Tentang Kebiasaan Mengunyah yang Ternyata Ikut “Memakan Kita”
Ada dua jenis manusia di dunia ini: mereka yang mengunyah permen karet untuk menyegarkan napas, dan mereka yang mengunyah permen karet karena bosan menunggu hidup menjadi lebih menarik. Kedua golongan ini biasanya tidak pernah membayangkan bahwa saat rahang mereka bekerja dengan penuh dedikasi, ada ribuan partikel plastik yang diam-diam ikut “pesta makan” di dalam mulut.
Penemuan ilmiah yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Chemical Society pada musim semi 2025 membuat dunia permen karet sedikit kurang manis. Para peneliti dari University of California, Los Angeles (yang lebih sering kita kenal sebagai UCLA) menemukan bahwa satu potong permen karet dapat melepaskan ratusan hingga ribuan partikel mikroplastik ketika dikunyah.
Artinya, selain rasa mint yang menyegarkan, Anda juga mungkin sedang menikmati menu tambahan: serpihan plastik berukuran mikroskopis.
Tidak perlu khawatir—rasanya tetap tidak terdeteksi. Plastik ini hadir dengan sopan, tanpa rasa, tanpa aroma, dan tanpa izin.
Rahang Manusia: Mesin Penghancur yang Terlalu Efektif
Para ilmuwan melakukan eksperimen sederhana namun cukup membuat kita berpikir dua kali sebelum membeli permen karet ukuran keluarga. Mereka menguji sepuluh jenis permen karet: lima sintetis dan lima yang mengklaim dirinya “alami”.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Dalam waktu sekitar 10–30 menit mengunyah, satu permen karet dapat melepaskan hingga lebih dari 3.000 partikel mikroplastik. Sebagian besar bahkan keluar dengan penuh semangat dalam delapan menit pertama.
Dengan kata lain, delapan menit pertama mengunyah adalah semacam “festival pelepasan plastik”.
Ini terjadi karena sesuatu yang sangat manusiawi: kita mengunyah terlalu baik.
Gigi bergesekan dengan permen karet, air liur membantu proses abrasi, dan perlahan-lahan permukaan permen karet terkelupas seperti tebing yang terkikis ombak. Bedanya, ombaknya adalah air liur, dan tebingnya adalah campuran polimer modern.
Jadi ketika seseorang berkata, “Saya hanya mengunyah,” sebenarnya yang terjadi adalah proses mikro-industri plastik skala kecil di dalam mulut.
Ironi Produk “Alami”
Jika Anda termasuk orang yang memilih produk dengan label “alami”, mungkin Anda merasa aman.
Sayangnya, sains kadang punya selera humor.
Dalam penelitian ini, permen karet yang mengklaim dirinya alami ternyata tidak selalu lebih baik. Dalam beberapa kasus, justru melepaskan mikroplastik dalam jumlah yang sama—bahkan kadang lebih banyak.
Ini seperti membeli sayur organik, lalu menemukan bahwa ulatnya juga organik.
Label “alami” ternyata tidak selalu berarti bebas dari teknologi polimer modern. Bisa saja bahan dasarnya alami, tetapi proses produksinya tetap melibatkan berbagai bahan tambahan yang membuat hasil akhirnya… tetap bersahabat dengan plastik.
Kesimpulannya: kata “alami” pada kemasan kadang lebih bersifat filosofis daripada kimiawi.
Plastik yang Ikut Berwisata ke Tubuh
Setelah tertelan, mikroplastik ini tidak langsung berubah menjadi kenangan. Plastik dikenal sebagai makhluk yang keras kepala: ia tidak mudah dihancurkan oleh sistem pencernaan.
Akibatnya, partikel tersebut akan melakukan perjalanan wisata melalui saluran pencernaan kita.
Para ilmuwan masih meneliti dampak jangka panjangnya. Beberapa kekhawatiran meliputi potensi peradangan, gangguan mikrobioma usus, dan kemungkinan pelepasan bahan kimia dari plastik.
Jika seseorang mengunyah sekitar 160–180 permen karet per tahun, jumlah mikroplastik yang masuk ke tubuh bisa mencapai puluhan ribu partikel.
Angka itu terdengar besar—meskipun kita harus jujur bahwa tubuh manusia juga sudah cukup akrab dengan mikroplastik dari air minum, udara, dan debu rumah.
Sepertinya plastik benar-benar serius ingin menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Reaksi Publik: Dari Tertawa Sampai Mengeluh
Seperti biasa, internet tidak pernah mengecewakan.
Sebagian orang merespons berita ini dengan humor. Ada yang menulis bahwa daftar “hal yang ternyata tidak sehat” semakin panjang setiap tahun.
Ada pula yang bersikap skeptis, mengingat penelitian ini masih terbatas.
Namun banyak juga yang mulai berpikir ulang tentang kebiasaan mengunyah mereka.
Manusia memang unik: kita bisa tetap tenang menghadapi perubahan iklim global, tetapi cukup gelisah jika ternyata permen karet pun tidak sepenuhnya polos.
Solusi Sederhana yang Agak Lucu
Menariknya, para peneliti tidak menyarankan kita berhenti total mengunyah permen karet. Mereka hanya memberi saran praktis:
Jika ingin mengunyah, kunyahlah satu permen lebih lama daripada sering menggantinya.
Alasannya sederhana: pelepasan mikroplastik paling tinggi terjadi di awal pengunyahan. Setelah itu, jumlahnya menurun.
Ini mungkin pertama kalinya dalam sejarah kesehatan publik seseorang disarankan untuk tidak terlalu sering mengganti permen karet.
Sebuah nasihat yang mungkin terdengar aneh, tetapi tetap masuk akal.
Dunia yang Penuh Hal Tak Terduga
Kisah permen karet ini memberi kita pelajaran kecil tentang dunia modern: bahkan kebiasaan paling sederhana pun bisa menyimpan cerita ilmiah yang rumit.
Kita mengunyah untuk menyegarkan napas, tetapi ternyata juga mengundang partikel plastik untuk ikut berpetualang di tubuh kita.
Apakah ini berarti kita harus panik? Tentu tidak.
Dan jika suatu hari Anda melihat seseorang mengunyah permen karet dengan penuh perenungan, jangan heran.
Bisa jadi ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat filosofis:
Bahwa di dunia modern, bahkan kegiatan santai seperti mengunyah pun ternyata memiliki… jejak plastik yang cukup serius.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.