Selasa, 09 Juni 2026

Lubang Kecil dan Tikus Influencer: Pelajaran Tolstoy tentang Rezeki, Keserakahan, dan Bahaya Viral

Konon, sebelum ada Instagram, TikTok, YouTube Shorts, dan status WhatsApp yang bisa membuat tetangga mendadak stres, dunia sudah memiliki para influencer. Bedanya, mereka berbulu, berekor, dan tinggal di bawah gudang gandum.

Salah satu influencer pertama dalam sejarah sastra mungkin adalah seekor tikus dalam fabel Leo Tolstoy.

Kisahnya sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Ada seekor tikus yang hidup nyaman di bawah gudang gandum. Dari sebuah lubang kecil di lantai, biji-biji gandum jatuh perlahan. Tidak banyak, tetapi cukup. Tikus itu tidak kaya raya. Ia juga tidak masuk daftar Forbes Tikus Sedunia. Namun ia kenyang, tenang, dan bisa tidur tanpa harus memikirkan cicilan rumah atau harga cabai.

Singkatnya, ia hidup dalam kondisi yang oleh filsuf disebut "cukup", dan oleh manusia modern disebut "kurang konten."

Masalah mulai muncul ketika tikus itu mengalami penyakit yang sangat umum di segala zaman: ingin terlihat sukses.

Awalnya ia hanya menikmati gandum sendirian. Tetapi lama-kelamaan muncul pertanyaan berbahaya dalam benaknya:

"Kalau tidak ada yang tahu aku kaya, apa gunanya aku kaya?"

Pertanyaan itu telah menghancurkan lebih banyak kehidupan daripada harga saham yang jatuh.

Maka ia mulai menggerogoti lubang kecil itu agar semakin besar. Bukan karena lapar. Bukan karena kebutuhan hidup meningkat. Bukan pula karena anak tikusnya masuk universitas swasta.

Ia ingin mengadakan open house.

Ia ingin mengundang tikus-tikus lain.

Ia ingin berkata dengan nada santai yang sangat tidak santai:

"Oh ini? Gudang gandum biasa saja kok. Rezeki kecil. Alhamdulillah."

Padahal di belakang kalimat "rezeki kecil" itu biasanya tersembunyi harapan agar semua orang pingsan karena kagum.

Begitulah cara kerja ego. Ia tidak pernah puas hanya dengan memiliki. Ia ingin disaksikan.

Dalam dunia modern, lubang kecil itu bisa berupa bisnis yang berjalan lancar, penghasilan yang cukup, rumah yang nyaman, atau kehidupan yang damai. Semua baik-baik saja sampai muncul godaan untuk menjadikan semuanya tontonan publik.

Manusia hari ini sering mengalami nasib yang sama dengan si tikus. Awalnya membeli kopi karena haus. Lama-lama membeli kopi karena perlu difoto. Awalnya pergi berlibur untuk beristirahat. Lama-lama berlibur untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya sedang beristirahat.

Kita hidup di zaman ketika sebagian orang lebih sibuk mengabarkan kebahagiaan daripada menikmati kebahagiaan itu sendiri.

Celakanya, alam semesta memiliki selera humor yang unik.

Begitu lubang itu membesar, petani melihatnya.

Dan seperti semua petani yang waras, ia segera menutup lubang tersebut.

Selesai.

Tidak ada debat. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada utas sepanjang dua puluh cuitan yang menjelaskan konteks sebenarnya.

Lubang ditutup.

Gandum berhenti mengalir.

Para tamu pulang dengan perut kosong.

Dan si tikus influencer mendadak kehilangan sumber pendapatannya.

Di sinilah Tolstoy menunjukkan kejeniusannya. Tokoh terpenting dalam cerita ternyata bukan tikus, melainkan petani.

Petani adalah simbol realitas.

Realitas tidak peduli pada pencitraan.

Ia tidak terkesan oleh jumlah pengikut.

Ia tidak kagum pada flexing.

Ia hanya bekerja menurut hukumnya sendiri.

Kita sering lupa bahwa banyak nikmat bertahan justru karena ukurannya kecil. Sebagaimana api unggun yang menghangatkan akan berubah menjadi kebakaran jika terlalu dibesarkan, demikian pula rezeki yang cukup sering berubah menjadi musibah ketika dipaksa menjadi pertunjukan.

Bahkan korupsi sering berjalan mengikuti logika tikus tersebut.

Awalnya hanya lubang kecil.

Lalu muncul keyakinan bahwa dirinya pintar.

Kemudian lubang diperbesar.

Lalu diperbesar lagi.

Lalu diperbesar lagi.

Sampai suatu hari petani bernama KPK, auditor, wartawan, atau netizen menemukan lubang itu.

Dan seperti dalam fabel Tolstoy, penutup datang lebih cepat daripada permintaan maaf.

Yang menarik, Tolstoy tidak sedang mengajarkan kita untuk anti-ambisi. Ia tidak menyuruh manusia menjadi malas dan puas dalam kemiskinan.

Ia hanya mengingatkan bahwa ada perbedaan besar antara bertumbuh dan membesar-besarkan.

Pohon mangga tumbuh tanpa pidato.

Matahari terbit tanpa siaran pers.

Padi yang berisi justru menunduk.

Hanya balon yang suka membesar sambil berisik, dan nasib balon biasanya berakhir dengan suara "duar!"

Mungkin itulah sebabnya banyak orang bijak memilih hidup seperti lubang kecil di bawah gudang gandum. Tidak mencolok, tetapi mencukupi. Tidak viral, tetapi tenang. Tidak menjadi bahan iri banyak orang, tetapi juga tidak mengundang perhatian petani.

Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sering kali bukan soal memiliki lebih banyak gandum.

Kebahagiaan adalah kemampuan untuk menikmati gandum yang sudah jatuh tanpa merasa perlu mengundang seluruh dunia untuk menyaksikannya.

Dan jika suatu hari Anda menemukan sebuah lubang kecil yang membuat hidup terasa cukup, rawatlah baik-baik.

Jangan terlalu rajin menggerogotinya.

Karena sejarah telah menunjukkan bahwa banyak tragedi besar berawal dari kalimat sederhana:

"Tenang saja, siapa yang akan tahu?"

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.