Rabu, 12 November 2025

Mengasuh Anak sebagai Pekerjaan Nasional: Ketika Negara Ikut Ganti Popok

Bayangkan suatu pagi di Moskow: di antara aroma bubur bayi dan bunyi popok yang “krak-krik”, seorang ibu tersenyum bahagia — bukan karena bayinya tidur nyenyak, tapi karena akhirnya setiap tetes keringat mengganti popok diakui negara sebagai “pengabdian nasional.”

Ya, selamat datang di Rusia tahun 2025, di mana mengasuh anak bukan lagi urusan keluarga kecil di apartemen sempit, tapi urusan negara besar dengan ambisi demografi yang lebih besar lagi. Sebuah postingan viral dari akun penggemar Vladimir Putin mengumumkan kebijakan baru: ibu rumah tangga akan diakui sebagai pekerja resmi, lengkap dengan masa cuti melahirkan yang dihitung untuk pensiun.

Tentu, dunia maya langsung heboh. Ada yang memuji Rusia sebagai “pelopor feminisme Slavia,” ada juga yang sinis: “Jadi sekarang, ganti popok bisa masuk CV?”

Dari Sidang Kremlin ke Grup WhatsApp Keluarga

Kebijakan ini bukan karangan semata. Ia lahir dari rapat serius di Kremlin pada Oktober 2025. Di sana, Putin tidak sedang membahas rudal hipersonik, melainkan... harga susu formula dan kontribusi pensiun ibu rumah tangga.

Dalam gaya khasnya yang tegas dan penuh kalkulasi, ia menyebut kondisi para ibu sebagai “limbo finansial.” Sebuah istilah yang terdengar seperti film horor ekonomi — hidup di antara dunia kerja dan dunia rumah tangga, tanpa gaji, tanpa poin pensiun, tapi dengan jam kerja 24 jam.

Putin kemudian memerintahkan agar masa mengasuh anak dihitung sebagai pekerjaan resmi. Dengan kata lain, menidurkan bayi kini resmi diakui sebagai tugas negara.

Eropa barat tentu mengangkat alis: “Kami sudah punya itu sejak lama.” Tapi di Rusia, kebijakan ini disambut dengan kebanggaan nasional — karena di sana, bahkan popok pun bisa jadi simbol patriotisme.

Demografi: Dari Cinta Jadi Pertahanan Nasional

Motif di balik kebijakan ini cukup serius — Rusia sedang menghadapi krisis demografi. Tingkat kelahiran turun ke 1,4 anak per perempuan, sementara jumlah pemuda produktif ikut menyusut karena perang, emigrasi, dan biaya hidup yang menggigit.

Maka, solusi Kremlin: bukan imigrasi, tapi inspirasi domestik.
Slogan tak resminya: “Cintailah tanah airmu — dan buatlah lebih banyak warga negara baru!”

Dalam perspektif geopolitik, ini luar biasa logis: jika jumlah penduduk menurun, siapa yang akan jadi tentara, insinyur, atau penonton parade militer? Negara butuh bayi — bukan hanya untuk lucu-lucuan, tapi untuk masa depan nasional.

Maka, setiap popok yang diganti kini tak sekadar pekerjaan rumah tangga, tapi kontribusi strategis terhadap keamanan nasional.

Propaganda, Popok, dan Patriarki yang Daur Ulang

Tentu, media sosial Rusia segera memoles kebijakan ini dengan foto keluarga bahagia di depan Kremlin. Ayah, ibu, dua anak, dan latar belakang gedung merah bata yang heroik. Semua tampak harmonis, patriotik, dan bebas stres — padahal di dunia nyata, susu bayi masih mahal dan daycare tetap penuh antrean.

Narasi “Rusia peduli keluarga” dipromosikan sebagai tandingan Barat yang “individualistik.” Tapi, para pengamat feminis menatapnya dengan alis melengkung:

“Apakah ini langkah maju — atau sekadar cara baru agar perempuan tetap di dapur, hanya kali ini dengan stempel resmi pemerintah?”

Ironinya, negara yang baru saja memberi pengakuan kerja domestik ini masih punya PR besar dalam hal perlindungan perempuan dari kekerasan domestik. Jadi, di satu sisi negara mengakui kerja ibu, di sisi lain masih belum cukup melindungi mereka dari ‘drama rumah tangga’ yang lebih berbahaya dari tugas mengganti popok tengah malam.

Kesimpulan: Dari Popok ke Propaganda

Pada akhirnya, kebijakan ini adalah cermin zaman: di era pasca-kebenaran, setiap postingan bisa jadi propaganda, setiap kebijakan bisa jadi meme.

Rusia berhasil menciptakan narasi baru: “Menjadi ibu adalah pekerjaan negara.”
Kalimat yang terdengar indah — sampai Anda sadar bahwa dalam birokrasi, setiap pekerjaan resmi datang dengan laporan, target, dan evaluasi.

Mungkin suatu hari nanti, seorang ibu akan mendapat pesan dari kantor pemerintah:

“Selamat! Target kelahiran kuartal pertama tercapai. Bonus Anda akan dikirim dalam bentuk subsidi susu formula.”

Dan dunia pun belajar satu hal penting: dalam politik modern, bahkan cinta ibu bisa dijadikan strategi nasional.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.