Bayangkan suatu hari Anda sedang duduk di warung kopi,
mengetik tugas di laptop. Tiba-tiba, di meja sebelah ada seseorang yang juga
mengetik — tapi tanpa laptop, tanpa tangan, bahkan tanpa jari. Ia hanya menatap
kosong ke udara, dan klik, paragraf baru muncul.
Itulah Nolan Arbaugh, manusia pertama yang secara resmi mengetik pakai
pikiran. Sinyalnya bukan dari Wi-Fi Indihome, tapi dari otaknya sendiri —
hasil implan ajaib bernama Neuralink, ciptaan Elon Musk, bapak segala
startup yang percaya kalau ide gila itu cuma menunggu sinyal kuat.
Dari Kolam Renang ke Neuralink
Dulu Nolan hanyalah pemuda biasa yang gemar menyelam.
Sayangnya, takdir berkata lain — ia mengalami kecelakaan dan lumpuh dari leher
ke bawah. Dunia seolah berhenti… sampai Elon Musk datang membawa tawaran yang
bunyinya seperti dari film Marvel:
“Maukah kamu jadi manusia pertama yang otaknya di-upgrade?”
Alih-alih takut jadi eksperimen gagal, Nolan
menjawab: “Kenapa tidak?”
Begitulah, implan itu ditanam, diberi nama “Eve” — seperti memberi nama pada
tamagotchi yang hidup di kepala sendiri.
Ketika Pikiran Jadi Keyboard
Kini, setelah 21 bulan hidup bersama Eve, Nolan bukan hanya
bisa mengetik pakai pikiran, tapi juga kuliah pra-kalkulus, belajar ilmu
saraf, dan jadi pembicara teknologi.
Ia bahkan menggoda akan ada “berita besar 2026”. Mungkin Neuralink akan merilis
versi Eve 2.0, atau mungkin Nolan akan meluncurkan podcast berjudul “Ngopi
Bareng Gelombang Otak”.
Neuralink sendiri jarang menghubunginya lagi. Nolan
bercanda, “mereka kontak saya sekali dalam bulan biru.” Artinya, otaknya kini benar-benar
independen. Bayangkan, bahkan teknologi Elon Musk pun sudah move on,
sementara otak Nolan tetap online 24 jam.
Dari Bed Rumah Sakit ke Panggung Teknologi
Yang dulu tak bisa bergerak, kini berbicara di konferensi
teknologi, diundang oleh majalah Fortune, dan mendapat nilai A.
Kalau dulu “motivasi” datang dari seminar, kini motivasi datang dari gelombang
otak stabil berfrekuensi tinggi.
Kalimat baru untuk buku motivasi tahun depan:
“Percayalah pada dirimu — atau kalau tidak, pasang
Neuralink.”
Etika, Etiket, dan E-Teknologi
Tentu saja, di balik kehebatan ini, banyak pertanyaan
muncul. Apakah nanti orang bisa download bahasa Mandarin langsung ke
otak? Apakah curhat ke pacar akan disimpan di cloud? Apakah kita
harus update firmware hati tiap bulan?
Khawatir juga kalau Neuralink nanti dijual versi “Pro Max”
dengan fitur tambahan: bisa baca pikiran orang lain.
Bayangkan debat politik atau sidang skripsi di masa depan — dosen belum
ngomong, mahasiswa sudah menyerah duluan karena pikiran dosennya kebaca: “Cuma
segini hasil risetmu?”
Manusia 2.0: Dari “Upgrade” ke “Upload”
Teknologi ini membuat kita bertanya ulang: apa arti
“manusia” ketika pikiran bisa dikoneksikan ke server?
Mungkin nanti ada dua jenis manusia:
- yang
pikirannya buffering,
- dan
yang pakai Neuralink versi unlimited data plan.
Elon Musk bahkan sempat bercanda Nolan akan jadi “yang
pertama dapat implan ganda.”
Kita tak tahu apakah maksudnya dua chip di otak, atau satu lagi di hati —
supaya bisa sync antara logika dan perasaan.
Akhirnya, Nolan Jadi Simbol
Nolan bukan hanya pasien pertama; ia adalah simbol manusia
modern yang menolak kalah oleh keterbatasan tubuh.
Ia “berjalan dengan gelombang otak”, menulis tanpa tangan, berbicara tanpa
suara — dan barangkali, berpikir lebih cepat dari notifikasi WhatsApp.
Kalau Descartes dulu bilang, “Aku berpikir maka aku ada,”
maka versi Neuralink-nya adalah:
“Aku berpikir — dan sistem otomatis menyimpannya di Google
Drive.”
🧩 Penutup:
Kisah Nolan mengingatkan kita bahwa masa depan sudah tiba, hanya saja belum
semua punya router otak yang kompatibel.
Dan mungkin suatu hari nanti, saat kita kehabisan ide menulis, kita cukup
menatap layar dan berkata pelan:
“Neuralink, tolong tuliskan esai jenaka tentang
diriku.
abah-arul.blogspot.com., November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.