Bayangkan suatu pagi di Moskow: di antara aroma bubur bayi dan bunyi popok yang “krak-krik”, seorang ibu tersenyum bahagia — bukan karena bayinya tidur nyenyak, tapi karena akhirnya setiap tetes keringat mengganti popok diakui negara sebagai “pengabdian nasional.”
Ya, selamat datang di Rusia tahun 2025, di mana mengasuh
anak bukan lagi urusan keluarga kecil di apartemen sempit, tapi urusan negara
besar dengan ambisi demografi yang lebih besar lagi. Sebuah postingan viral
dari akun penggemar Vladimir Putin mengumumkan kebijakan baru: ibu rumah
tangga akan diakui sebagai pekerja resmi, lengkap dengan masa cuti melahirkan
yang dihitung untuk pensiun.
Tentu, dunia maya langsung heboh. Ada yang memuji Rusia
sebagai “pelopor feminisme Slavia,” ada juga yang sinis: “Jadi sekarang, ganti
popok bisa masuk CV?”
Dari Sidang Kremlin ke Grup WhatsApp Keluarga
Kebijakan ini bukan karangan semata. Ia lahir dari rapat
serius di Kremlin pada Oktober 2025. Di sana, Putin tidak sedang membahas rudal
hipersonik, melainkan... harga susu formula dan kontribusi pensiun ibu rumah
tangga.
Dalam gaya khasnya yang tegas dan penuh kalkulasi, ia
menyebut kondisi para ibu sebagai “limbo finansial.” Sebuah istilah yang
terdengar seperti film horor ekonomi — hidup di antara dunia kerja dan dunia
rumah tangga, tanpa gaji, tanpa poin pensiun, tapi dengan jam kerja 24 jam.
Putin kemudian memerintahkan agar masa mengasuh anak
dihitung sebagai pekerjaan resmi. Dengan kata lain, menidurkan bayi kini
resmi diakui sebagai tugas negara.
Eropa barat tentu mengangkat alis: “Kami sudah punya itu
sejak lama.” Tapi di Rusia, kebijakan ini disambut dengan kebanggaan nasional —
karena di sana, bahkan popok pun bisa jadi simbol patriotisme.
Demografi: Dari Cinta Jadi Pertahanan Nasional
Motif di balik kebijakan ini cukup serius — Rusia sedang
menghadapi krisis demografi. Tingkat kelahiran turun ke 1,4 anak per perempuan,
sementara jumlah pemuda produktif ikut menyusut karena perang, emigrasi, dan
biaya hidup yang menggigit.
Dalam perspektif geopolitik, ini luar biasa logis: jika
jumlah penduduk menurun, siapa yang akan jadi tentara, insinyur, atau penonton
parade militer? Negara butuh bayi — bukan hanya untuk lucu-lucuan, tapi untuk
masa depan nasional.
Maka, setiap popok yang diganti kini tak sekadar pekerjaan
rumah tangga, tapi kontribusi strategis terhadap keamanan nasional.
Propaganda, Popok, dan Patriarki yang Daur Ulang
Tentu, media sosial Rusia segera memoles kebijakan ini
dengan foto keluarga bahagia di depan Kremlin. Ayah, ibu, dua anak, dan latar
belakang gedung merah bata yang heroik. Semua tampak harmonis, patriotik, dan
bebas stres — padahal di dunia nyata, susu bayi masih mahal dan daycare tetap
penuh antrean.
Narasi “Rusia peduli keluarga” dipromosikan sebagai
tandingan Barat yang “individualistik.” Tapi, para pengamat feminis menatapnya
dengan alis melengkung:
“Apakah ini langkah maju — atau sekadar cara baru agar
perempuan tetap di dapur, hanya kali ini dengan stempel resmi pemerintah?”
Ironinya, negara yang baru saja memberi pengakuan kerja
domestik ini masih punya PR besar dalam hal perlindungan perempuan dari
kekerasan domestik. Jadi, di satu sisi negara mengakui kerja ibu, di sisi lain
masih belum cukup melindungi mereka dari ‘drama rumah tangga’ yang lebih
berbahaya dari tugas mengganti popok tengah malam.
Kesimpulan: Dari Popok ke Propaganda
Pada akhirnya, kebijakan ini adalah cermin zaman: di era
pasca-kebenaran, setiap postingan bisa jadi propaganda, setiap kebijakan bisa
jadi meme.
Mungkin suatu hari nanti, seorang ibu akan mendapat pesan
dari kantor pemerintah:
“Selamat! Target kelahiran kuartal pertama tercapai. Bonus
Anda akan dikirim dalam bentuk subsidi susu formula.”
Dan dunia pun belajar satu hal penting: dalam politik
modern, bahkan cinta ibu bisa dijadikan strategi nasional.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.