baru.
Sayangnya, banyak buku sejarah populer menggambarkan mereka
hanya sebagai tukang antar paket.
Garaudy dan Kejujuran yang Langka
Bagian paling menarik dari kisah ini bukanlah bahwa Garaudy
akhirnya masuk Islam.
Bagian yang paling menarik justru pengakuannya.
Ia mengakui bahwa meskipun memiliki pendidikan tinggi, ia
ternyata hampir tidak mengenal tradisi intelektual non-Barat.
Ini pengakuan yang langka.
Biasanya semakin tinggi gelar seseorang, semakin sulit ia
mengucapkan kalimat:
"Saya tidak tahu."
Padahal kalimat itu adalah pintu masuk ilmu pengetahuan.
Orang yang merasa sudah tahu segalanya seperti gelas yang
penuh.
Tidak ada lagi ruang untuk ditambah.
Orang yang berani mengakui ketidaktahuannya seperti cangkir
kosong.
Masih ada tempat bagi air kebijaksanaan untuk masuk.
Mungkin itulah sebabnya Garaudy berubah.
Bukan karena ia kehilangan akal.
Justru karena ia menggunakannya.
Lubang yang Kini Berpindah Alamat
Yang ironis, lubang yang dulu dikritik Bennabi kini
terkadang berpindah alamat.
Dulu sebagian Barat tidak mengenal kontribusi Islam.
Sekarang sebagian Muslim tidak mengenal kontribusi Islam.
Mereka hafal nama Einstein, tetapi tidak pernah mendengar
Al-Biruni.
Mereka mengenal Aristoteles, tetapi asing dengan Ibnu Rushd.
Mereka tahu Steve Jobs, tetapi tidak tahu Al-Jazari yang
merancang mesin otomatis berabad-abad sebelumnya.
Ini seperti seseorang yang tinggal di rumah warisan megah
tetapi tidak pernah membuka satu pun kamar.
Ia lalu pergi ke rumah tetangga dan berkata:
"Hebat sekali rumah Anda. Andai saya punya rumah
seperti ini."
Padahal kunci rumahnya sendiri ada di saku.
Jangan Jatuh ke Lubang yang Berlawanan
Namun ada bahaya lain.
Ketika menemukan bahwa sejarah Islam pernah gemilang,
sebagian orang langsung terjatuh ke lubang yang berbeda.
Mereka mulai berpikir bahwa semua ilmu berasal dari Islam.
Bahwa dunia Islam melakukan segalanya.
Bahwa peradaban lain tidak punya kontribusi apa-apa.
Ini juga keliru.
Peradaban manusia bukan pertandingan sepak bola yang harus
berakhir dengan skor 7-0.
Ia lebih mirip memasak rendang.
Banyak tangan ikut bekerja.
Ada yang menanam cabai.
Ada yang memerah santan.
Ada yang menyalakan api.
Ada yang mengaduk berjam-jam.
Tidak ada satu pihak yang bisa mengklaim seluruh hasilnya.
Yunani memberi fondasi.
India memberi angka.
Tiongkok memberi inovasi.
Islam menjadi jembatan dan pengembang.
Eropa melanjutkan estafet.
Semua saling terkait dalam jaringan panjang sejarah manusia.
Menambal Lubang Sebelum Terjatuh
Pelajaran terbesar dari kisah Bennabi dan Garaudy bukanlah
tentang siapa yang paling hebat.
Pelajaran terbesarnya adalah tentang bahaya lubang.
Lubang dalam jalan bisa membuat kendaraan terguncang.
Lubang dalam sejarah bisa membuat identitas terguncang.
Lubang dalam pengetahuan bisa membuat manusia sombong tanpa
sadar.
Karena itu tugas kita bukan membangun tembok antara Timur
dan Barat, Islam dan non-Islam, masa lalu dan masa kini.
Tugas kita adalah menambal lubang-lubang itu.
Dengan membaca.
Dengan belajar.
Dengan mengakui bahwa peradaban manusia adalah karya gotong
royong lintas abad.
Dan mungkin, jika Malik Bennabi masih hidup hari ini, ia
akan tersenyum melihat perdebatan media sosial yang tak ada habisnya, lalu
berkata:
"Masalah kalian bukan kekurangan informasi. Masalah
kalian adalah terlalu sibuk berdebat di sekitar lubang, sampai lupa
mengisinya."
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.