Sabtu, 13 Juni 2026

Juan, Pedro, dan Mesin Fotokopi Keadilan

Tentang George Bernard Shaw, Populisme, dan Perebutan Dompet Tetangga

Di sebuah negeri yang entah di mana, hiduplah dua warga yang sangat terkenal: Juan dan Pedro.

Juan bangun pagi, bekerja keras, membayar pajak, mengisi formulir yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah anggota keluarganya, lalu pulang dengan wajah yang terlihat seperti seseorang yang baru selesai bertengkar dengan tagihan listrik.

Pedro juga bangun pagi. Bedanya, ia bangun untuk menonton berita yang mengabarkan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan baru kepada masyarakat. Setelah mendengar kabar itu, Pedro tersenyum hangat kepada televisi seperti seseorang yang baru menerima pesan cinta dari mantan.

Di tengah-tengah mereka berdirilah pemerintah, memegang kalkulator di tangan kanan dan kotak suara di tangan kiri.

George Bernard Shaw pernah melontarkan kalimat yang terkenal:

"Pemerintah yang merampok Juan untuk memberi kepada Pedro akan selalu mendapatkan dukungan tanpa syarat dari Pedro."

Kalimat ini pendek. Tetapi dampaknya seperti cabai rawit politik: kecil, namun cukup membuat banyak orang berkeringat.

Politik sebagai Seni Membagikan Kue yang Belum Dibuat

Masalahnya, dalam politik modern, membagi kue sering kali lebih populer daripada membuat kue.

Membuat kue memerlukan kerja keras, investasi, pendidikan, infrastruktur, reformasi birokrasi, dan berbagai kata rumit yang tidak cocok dijadikan slogan kampanye.

Sebaliknya, membagi kue sangat sederhana.

Politikus hanya perlu berdiri di atas panggung dan berkata:

"Saudara-saudara! Kue ini akan kita bagikan secara adil!"

Tepuk tangan pun bergemuruh.

Tidak ada yang bertanya dari mana tepungnya berasal.

Tidak ada yang bertanya siapa yang menyalakan oven.

Tidak ada yang bertanya siapa yang mencuci loyangnya.

Semua fokus pada potongan kue yang akan diterima.

Dalam situasi seperti ini, Juan mulai merasa dirinya bukan warga negara, melainkan bahan baku negara.

Mesin Fotokopi Uang yang Tidak Pernah Ada

Politik populis sering bekerja seperti mesin fotokopi ajaib.

Setiap kali muncul masalah ekonomi, solusi yang ditawarkan adalah program baru.

Ketika program gagal, dibuat program lain.

Ketika program kedua gagal, dibuat lagi program ketiga dengan nama yang lebih panjang dan logo yang lebih berwarna.

Negara seolah percaya bahwa uang tumbuh di pohon anggaran.

Padahal uang negara tidak berbeda dengan uang keluarga.

Jika seorang ayah mengambil dompet anak sulung untuk memberi uang jajan kepada adiknya, mungkin keluarga masih bisa bertahan.

Tetapi jika itu dilakukan setiap hari selama dua puluh tahun, yang terjadi bukanlah keadilan keluarga.

Yang terjadi adalah kakak mulai malas bekerja, adik mulai malas mandiri, dan ayah mulai bingung mengapa semua orang marah kepadanya.

Masalahnya Tidak Sesederhana Juan dan Pedro

Namun berhati-hatilah.

Dalam cerita politik, Juan tidak selalu malaikat.

Kadang-kadang Juan memiliki tiga rumah, lima perusahaan, dan tujuh cara legal untuk menghindari pajak.

Ketika berbicara tentang kerja keras, ia sering lupa menyebut bahwa kakeknya dulu mendapat monopoli dari negara.

Sebaliknya, Pedro tidak selalu pemalas.

Ada Pedro yang miskin karena lahir di daerah tanpa sekolah yang layak.

Ada Pedro yang sakit.

Ada Pedro yang bekerja keras tetapi tetap tidak mampu mengejar garis start yang sejak awal sudah jauh di depan.

Karena itu, dunia nyata tidak sesederhana kartun politik yang menggambarkan Juan sebagai korban suci dan Pedro sebagai pemburu bantuan profesional.

Kehidupan jauh lebih rumit.

Kadang Juan perlu dibantu agar tidak dimusuhi.

Kadang Pedro perlu dibantu agar tidak tertinggal.

Dan kadang pemerintah perlu dibantu agar mengingat bahwa kalkulator lebih penting daripada pengeras suara.

Negara Sebagai Tukang Kebun, Bukan Pesulap

Mungkin kesalahan terbesar dalam perdebatan ini adalah menganggap negara sebagai pesulap.

Kelompok pertama percaya negara bisa menyelesaikan semua masalah dengan membagikan uang.

Kelompok kedua percaya negara tidak perlu melakukan apa pun selain menjaga pagar.

Keduanya sama-sama berlebihan.

Negara yang baik lebih mirip tukang kebun.

Ia menyiram tanaman yang layu.

Ia membersihkan gulma.

Ia menjaga agar pohon besar tidak menutupi seluruh sinar matahari.

Tetapi ia tidak bisa menarik batang tanaman setiap hari agar tumbuh lebih cepat.

Jika dipaksa, akarnya justru patah.

Begitulah ekonomi.

Terlalu sedikit bantuan dapat melahirkan ketimpangan yang meledak menjadi kemarahan sosial.

Terlalu banyak bantuan dapat melahirkan ketergantungan yang mematikan produktivitas.

Keduanya sama-sama berbahaya.

Jangan Ambil Dompet Juan, Jangan Tinggalkan Pedro

Kutipan Shaw tetap relevan karena mengingatkan bahwa politik selalu berurusan dengan insentif.

Orang cenderung mendukung kebijakan yang menguntungkan dirinya.

Itu bukan dosa. Itu sifat manusia.

Tetapi kebijakan yang baik tidak boleh berhenti pada pertanyaan: "Siapa yang senang hari ini?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah masyarakat akan lebih kuat sepuluh tahun dari sekarang?"

Jika seluruh energi politik hanya digunakan untuk memindahkan isi dompet Juan ke kantong Pedro, akhirnya yang tersisa hanyalah dua kantong kosong dan satu pemerintah yang kebingungan mencari dompet berikutnya.

Keadilan bukanlah soal mengambil sebanyak mungkin dari Juan.

Bukan pula soal membiarkan Pedro berjuang sendirian.

Keadilan adalah seni yang sulit: membuat Juan tetap bersemangat menghasilkan kue, sambil memastikan Pedro memiliki kesempatan yang adil untuk ikut masuk ke dapur.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.