Pendahuluan: Dunia Butuh Pelukan, Tapi Siapa yang Bayar Tagihan?
Konon, di masa lalu, peradaban tumbuh karena dua hal:
keberanian dan kolonialisme. Kini, menurut sebagian intelektual Barat,
peradaban justru terancam oleh satu hal: empati. Ya, empati! Kata yang
dulu dianggap kebajikan kini diperlakukan seperti virus mematikan dalam wacana
akademik digital.
Profesor Gad Saad menyebutnya “suicidal empathy” —
empati bunuh diri — dan Elon Musk langsung me-retweet dengan nada
kiamat, seperti sedang menjual tiket terakhir ke Mars: “Western Civilization is
doomed.” Tentu saja, semua ini diucapkan dari kursi kulit mahal dengan
pemandangan satelit Starlink di atas kepala.
Mereka berdua tampak sepakat: kalau Barat terlalu baik, maka
tamatlah sudah peradaban. Singkatnya, jangan terlalu lembut, nanti punah.
Bagian I: Evolusi, Inovasi, dan Ketakutan Akan Pelukan
Menurut Saad, peradaban Barat lahir dari kompetisi Darwinian
— yang artinya, yang lemah tersingkir, dan yang kuat bikin startup. Empati,
katanya, adalah bentuk kelemahan evolusioner: rasa kasihan pada yang kalah,
padahal yang kalah jelas tidak fit to survive.
Musk pun datang membawa amplifikasi apokaliptik: empati
berlebih adalah tombol self-destruct yang ditekan sambil menangis. Ia
seperti berkata, “Kita tidak bisa menyelamatkan dunia sambil membiarkan semua
orang masuk ke pesta.” Dalam versinya, peradaban Barat adalah kapal Titanic —
dan empati adalah penumpang yang minta tambahan kursi di sekoci.
Namun, seorang komentator anonim di kolom bawah dengan gaya troll
akademik menulis:
“Saad ingin menyelamatkan Barat dengan lebih banyak
barbarisme. Ironis, karena barbarisme-lah yang dulu membuat Barat berjaya.”
Dengan kata lain: Empati mungkin membunuh Barat, tapi
kolonialisme dulu yang melahirkannya.
Bagian II: Sejarah, Hipokrisi, dan Sisa Kopi di Gelas
Empire
Kritikus lain tak ketinggalan mengingatkan: Amerika bukan
“peradaban paling bermoral,” melainkan “peradaban paling sukses dalam
membungkus barbarisme dengan jazz dan demokrasi.” Dulu menjajah, sekarang
menasihati. Dulu membangun kapal perang, sekarang bikin kapal bantuan
kemanusiaan — tapi tetap dengan bendera yang sama.
Empati, kata mereka, bukanlah racun baru; itu hanya karma
yang menuntut pembayaran cicilan moral.
Namun ada juga suara bijak di tengah hiruk-pikuk ini —
semacam Socrates dengan akun Twitter:
“Tidak ada peradaban runtuh karena empati. Mereka runtuh
karena lupa pada idealismenya sendiri.”
Sebuah catatan yang tampak sederhana, tapi jika
diterjemahkan ke bahasa politik modern berarti: jangan menyalahkan kaum baik
hati, salahkan kaum korup.
Bagian III: Masa Kini – Ketika Empati Menjadi Barang
Mewah
Di abad ke-21, perdebatan ini menjadi tontonan reguler di
talk show dan ruang komentar YouTube. Para pemikir konservatif berteriak bahwa
toleransi adalah bumerang, sementara kaum progresif berseru bahwa tanpa empati,
manusia hanyalah algoritma.
Musk menyiapkan roket ke Mars — mungkin karena ia yakin
empati tidak bisa hidup di atmosfer Bumi. Saad menulis buku baru tentang bahaya
kasih sayang, lengkap dengan grafik evolusioner tentang mengapa pelukan
berlebihan bisa menurunkan testosteron nasional.
Sementara itu, peradaban terus berjalan seperti biasa:
perang masih ada, inflasi masih tinggi, dan kucing tetap mendominasi internet.
Jadi mungkin “suicidal empathy” bukan ancaman eksistensial, melainkan sekadar
cara baru Barat menegur dirinya sendiri — dengan bahasa akademis dan nada
panik.
Kesimpulan: Antara Barbarisme dan Kasih Sayang
Akhirnya, pertanyaan besar pun muncul: apakah empati
benar-benar membunuh peradaban, atau hanya membuatnya sedikit lebih manusiawi
sebelum kiamat datang?
Jika Saad dan Musk benar, maka penyelamat masa depan adalah
orang tanpa hati tapi punya visi kuat — mungkin robot dengan moral spreadsheet.
Tapi jika para kritikus benar, maka justru tanpa empati, peradaban berubah
menjadi mesin pendingin raksasa: efisien, tapi beku.
Seperti yang pernah dikatakan oleh filsuf paling tak terduga
dari dunia maya — akun anonim bernama @EthicalChaos420:
“Empati tanpa batas itu lemah. Tapi kekuasaan tanpa empati
itu iblis.”
Mungkin itu pelajaran terbesar dari debat ini: kadang, untuk
bertahan, manusia memang harus tegas — tapi kalau semua orang ingin jadi kuat
tanpa belas kasih, siapa yang tersisa untuk menyalakan lilin ketika listrik
peradaban padam?
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.