Di sebuah video viral yang melintas di lini masa X, kita disuguhi pemandangan futuristik: Optimus, robot humanoid Tesla, berdiri gagah di ruang operasi sambil memegang alat bedah. Dengan gaya cool—mirip chef Michelin yang sedang plating makanan—ia tampak siap melakukan operasi, dikelilingi dokter-dokter manusia yang terlihat seperti asisten magang.
Robot: Sang Penyelamat Ketimpangan—Katanya
Gagasan utamanya sederhana: kalau setiap keluarga punya
robot dokter pribadi, maka kesehatan tak lagi ditentukan oleh dompet atau jarak
ke rumah sakit. Orang di pedalaman, di pinggiran kota, atau yang tinggal di
dekat warung kopi juga dapat merasakan kualitas layanan ala rumah sakit
premium—tanpa antrean, tanpa biaya konsultasi yang bikin deg-degan, dan tentu
saja tanpa dokter yang nanya, “Sudah puasa?” padahal sudah.
Dengan Optimus, katanya, elite medis bisa menjadi open
source: semua orang berhak sehat, bukan hanya mereka yang punya asuransi
premium atau kenalan dokter.
Kedengarannya mulia—bahkan sedikit utopis. Tapi seperti
semua hal yang terlalu sempurna, biasanya ada tanda bintang (syarat dan
ketentuan berlaku).
Masalahnya… Robot Ini Tidak Dijual di Pasar Kaget
Pertama, ada paradoks “akses semua keluarga”. Optimus itu
bukan blender. Ia bukan barang yang bisa dibeli dengan cicilan tiga bulan tanpa
bunga. Biaya riset dan produksinya bisa bikin dompet menjerit hingga dua
generasi ke depan. Jadi sebelum menjadi penyeimbang, kemungkinan besar Optimus
akan menjadi penye-bangkrut bagi siapa pun yang nekat beli di awal peluncuran.
Tanpa subsidi, kebijakan futuristik, atau program kredit
“Robot Sehat Keluarga Sejahtera”, bisa jadi robot ini cuma akan nongkrong di
rumah-rumah orang kaya—sebelum akhirnya dipakai bukan untuk operasi, tetapi
untuk hal-hal penting seperti… mengangkat anjing peliharaan atau membalikkan
steak.
Belum Lagi Urusan Etika: Siapa Tanggung Jawab Kalau Robot
Keseleo Algoritma?
Ini robot operasi. Kalau misalnya terjadi error dan Optimus
tiba-tiba mencoba melakukan prosedur dari game Surgeon Simulator, siapa yang
disalahkan?
- Pabriknya?
- Programernya?
- Atau
pasiennya yang kurang update software?
Belum ada buku panduan yang menjelaskan bagaimana menghadapi
robot yang mendadak hang di tengah operasi. Satu-satunya SOP saat ini
mungkin adalah: “Cabut baterainya dan berharap yang lain baik-baik saja.”
Publik: Antara Terpesona dan Mendadak Jadi Skeptis
Profesional
Sebagian orang menyambutnya dengan harapan setinggi langit.
Mereka membayangkan masa depan di mana robot bisa menjadi dokter, perawat,
chef, babysitter, bahkan mungkin konsultan percintaan.
Skeptisisme ini masuk akal—kita sudah punya pengalaman
dengan teknologi yang katanya akan mengubah dunia tapi akhirnya cuma bisa:
- stuck
di loading,
- mis-detect
wajah,
- atau
tidak bisa membedakan kentang dengan manusia.
Kesimpulannya: Optimus Memang Menjanjikan—Selama Kita
Tidak Lupa Jadi Bijak
Video Optimus bukan cuma unjuk teknologi; ia mengundang
imajinasi massal tentang masa depan kesehatan yang adil dan terjangkau. Tapi
antara visi dan kenyataan, ada jalan panjang penuh tantangan: ekonomi, hukum,
etika, dan tentu saja, keandalan robot agar tidak tiba-tiba crash di saat-saat
genting.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.