Jumat, 07 November 2025

Empati Bunuh Diri: Saat Barat Tersedak oleh Rasa Iba Sendiri

Pendahuluan: Dunia Butuh Pelukan, Tapi Siapa yang Bayar Tagihan?

Konon, di masa lalu, peradaban tumbuh karena dua hal: keberanian dan kolonialisme. Kini, menurut sebagian intelektual Barat, peradaban justru terancam oleh satu hal: empati. Ya, empati! Kata yang dulu dianggap kebajikan kini diperlakukan seperti virus mematikan dalam wacana akademik digital.

Profesor Gad Saad menyebutnya “suicidal empathy” — empati bunuh diri — dan Elon Musk langsung me-retweet dengan nada kiamat, seperti sedang menjual tiket terakhir ke Mars: “Western Civilization is doomed.” Tentu saja, semua ini diucapkan dari kursi kulit mahal dengan pemandangan satelit Starlink di atas kepala.

Mereka berdua tampak sepakat: kalau Barat terlalu baik, maka tamatlah sudah peradaban. Singkatnya, jangan terlalu lembut, nanti punah.

Bagian I: Evolusi, Inovasi, dan Ketakutan Akan Pelukan

Menurut Saad, peradaban Barat lahir dari kompetisi Darwinian — yang artinya, yang lemah tersingkir, dan yang kuat bikin startup. Empati, katanya, adalah bentuk kelemahan evolusioner: rasa kasihan pada yang kalah, padahal yang kalah jelas tidak fit to survive.

Musk pun datang membawa amplifikasi apokaliptik: empati berlebih adalah tombol self-destruct yang ditekan sambil menangis. Ia seperti berkata, “Kita tidak bisa menyelamatkan dunia sambil membiarkan semua orang masuk ke pesta.” Dalam versinya, peradaban Barat adalah kapal Titanic — dan empati adalah penumpang yang minta tambahan kursi di sekoci.

Namun, seorang komentator anonim di kolom bawah dengan gaya troll akademik menulis:

“Saad ingin menyelamatkan Barat dengan lebih banyak barbarisme. Ironis, karena barbarisme-lah yang dulu membuat Barat berjaya.”

Dengan kata lain: Empati mungkin membunuh Barat, tapi kolonialisme dulu yang melahirkannya.

Bagian II: Sejarah, Hipokrisi, dan Sisa Kopi di Gelas Empire

Kritikus lain tak ketinggalan mengingatkan: Amerika bukan “peradaban paling bermoral,” melainkan “peradaban paling sukses dalam membungkus barbarisme dengan jazz dan demokrasi.” Dulu menjajah, sekarang menasihati. Dulu membangun kapal perang, sekarang bikin kapal bantuan kemanusiaan — tapi tetap dengan bendera yang sama.

Empati, kata mereka, bukanlah racun baru; itu hanya karma yang menuntut pembayaran cicilan moral.

Namun ada juga suara bijak di tengah hiruk-pikuk ini — semacam Socrates dengan akun Twitter:

“Tidak ada peradaban runtuh karena empati. Mereka runtuh karena lupa pada idealismenya sendiri.”

Sebuah catatan yang tampak sederhana, tapi jika diterjemahkan ke bahasa politik modern berarti: jangan menyalahkan kaum baik hati, salahkan kaum korup.

Bagian III: Masa Kini – Ketika Empati Menjadi Barang Mewah

Di abad ke-21, perdebatan ini menjadi tontonan reguler di talk show dan ruang komentar YouTube. Para pemikir konservatif berteriak bahwa toleransi adalah bumerang, sementara kaum progresif berseru bahwa tanpa empati, manusia hanyalah algoritma.

Musk menyiapkan roket ke Mars — mungkin karena ia yakin empati tidak bisa hidup di atmosfer Bumi. Saad menulis buku baru tentang bahaya kasih sayang, lengkap dengan grafik evolusioner tentang mengapa pelukan berlebihan bisa menurunkan testosteron nasional.

Sementara itu, peradaban terus berjalan seperti biasa: perang masih ada, inflasi masih tinggi, dan kucing tetap mendominasi internet. Jadi mungkin “suicidal empathy” bukan ancaman eksistensial, melainkan sekadar cara baru Barat menegur dirinya sendiri — dengan bahasa akademis dan nada panik.

Kesimpulan: Antara Barbarisme dan Kasih Sayang

Akhirnya, pertanyaan besar pun muncul: apakah empati benar-benar membunuh peradaban, atau hanya membuatnya sedikit lebih manusiawi sebelum kiamat datang?

Jika Saad dan Musk benar, maka penyelamat masa depan adalah orang tanpa hati tapi punya visi kuat — mungkin robot dengan moral spreadsheet. Tapi jika para kritikus benar, maka justru tanpa empati, peradaban berubah menjadi mesin pendingin raksasa: efisien, tapi beku.

Seperti yang pernah dikatakan oleh filsuf paling tak terduga dari dunia maya — akun anonim bernama @EthicalChaos420:

“Empati tanpa batas itu lemah. Tapi kekuasaan tanpa empati itu iblis.”

Mungkin itu pelajaran terbesar dari debat ini: kadang, untuk bertahan, manusia memang harus tegas — tapi kalau semua orang ingin jadi kuat tanpa belas kasih, siapa yang tersisa untuk menyalakan lilin ketika listrik peradaban padam?

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.