Konon, sebelum ada Instagram, TikTok, YouTube Shorts, dan status WhatsApp yang bisa membuat tetangga mendadak stres, dunia sudah memiliki para influencer. Bedanya, mereka berbulu, berekor, dan tinggal di bawah gudang gandum.
Salah satu influencer pertama dalam sejarah sastra mungkin
adalah seekor tikus dalam fabel Leo Tolstoy.
Kisahnya sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Ada seekor
tikus yang hidup nyaman di bawah gudang gandum. Dari sebuah lubang kecil di
lantai, biji-biji gandum jatuh perlahan. Tidak banyak, tetapi cukup. Tikus itu
tidak kaya raya. Ia juga tidak masuk daftar Forbes Tikus Sedunia. Namun ia
kenyang, tenang, dan bisa tidur tanpa harus memikirkan cicilan rumah atau harga
cabai.
Singkatnya, ia hidup dalam kondisi yang oleh filsuf disebut
"cukup", dan oleh manusia modern disebut "kurang konten."
Masalah mulai muncul ketika tikus itu mengalami penyakit
yang sangat umum di segala zaman: ingin terlihat sukses.
Awalnya ia hanya menikmati gandum sendirian. Tetapi
lama-kelamaan muncul pertanyaan berbahaya dalam benaknya:
"Kalau tidak ada yang tahu aku kaya, apa gunanya aku
kaya?"
Pertanyaan itu telah menghancurkan lebih banyak kehidupan
daripada harga saham yang jatuh.
Maka ia mulai menggerogoti lubang kecil itu agar semakin
besar. Bukan karena lapar. Bukan karena kebutuhan hidup meningkat. Bukan pula
karena anak tikusnya masuk universitas swasta.
Ia ingin mengadakan open house.
Ia ingin mengundang tikus-tikus lain.
Ia ingin berkata dengan nada santai yang sangat tidak
santai:
"Oh ini? Gudang gandum biasa saja kok. Rezeki kecil.
Alhamdulillah."
Padahal di belakang kalimat "rezeki kecil" itu
biasanya tersembunyi harapan agar semua orang pingsan karena kagum.
Begitulah cara kerja ego. Ia tidak pernah puas hanya dengan
memiliki. Ia ingin disaksikan.
Dalam dunia modern, lubang kecil itu bisa berupa bisnis yang
berjalan lancar, penghasilan yang cukup, rumah yang nyaman, atau kehidupan yang
damai. Semua baik-baik saja sampai muncul godaan untuk menjadikan semuanya
tontonan publik.
Manusia hari ini sering mengalami nasib yang sama dengan si
tikus. Awalnya membeli kopi karena haus. Lama-lama membeli kopi karena perlu
difoto. Awalnya pergi berlibur untuk beristirahat. Lama-lama berlibur untuk
membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya sedang beristirahat.
Kita hidup di zaman ketika sebagian orang lebih sibuk
mengabarkan kebahagiaan daripada menikmati kebahagiaan itu sendiri.
Celakanya, alam semesta memiliki selera humor yang unik.
Begitu lubang itu membesar, petani melihatnya.
Dan seperti semua petani yang waras, ia segera menutup
lubang tersebut.
Selesai.
Tidak ada debat. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada konferensi
pers. Tidak ada utas sepanjang dua puluh cuitan yang menjelaskan konteks
sebenarnya.
Lubang ditutup.
Gandum berhenti mengalir.
Para tamu pulang dengan perut kosong.
Dan si tikus influencer mendadak kehilangan sumber
pendapatannya.
Di sinilah Tolstoy menunjukkan kejeniusannya. Tokoh
terpenting dalam cerita ternyata bukan tikus, melainkan petani.
Petani adalah simbol realitas.
Realitas tidak peduli pada pencitraan.
Ia tidak terkesan oleh jumlah pengikut.
Ia tidak kagum pada flexing.
Ia hanya bekerja menurut hukumnya sendiri.
Kita sering lupa bahwa banyak nikmat bertahan justru karena
ukurannya kecil. Sebagaimana api unggun yang menghangatkan akan berubah menjadi
kebakaran jika terlalu dibesarkan, demikian pula rezeki yang cukup sering
berubah menjadi musibah ketika dipaksa menjadi pertunjukan.
Bahkan korupsi sering berjalan mengikuti logika tikus
tersebut.
Awalnya hanya lubang kecil.
Lalu muncul keyakinan bahwa dirinya pintar.
Kemudian lubang diperbesar.
Lalu diperbesar lagi.
Lalu diperbesar lagi.
Sampai suatu hari petani bernama KPK, auditor, wartawan,
atau netizen menemukan lubang itu.
Dan seperti dalam fabel Tolstoy, penutup datang lebih cepat
daripada permintaan maaf.
Yang menarik, Tolstoy tidak sedang mengajarkan kita untuk
anti-ambisi. Ia tidak menyuruh manusia menjadi malas dan puas dalam kemiskinan.
Ia hanya mengingatkan bahwa ada perbedaan besar antara
bertumbuh dan membesar-besarkan.
Pohon mangga tumbuh tanpa pidato.
Matahari terbit tanpa siaran pers.
Padi yang berisi justru menunduk.
Hanya balon yang suka membesar sambil berisik, dan nasib
balon biasanya berakhir dengan suara "duar!"
Mungkin itulah sebabnya banyak orang bijak memilih hidup
seperti lubang kecil di bawah gudang gandum. Tidak mencolok, tetapi mencukupi.
Tidak viral, tetapi tenang. Tidak menjadi bahan iri banyak orang, tetapi juga
tidak mengundang perhatian petani.
Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sering kali bukan soal
memiliki lebih banyak gandum.
Kebahagiaan adalah kemampuan untuk menikmati gandum yang
sudah jatuh tanpa merasa perlu mengundang seluruh dunia untuk menyaksikannya.
Dan jika suatu hari Anda menemukan sebuah lubang kecil yang
membuat hidup terasa cukup, rawatlah baik-baik.
Jangan terlalu rajin menggerogotinya.
Karena sejarah telah menunjukkan bahwa banyak tragedi besar
berawal dari kalimat sederhana:
"Tenang saja, siapa yang akan tahu?"
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.