Setiap awal bulan, sebagian rakyat dunia menjalani ritual sakral: menerima gaji, membuka slip, lalu menatap angka potongan pajak dengan ekspresi seperti menemukan mantan menikah dengan sahabat sendiri. Itulah saat di mana manusia modern menyadari bahwa ia bukan hanya pekerja, tapi juga donatur tetap pemerintah—tanpa pernah mendapat piagam penghargaan atau tanda terima yang bisa dibingkai.
Tak heran ketika seorang tokoh eksentrik di dunia teknologi
berteriak di atas panggung, “You work, you get taxed. You buy something, you
get taxed. You own something, you get taxed again!” — dunia bersorak. Akhirnya
ada yang berkata jujur, pikir mereka. Tapi kalau dipikir-pikir, itu sama saja
seperti seseorang mengeluh bahwa “setiap kali saya makan, saya jadi kenyang.”
Ya… itu memang konsekuensi logis dari sistem yang kita pilih.
Namun karena dunia maya lebih suka keluhan yang berirama
heroik, kalimat itu pun diubah jadi puisi penderitaan digital: loop of quiet
control — lingkaran penghisapan yang konon menjadikan warga negara budak
pajak modern. Sebagian warganet langsung berteriak “revolusi!”, sementara
sebagian lainnya bingung: “Kalau semua pajak dihapus, nanti siapa yang bayar
jalan tol yang belum selesai tapi sudah macet?”
Sungguh, debat soal pajak ini seperti drama keluarga besar:
semua merasa berkorban, tapi tak ada yang mau cuci piring. Pemerintah berkata,
“Kami butuh pajak untuk membangun negeri.” Rakyat menjawab, “Tapi kenapa setiap
kali kami lihat proyek, yang dibangun dulu justru plang bertuliskan ‘Dibiayai
oleh Pajak Anda’?” Sebuah pengingat yang terasa seperti pesan pasif-agresif
dari kosmos.
Tentu saja, dalam teori yang indah, pajak adalah bentuk
gotong royong modern—semacam patungan nasional agar semua bisa hidup
layak. Jalan, rumah sakit, sekolah, bahkan sinyal Wi-Fi kantor pajak—semuanya
dari uang kita. Tapi di dunia nyata, transparansi anggaran sering kali seperti
siaran sepak bola pakai parabola rusak: gambar kadang muncul, tapi suaranya
hilang.
Ironinya, sebagian yang paling vokal menentang pajak justru
para miliarder yang perusahaannya hidup dari subsidi dan kontrak pemerintah.
Ibarat orang yang menolak bayar tiket bioskop, padahal dia sutradaranya,
pemerannya, sekaligus pemilik gedungnya. Mereka berteriak “Stop the tax
oppression!” sambil mengantongi bonus dari proyek yang dibiayai… ya, pajak.
Tentu, bukan berarti rakyat harus diam menerima semua ini.
Pajak memang perlu diawasi. Tapi membenci pajak secara total itu seperti marah
pada listrik karena tagihan bulanannya—tanpa sadar, kalau lampunya mati, kita
juga yang panik duluan. Jadi, solusi yang waras bukanlah membakar tagihan, tapi
memastikan arusnya tidak bocor ke tempat yang salah.
Pada akhirnya, pajak adalah cermin peradaban: apakah kita
hidup dalam masyarakat yang adil dan transparan, atau dalam sitcom absurd di
mana rakyat kerja keras sementara birokrasi sibuk rapat tentang “rencana
pembentukan panitia peninjauan efektivitas pajak”?
Jadi, jika bulan ini Anda melihat potongan pajak di slip
gaji, jangan langsung sedih. Bayangkan saja Anda baru menyumbang sedikit untuk
membangun jalan, sekolah, atau… setidaknya memperpanjang umur pohon plastik di
taman kota. Dan kalau pemerintah masih boros, ya mungkin saatnya kita kirimkan
catatan kecil di bawah laporan pajak:
“Dari rakyat, untuk rakyat. Tolong jangan lupa bagian ‘untuk
rakyat’-nya.”
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.