Ada dua jenis manusia ketika melihat tanah kosong.
Jenis pertama berkata, "Wah, kosong. Tanam saja apa pun
yang ada di toko bibit."
Jenis kedua berkata, "Tunggu dulu. Sebelum saya menanam
pohon, saya ingin bertanya kepada leluhur tanah ini."
Akira Miyawaki termasuk golongan kedua.
Di dunia yang penuh slogan hijau, seminar lingkungan
berpendingin ruangan, dan proyek penghijauan yang lebih rajin difoto daripada
dirawat, Miyawaki muncul membawa ide yang terdengar hampir terlalu sederhana
untuk dianggap jenius: sebelum menanam pohon, cari tahu dulu pohon apa yang
memang seharusnya hidup di situ.
Ternyata, untuk menyelamatkan bumi, kadang yang dibutuhkan
bukan romantisme, melainkan akal sehat.
Ketika Pabrik Baja Belajar dari Hutan
Kisahnya dimulai pada tahun 1970-an ketika perusahaan baja
Jepang menghadapi masalah lingkungan. Pemandangan di sekitar pabrik mereka
kurang lebih seperti halaman rumah yang habis dipakai konser dangdut tiga hari
tiga malam: gersang, lelah, dan kehilangan harga diri ekologis.
Mereka lalu memanggil Akira Miyawaki, seorang ahli botani.
Biasanya, ketika diberi tugas menghijaukan lahan rusak,
orang akan membuka katalog bibit lalu menunjuk pohon yang terlihat keren. Mirip
memilih pemain sepak bola berdasarkan potongan rambut.
Tetapi Miyawaki melakukan sesuatu yang berbeda.
Ia justru pergi ke hutan-hutan suci di sekitar kuil Shinto.
Hutan-hutan itu telah dibiarkan tumbuh selama ratusan tahun tanpa campur tangan
manusia.
Di sana ia menemukan pelajaran besar: alam sebenarnya sudah
punya rancangan sendiri. Manusialah yang sering datang membawa "ide
brilian" lalu mengacaukannya.
Dosa Besar Penghijauan Modern
Ada kebiasaan aneh dalam proyek penghijauan modern.
Kita sering bertanya:
"Pohon apa yang ingin kita tanam?"
Padahal alam diam-diam bertanya balik:
"Siapa yang meminta pendapatmu?"
Pertanyaan yang lebih penting seharusnya adalah:
"Hutan apa yang dulu hidup di sini sebelum manusia
datang membawa ekskavator, proposal proyek, dan spanduk peresmian?"
Miyawaki memahami hal ini.
Ia meneliti spesies asli setempat, memperbaiki kondisi
tanah, lalu menanam banyak jenis pohon sekaligus dengan kepadatan tinggi.
Metodenya sekilas tampak seperti pasar malam botani. Pohon
ditanam rapat-rapat, berdesakan, bahkan tampak tidak nyaman.
Namun justru di situlah rahasianya.
Pohon-pohon itu dipaksa berkompetisi. Mereka tumbuh cepat
demi mendapatkan cahaya. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Tidak ada
pohon yang bisa berkata, "Saya sedang healing dulu."
Alhasil, terbentuklah hutan muda yang tumbuh jauh lebih
cepat daripada metode penanaman konvensional.
Ketika Alam Lebih Pintar daripada Konsultan
Hal paling menarik dari metode Miyawaki bukanlah angka-angka
spektakulernya.
Bukan soal 10 kali lebih cepat.
Bukan soal 30 kali lebih padat.
Bukan pula soal penyerapan karbon yang menggiurkan para
pemburu sertifikat emisi.
Yang paling menarik adalah filosofi di baliknya.
Miyawaki seolah berkata:
"Berhentilah berlagak menjadi arsitek alam. Jadilah
asistennya saja."
Ini adalah pelajaran yang sebenarnya berlaku jauh melampaui
urusan hutan.
Dalam kehidupan modern, kita sering berpikir bahwa setiap
masalah membutuhkan intervensi besar.
Ketika tanaman layu, kita beli pupuk baru.
Ketika organisasi bermasalah, kita buat rapat tambahan.
Ketika masyarakat bingung, kita buat regulasi baru.
Ketika diri sendiri tidak bahagia, kita membeli barang yang
tidak dibutuhkan dengan uang yang tidak dimiliki.
Padahal kadang-kadang solusi terbaik adalah mengembalikan
sistem pada keadaan alaminya.
Alam sering lebih bijaksana daripada ego manusia.
Hutan dan Tasawuf
Di titik ini, metode Miyawaki terasa seperti pelajaran
tasawuf yang menyamar sebagai ilmu botani.
Seorang sufi tidak berusaha menjadi pohon mangga ketika
dirinya adalah pohon kelapa.
Ia tidak iri kepada bambu.
Ia tidak bercita-cita menjadi cemara.
Ia tumbuh sesuai fitrah yang ditanamkan Tuhan.
Demikian pula sebuah hutan.
Kerusakan sering terjadi ketika sesuatu dipaksa menjadi
bukan dirinya.
Tanah rawa dipaksa menjadi perkebunan yang tidak cocok.
Bukit dipaksa menjadi perumahan.
Sungai dipaksa menjadi tempat sampah.
Lalu kita heran mengapa alam marah.
Itu seperti memelihara ikan di atas pohon lalu menyalahkan
ikannya karena tidak pandai memanjat.
Pelajaran untuk Indonesia
Indonesia sesungguhnya adalah surga biodiversitas.
Masalahnya, kita kadang memperlakukan surga seperti halaman
belakang yang lupa disapu.
Di banyak tempat, penghijauan masih identik dengan menanam
satu jenis pohon sebanyak mungkin. Seolah-olah alam menyukai keseragaman.
Padahal hutan tropis Indonesia justru terkenal karena
keragamannya.
Hutan bukan barisan tentara.
Hutan adalah orkestra.
Keindahannya muncul karena banyak suara berbeda bermain
bersama.
Metode Miyawaki menawarkan sesuatu yang sederhana namun
revolusioner: kenali dulu identitas ekologis suatu tempat sebelum mencoba
memperbaikinya.
Dengan kata lain, jangan memaksa Kalimantan menjadi Jepang.
Jangan memaksa Papua menjadi Eropa.
Dan jangan memaksa tanah menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Menjadi Tukang Kebun yang Rendah Hati
Akira Miyawaki meninggalkan dunia pada tahun 2021, tetapi
gagasannya terus tumbuh di ribuan hutan kecil di berbagai negara.
Warisannya bukan sekadar metode menanam pohon.
Warisannya adalah pelajaran tentang kerendahan hati.
Bahwa dalam banyak hal, manusia bukanlah pencipta
keteraturan alam. Kita hanyalah peserta magang yang sering terlalu percaya
diri.
Mungkin krisis lingkungan modern pada dasarnya bukan krisis
teknologi.
Mungkin ia adalah krisis kesombongan.
Kita terlalu sibuk mengajari bumi cara menjadi bumi.
Padahal bumi sudah berlatih selama miliaran tahun sebelum
manusia pertama kali menemukan cangkul.
Miyawaki mengingatkan kita bahwa kadang-kadang cara terbaik
untuk menyelamatkan alam adalah berhenti merasa lebih pintar daripada alam itu
sendiri.
Semangat utama esai ini adalah bahwa metode Miyawaki bukan
sekadar teknik menanam pohon, melainkan pelajaran filosofis tentang fitrah,
kerendahan hati, dan pentingnya memahami karakter suatu tempat sebelum mencoba
"memperbaikinya". Seperti dokter yang baik tidak memberi obat yang
sama untuk semua pasien, hutan yang baik juga tidak tumbuh dari bibit yang sama
untuk semua tanah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.