Sebuah Renungan tentang Harapan, Penderitaan, dan Seni Berteman dengan Kenyataan
Bayangkan Anda sedang antre di sebuah kantor pelayanan
bernama "Kehidupan". Di tangan Anda ada nomor antrean. Di kepala Anda
ada harapan. Di hati Anda ada keyakinan bahwa karena Anda orang baik, rajin
membantu tetangga, tidak pernah mencuri sandal masjid, dan sesekali memberi
makan kucing liar, maka petugas loket akan memanggil nama Anda dengan senyum
ramah lalu memberikan paket bertuliskan:
"Selamat! Anda berhak atas hidup yang mudah, adil,
dan membahagiakan."
Masalahnya, setelah menunggu puluhan tahun, Anda baru
menyadari bahwa kantor itu tidak pernah memiliki loket semacam itu.
Di sudut ruangan, seorang pria tua berwajah muram sedang
menyeruput kopi pahit tanpa gula. Namanya Arthur Schopenhauer. Ia melihat
antrean manusia yang panjang sambil menggeleng pelan, lalu berkata:
"Kesalahan terbesar kalian adalah mengira kantor ini
memang menjual kebahagiaan."
Begitulah kira-kira inti filsafat Schopenhauer.
Ia adalah filsuf yang datang ke pesta motivasi dengan
membawa ember berisi air dingin. Ketika semua orang berteriak, "Kamu bisa
menjadi apa pun yang kamu mau!", Schopenhauer justru bertanya, "Siapa
yang bilang hidup wajib memenuhi maumu?"
Tidak heran banyak orang menganggapnya pesimis. Namun mungkin ia bukan pesimis. Mungkin ia hanya orang pertama yang membaca syarat dan ketentuan kehidupan sampai halaman terakhir.
Dunia Tidak Menandatangani Kontrak Kebahagiaan
Kita hidup di zaman yang sangat kreatif dalam memproduksi
harapan.
Media sosial bekerja seperti agen properti untuk mimpi-mimpi
manusia. Setiap hari kita diperlihatkan foto orang yang tampak sukses, bahagia,
kaya, sehat, romantis, spiritual, produktif, dan entah bagaimana masih sempat
jogging pukul lima pagi.
Tanpa sadar kita mulai percaya bahwa hidup seharusnya memang
seperti itu.
Ketika kenyataan datang membawa tagihan listrik, sakit
punggung, cicilan, konflik keluarga, dan cinta yang kandas karena alasan yang
bahkan algoritma AI pun bingung menjelaskannya, kita merasa ditipu.
Schopenhauer muncul seperti petugas audit realitas.
Menurutnya, masalah terbesar manusia bukan penderitaan itu
sendiri. Masalah terbesar adalah keyakinan bahwa penderitaan seharusnya tidak
terjadi.
Ia seperti orang yang menonton film horor lalu marah karena
ada hantu.
Padahal judul filmnya memang Kehidupan: Edisi Horor Eksistensial.
Mesin Keinginan yang Tidak Pernah Libur
Di jantung filsafat Schopenhauer terdapat satu tokoh utama
yang sangat sibuk: Kehendak.
Kehendak ini ibarat balita kosmik yang tidak pernah merasa
puas.
Saat tidak punya motor, kita ingin motor.
Saat sudah punya motor, kita ingin mobil.
Saat punya mobil, kita ingin mobil yang lebih besar.
Saat punya mobil yang lebih besar, kita mulai menonton video
tentang yacht.
Saat punya yacht, kita mungkin mulai iri kepada paus biru
karena memiliki lautan secara gratis.
Keinginan manusia bergerak seperti treadmill. Kita berlari
sangat serius, berkeringat luar biasa, tetapi sering kali tetap berada di
tempat yang sama.
Begitu satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru yang
mengenakan kostum berbeda namun memiliki wajah yang sama.
Schopenhauer melihat pola ini dan menyimpulkan sesuatu yang
tidak populer:
"Kebahagiaan bukan rumah tempat kita tinggal. Kebahagiaan hanyalah ruang tunggu sebelum keinginan berikutnya datang mengetuk pintu."
Keuntungan Menjadi Orang yang Tidak Terlalu Kaget
Meski terdengar suram, filsafat ini sebenarnya memiliki sisi
yang sangat praktis.
Bayangkan dua orang menghadapi badai.
Orang pertama membawa payung pesta ulang tahun berbentuk
bunga matahari. Ia yakin cuaca akan selalu cerah.
Orang kedua membawa jas hujan tebal karena tahu cuaca bisa
berubah kapan saja.
Ketika hujan datang, siapa yang lebih tenang?
Schopenhauer sedang mengajarkan cara menjadi orang kedua.
Ia tidak mengatakan bahwa hujan itu menyenangkan. Ia hanya
mengatakan bahwa mengutuk awan selama tiga jam tidak akan membuat langit
berubah pikiran.
Dalam bahasa psikologi modern, ini disebut penerimaan.
Bukan menyerah.
Bukan pasrah.
Tetapi berhenti bertengkar dengan fakta.
Karena fakta terkenal sebagai lawan debat yang sangat keras kepala.
Bahaya Menjadi Murid Schopenhauer yang Terlalu Rajin
Namun ada masalah.
Jika filsafat Schopenhauer diminum tanpa dosis yang tepat,
efek sampingnya bisa cukup mengkhawatirkan.
Seseorang bisa mulai berpikir:
"Kalau hidup memang sulit, untuk apa berusaha?"
"Kalau dunia tidak adil, mengapa memperbaikinya?"
"Kalau semua berakhir dengan penderitaan, mungkin saya
akan tidur siang saja sampai kiamat."
Di sinilah Schopenhauer sering dikritik.
Ia pandai menjelaskan hujan, tetapi tidak selalu memberi
alasan mengapa kita tetap harus menanam bunga.
Filsafatnya sangat bagus sebagai rem, tetapi kurang cocok
menjadi mesin.
Ia melindungi manusia dari kekecewaan, tetapi kadang tidak cukup kuat untuk mengobarkan semangat perjuangan.
Nietzsche: Murid yang Membangkang
Menariknya, salah satu pembacanya yang paling terkenal
adalah Friedrich Nietzsche.
Nietzsche melihat dunia yang sama kerasnya dengan
Schopenhauer. Ia juga melihat penderitaan di mana-mana.
Tetapi reaksinya berbeda.
Jika Schopenhauer berkata:
"Hidup memang pahit. Terimalah."
Nietzsche berkata:
"Hidup memang pahit. Tambah lagi secangkir!"
Melalui gagasan Amor Fati, Nietzsche mengajak manusia
bukan hanya menerima takdir, tetapi mencintainya.
Jika Schopenhauer adalah penumpang yang berteduh saat badai,
Nietzsche adalah orang yang keluar rumah sambil berteriak, "Anginnya
lumayan juga hari ini!"
Keduanya berbeda, tetapi sama-sama mengingatkan bahwa
penderitaan bukanlah kesalahan sistem.
Penderitaan adalah bagian dari sistem.
Menjadi Dewasa di Alam Semesta yang Acuh Tak Acuh
Mungkin pelajaran terbesar dari Schopenhauer adalah ini:
Kedewasaan dimulai ketika kita berhenti menganggap alam
semesta sebagai petugas layanan pelanggan.
Bintang-bintang tidak berkumpul setiap malam untuk membahas
masalah karier kita.
Galaksi tidak mengadakan rapat darurat karena hubungan
asmara kita berakhir.
Alam semesta berjalan dengan ketidakpedulian yang megah.
Anehnya, justru di situlah kebebasan muncul.
Ketika kita berhenti menuntut hidup agar selalu adil, mudah,
dan sesuai skenario, kita tidak lagi menjadi tawanan ekspektasi.
Kita menjadi seperti pelaut yang memahami bahwa laut tidak
pernah berjanji untuk tenang.
Namun karena memahami itu, ia dapat berlayar dengan lebih
bijaksana.
Schopenhauer mungkin benar dalam satu hal: hidup tidak
berutang apa pun kepada kita.
Tetapi justru karena itulah setiap tawa menjadi hadiah.
Setiap persahabatan menjadi berkah.
Setiap keberhasilan menjadi bonus.
Dan setiap hari yang berhasil kita lalui tanpa kehilangan
akal sehat adalah pencapaian yang patut dirayakan.
Barangkali kebijaksanaan bukanlah menemukan dunia yang lebih
ramah.
Melainkan belajar tersenyum, bahkan ketika kita akhirnya
sadar bahwa sejak awal dunia memang tidak pernah menjanjikan apa-apa.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.