Catatan Ringan tentang Orang-Orang yang Sibuk Mengatur Alam Semesta
Ada pekerjaan yang sangat diminati manusia, tetapi anehnya
tidak pernah dibuka lowongannya. Gajinya tidak jelas, kontraknya tidak ada, dan
deskripsi kerjanya bahkan tidak pernah diumumkan. Namun jutaan orang melamar
setiap hari.
Nama pekerjaannya adalah: Wakil Direktur Takdir.
Tugasnya sederhana: mengatur kapan doa dikabulkan,
menentukan kapan rezeki datang, memastikan semua rencana berjalan sesuai
keinginan pribadi, serta mengawasi Allah agar bekerja sesuai target yang telah
dibuat manusia.
Terdengar lucu? Memang lucu. Namun sebagian besar dari kita
diam-diam pernah menjabat posisi tersebut.
Kita berdoa, lalu lima menit kemudian mengecek hasilnya
seperti pelanggan yang sedang melacak paket ekspedisi.
"Ya Allah, saya sudah berdoa kemarin. Kenapa belum
sampai?"
Seolah-olah langit memiliki fitur same day delivery.
Di sinilah Imam Ibn Atha'illah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam
memberikan tamparan yang lembut namun mengena. Beliau berkata:
"Bebaskan dirimu dari mengatur apa yang sudah diatur
Allah untukmu."
Kalimat ini pendek, tetapi efeknya seperti mencabut kabel
listrik yang selama ini menyuplai kecemasan dalam kepala kita.
Penyakit Modern: Sindrom CEO Alam Semesta
Masalah terbesar manusia modern bukan kekurangan informasi.
Justru sebaliknya.
Kita tahu terlalu banyak hal.
Kita tahu prediksi ekonomi.
Kita tahu ramalan cuaca.
Kita tahu berita dari negara yang bahkan belum pernah kita
kunjungi.
Kita tahu gosip artis yang tidak mengenal kita.
Namun anehnya, semakin banyak yang diketahui, semakin banyak
pula yang ingin dikendalikan.
Akibatnya, hidup berubah seperti seseorang yang mencoba
mengemudikan mobil sambil mengatur lampu lalu lintas, mengendalikan arah angin,
dan memerintah awan agar tidak hujan.
Capek.
Sangat capek.
Padahal Allah hanya meminta kita memegang setir kendaraan
kita sendiri.
Angin? Bukan urusan kita.
Awan? Bukan urusan kita.
Takdir? Apalagi.
Tetapi manusia sering bertingkah seperti manajer proyek alam
semesta yang frustrasi karena kosmos tidak mengikuti rapat koordinasi yang ia
buat sendiri.
Mengapa Kita Sulit Tenang?
Karena kita sering salah membedakan antara wilayah kerja
hamba dan wilayah kerja Tuhan.
Wilayah kerja manusia adalah usaha.
Wilayah kerja Allah adalah hasil.
Masalah muncul ketika manusia mencoba mengambil dua-duanya
sekaligus.
Kita ingin belajar sekaligus menentukan nilai ujian.
Kita ingin melamar pekerjaan sekaligus menentukan keputusan
HRD.
Kita ingin berobat sekaligus menentukan kesembuhan.
Kita ingin menanam padi sekaligus mengatur hujan.
Akibatnya, kita seperti pegawai yang diam-diam masuk ke
ruang direktur lalu panik karena tidak mengerti tombol mana yang harus ditekan.
Ibn Atha'illah mengingatkan bahwa banyak penderitaan lahir
bukan karena takdir yang berat, tetapi karena ego yang ingin ikut campur
mengelola takdir.
Ridha: Kursi Santai untuk Jiwa
Dalam dunia tasawuf, ada satu kata yang terdengar sederhana
tetapi mahal harganya: ridha.
Ridha bukan berarti berhenti bekerja.
Ridha bukan berarti rebahan sambil berkata, "Kalau
rezeki mah nggak ke mana."
Kalimat itu biasanya diucapkan sambil menunggu rezeki yang
memang akhirnya tidak ke mana-mana karena tidak pernah dicari.
Ridha adalah bekerja keras tanpa menjadikan hasil sebagai
berhala.
Bayangkan seseorang sedang mendayung perahu di sungai.
Ia wajib mendayung.
Tetapi ia tidak perlu mengaduk-aduk air sungai agar arus
bergerak lebih cepat.
Arus sudah memiliki Pemilik.
Tugas pendayung hanyalah mendayung.
Ridha adalah kemampuan menikmati proses tanpa menyiksa diri
dengan obsesi terhadap hasil.
Orang yang ridha tetap berkeringat, tetapi tidak terbakar
oleh kecemasan.
Yaqin: Ketika Kita Berhenti Mengajari Allah Cara Mengurus
Hidup Kita
Ada kebiasaan unik manusia.
Ketika sesuatu sesuai harapan, kita berkata:
"Masya Allah, Allah Maha Bijaksana."
Namun ketika tidak sesuai harapan, kita diam-diam berpikir:
"Ya Allah, mungkin ada sedikit kesalahan administrasi
di atas."
Padahal tidak ada kesalahan administrasi di langit.
Yang ada hanyalah keterbatasan pemahaman kita.
Seekor ulat mungkin menganggap kepompong sebagai bencana.
Ia tidak tahu bahwa itu adalah awal menjadi kupu-kupu.
Begitu pula manusia.
Kita sering mengira kehilangan adalah hukuman, padahal bisa
jadi itu perlindungan.
Kita mengira kegagalan adalah akhir, padahal mungkin itu
jalan memutar menuju sesuatu yang lebih baik.
Yaqin adalah kesediaan untuk mengakui bahwa Allah melihat
seluruh peta, sementara kita baru melihat satu tikungan.
Tafwid: Seni Menyerahkan yang Memang Bukan Milik Kita
Tafwid adalah salah satu konsep tasawuf yang sangat
menenangkan.
Artinya menyerahkan urusan kepada Allah setelah melakukan
ikhtiar terbaik.
Perhatikan urutannya.
Bukan menyerah dulu baru usaha.
Bukan juga usaha terus lalu lupa menyerah.
Tetapi usaha maksimal dan penyerahan total.
Seperti petani yang menanam benih dengan sungguh-sungguh.
Ia menyiram.
Ia memupuk.
Ia membersihkan gulma.
Tetapi ia tidak berdiri di tengah sawah sambil berteriak
kepada benih:
"Cepat tumbuh! Saya sudah investasi!"
Petani yang waras tahu bahwa pertumbuhan adalah urusan
Allah.
Begitu pula seorang mukmin.
Ia melakukan bagian yang menjadi tugasnya, lalu berhenti di
batas yang menjadi hak Allah.
Ketika Google Membuat Semua Orang Menjadi Mufti
Ada fenomena menarik di zaman sekarang.
Seseorang membaca tiga artikel, menonton dua video, lalu
merasa siap memperbaiki pemahaman ulama yang belajar puluhan tahun.
Ini seperti orang yang baru melihat video operasi jantung di
internet lalu menawarkan jasa bedah kepada tetangga.
Tasawuf mengajarkan kerendahan hati intelektual.
Bahwa ada hal-hal yang membutuhkan proses.
Ada ilmu yang harus dipelajari.
Ada guru yang harus dihormati.
Dan ada kebijaksanaan yang tidak bisa diunduh hanya dengan
koneksi internet yang cepat.
Semakin dalam seseorang mengenal Allah, biasanya semakin
kecil rasa ingin menjadi pusat alam semesta.
Merdeka Karena Berserah
Ironisnya, kebebasan terbesar justru lahir dari penyerahan.
Manusia modern sering mengira kebebasan berarti mampu
mengontrol semuanya.
Padahal itu mustahil.
Mengontrol cuaca tidak bisa.
Mengontrol usia tidak bisa.
Mengontrol hati manusia lain tidak bisa.
Mengontrol masa depan tidak bisa.
Kalau begitu, mengapa kita terus memaksa diri melakukan
pekerjaan yang bahkan malaikat tidak pernah diperintahkan mengerjakannya?
Ibn Atha'illah mengajak kita pensiun dari jabatan fiktif
sebagai Wakil Direktur Takdir.
Kembalilah menjadi hamba.
Kerjakan yang diperintahkan.
Tinggalkan yang dilarang.
Berusaha sebaik mungkin.
Lalu serahkan hasilnya kepada Allah.
Sebab sebagian besar kecemasan hidup ternyata lahir bukan
dari beratnya takdir, melainkan dari keras kepala kita yang ingin menjadi
pengatur takdir.
Dan mungkin, pada saat kita akhirnya berhenti mengatur
langit, kita justru menemukan kedamaian yang selama ini kita cari di bumi.
Karena ternyata surga dunia bukanlah ketika semua keinginan
terpenuhi, melainkan ketika hati rela bahwa Allah selalu lebih tahu daripada
kita.
Wallahu a'lam.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.