Kamis, 18 Juni 2026

Bebaskan Dirimu dari Jabatan Wakil Direktur Takdir

Catatan Ringan tentang Orang-Orang yang Sibuk Mengatur Alam Semesta

Ada pekerjaan yang sangat diminati manusia, tetapi anehnya tidak pernah dibuka lowongannya. Gajinya tidak jelas, kontraknya tidak ada, dan deskripsi kerjanya bahkan tidak pernah diumumkan. Namun jutaan orang melamar setiap hari.

Nama pekerjaannya adalah: Wakil Direktur Takdir.

Tugasnya sederhana: mengatur kapan doa dikabulkan, menentukan kapan rezeki datang, memastikan semua rencana berjalan sesuai keinginan pribadi, serta mengawasi Allah agar bekerja sesuai target yang telah dibuat manusia.

Terdengar lucu? Memang lucu. Namun sebagian besar dari kita diam-diam pernah menjabat posisi tersebut.

Kita berdoa, lalu lima menit kemudian mengecek hasilnya seperti pelanggan yang sedang melacak paket ekspedisi.

"Ya Allah, saya sudah berdoa kemarin. Kenapa belum sampai?"

Seolah-olah langit memiliki fitur same day delivery.

Di sinilah Imam Ibn Atha'illah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam memberikan tamparan yang lembut namun mengena. Beliau berkata:

"Bebaskan dirimu dari mengatur apa yang sudah diatur Allah untukmu."

Kalimat ini pendek, tetapi efeknya seperti mencabut kabel listrik yang selama ini menyuplai kecemasan dalam kepala kita.

Penyakit Modern: Sindrom CEO Alam Semesta

Masalah terbesar manusia modern bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya.

Kita tahu terlalu banyak hal.

Kita tahu prediksi ekonomi.

Kita tahu ramalan cuaca.

Kita tahu berita dari negara yang bahkan belum pernah kita kunjungi.

Kita tahu gosip artis yang tidak mengenal kita.

Namun anehnya, semakin banyak yang diketahui, semakin banyak pula yang ingin dikendalikan.

Akibatnya, hidup berubah seperti seseorang yang mencoba mengemudikan mobil sambil mengatur lampu lalu lintas, mengendalikan arah angin, dan memerintah awan agar tidak hujan.

Capek.

Sangat capek.

Padahal Allah hanya meminta kita memegang setir kendaraan kita sendiri.

Angin? Bukan urusan kita.

Awan? Bukan urusan kita.

Takdir? Apalagi.

Tetapi manusia sering bertingkah seperti manajer proyek alam semesta yang frustrasi karena kosmos tidak mengikuti rapat koordinasi yang ia buat sendiri.

Mengapa Kita Sulit Tenang?

Karena kita sering salah membedakan antara wilayah kerja hamba dan wilayah kerja Tuhan.

Wilayah kerja manusia adalah usaha.

Wilayah kerja Allah adalah hasil.

Masalah muncul ketika manusia mencoba mengambil dua-duanya sekaligus.

Kita ingin belajar sekaligus menentukan nilai ujian.

Kita ingin melamar pekerjaan sekaligus menentukan keputusan HRD.

Kita ingin berobat sekaligus menentukan kesembuhan.

Kita ingin menanam padi sekaligus mengatur hujan.

Akibatnya, kita seperti pegawai yang diam-diam masuk ke ruang direktur lalu panik karena tidak mengerti tombol mana yang harus ditekan.

Ibn Atha'illah mengingatkan bahwa banyak penderitaan lahir bukan karena takdir yang berat, tetapi karena ego yang ingin ikut campur mengelola takdir.

Ridha: Kursi Santai untuk Jiwa

Dalam dunia tasawuf, ada satu kata yang terdengar sederhana tetapi mahal harganya: ridha.

Ridha bukan berarti berhenti bekerja.

Ridha bukan berarti rebahan sambil berkata, "Kalau rezeki mah nggak ke mana."

Kalimat itu biasanya diucapkan sambil menunggu rezeki yang memang akhirnya tidak ke mana-mana karena tidak pernah dicari.

Ridha adalah bekerja keras tanpa menjadikan hasil sebagai berhala.

Bayangkan seseorang sedang mendayung perahu di sungai.

Ia wajib mendayung.

Tetapi ia tidak perlu mengaduk-aduk air sungai agar arus bergerak lebih cepat.

Arus sudah memiliki Pemilik.

Tugas pendayung hanyalah mendayung.

Ridha adalah kemampuan menikmati proses tanpa menyiksa diri dengan obsesi terhadap hasil.

Orang yang ridha tetap berkeringat, tetapi tidak terbakar oleh kecemasan.

Yaqin: Ketika Kita Berhenti Mengajari Allah Cara Mengurus Hidup Kita

Ada kebiasaan unik manusia.

Ketika sesuatu sesuai harapan, kita berkata:

"Masya Allah, Allah Maha Bijaksana."

Namun ketika tidak sesuai harapan, kita diam-diam berpikir:

"Ya Allah, mungkin ada sedikit kesalahan administrasi di atas."

Padahal tidak ada kesalahan administrasi di langit.

Yang ada hanyalah keterbatasan pemahaman kita.

Seekor ulat mungkin menganggap kepompong sebagai bencana.

Ia tidak tahu bahwa itu adalah awal menjadi kupu-kupu.

Begitu pula manusia.

Kita sering mengira kehilangan adalah hukuman, padahal bisa jadi itu perlindungan.

Kita mengira kegagalan adalah akhir, padahal mungkin itu jalan memutar menuju sesuatu yang lebih baik.

Yaqin adalah kesediaan untuk mengakui bahwa Allah melihat seluruh peta, sementara kita baru melihat satu tikungan.

Tafwid: Seni Menyerahkan yang Memang Bukan Milik Kita

Tafwid adalah salah satu konsep tasawuf yang sangat menenangkan.

Artinya menyerahkan urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Perhatikan urutannya.

Bukan menyerah dulu baru usaha.

Bukan juga usaha terus lalu lupa menyerah.

Tetapi usaha maksimal dan penyerahan total.

Seperti petani yang menanam benih dengan sungguh-sungguh.

Ia menyiram.

Ia memupuk.

Ia membersihkan gulma.

Tetapi ia tidak berdiri di tengah sawah sambil berteriak kepada benih:

"Cepat tumbuh! Saya sudah investasi!"

Petani yang waras tahu bahwa pertumbuhan adalah urusan Allah.

Begitu pula seorang mukmin.

Ia melakukan bagian yang menjadi tugasnya, lalu berhenti di batas yang menjadi hak Allah.

Ketika Google Membuat Semua Orang Menjadi Mufti

Ada fenomena menarik di zaman sekarang.

Seseorang membaca tiga artikel, menonton dua video, lalu merasa siap memperbaiki pemahaman ulama yang belajar puluhan tahun.

Ini seperti orang yang baru melihat video operasi jantung di internet lalu menawarkan jasa bedah kepada tetangga.

Tasawuf mengajarkan kerendahan hati intelektual.

Bahwa ada hal-hal yang membutuhkan proses.

Ada ilmu yang harus dipelajari.

Ada guru yang harus dihormati.

Dan ada kebijaksanaan yang tidak bisa diunduh hanya dengan koneksi internet yang cepat.

Semakin dalam seseorang mengenal Allah, biasanya semakin kecil rasa ingin menjadi pusat alam semesta.

Merdeka Karena Berserah

Ironisnya, kebebasan terbesar justru lahir dari penyerahan.

Manusia modern sering mengira kebebasan berarti mampu mengontrol semuanya.

Padahal itu mustahil.

Mengontrol cuaca tidak bisa.

Mengontrol usia tidak bisa.

Mengontrol hati manusia lain tidak bisa.

Mengontrol masa depan tidak bisa.

Kalau begitu, mengapa kita terus memaksa diri melakukan pekerjaan yang bahkan malaikat tidak pernah diperintahkan mengerjakannya?

Ibn Atha'illah mengajak kita pensiun dari jabatan fiktif sebagai Wakil Direktur Takdir.

Kembalilah menjadi hamba.

Kerjakan yang diperintahkan.

Tinggalkan yang dilarang.

Berusaha sebaik mungkin.

Lalu serahkan hasilnya kepada Allah.

Sebab sebagian besar kecemasan hidup ternyata lahir bukan dari beratnya takdir, melainkan dari keras kepala kita yang ingin menjadi pengatur takdir.

Dan mungkin, pada saat kita akhirnya berhenti mengatur langit, kita justru menemukan kedamaian yang selama ini kita cari di bumi.

Karena ternyata surga dunia bukanlah ketika semua keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati rela bahwa Allah selalu lebih tahu daripada kita.

Wallahu a'lam.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.