Sabtu, 15 November 2025

Optimus dan Revolusi Medis: Ketika Dokter Berwajah Besi Mulai Curi Panggung

Di sebuah video viral yang melintas di lini masa X, kita disuguhi pemandangan futuristik: Optimus, robot humanoid Tesla, berdiri gagah di ruang operasi sambil memegang alat bedah. Dengan gaya cool—mirip chef Michelin yang sedang plating makanan—ia tampak siap melakukan operasi, dikelilingi dokter-dokter manusia yang terlihat seperti asisten magang.

Tentu saja, videonya langsung dibubuhi klaim bergemuruh: “Optimus is going to be one of the biggest equalizers humanity has ever seen.”
Sebuah pernyataan yang begitu heroik, sampai-sampai kalau Optimus punya alis, mungkin dia akan mengangkatnya sambil berkata, “Santai dong, saya baru pegang pisau satu menit.”

Robot: Sang Penyelamat Ketimpangan—Katanya

Gagasan utamanya sederhana: kalau setiap keluarga punya robot dokter pribadi, maka kesehatan tak lagi ditentukan oleh dompet atau jarak ke rumah sakit. Orang di pedalaman, di pinggiran kota, atau yang tinggal di dekat warung kopi juga dapat merasakan kualitas layanan ala rumah sakit premium—tanpa antrean, tanpa biaya konsultasi yang bikin deg-degan, dan tentu saja tanpa dokter yang nanya, “Sudah puasa?” padahal sudah.

Dengan Optimus, katanya, elite medis bisa menjadi open source: semua orang berhak sehat, bukan hanya mereka yang punya asuransi premium atau kenalan dokter.

Kedengarannya mulia—bahkan sedikit utopis. Tapi seperti semua hal yang terlalu sempurna, biasanya ada tanda bintang (syarat dan ketentuan berlaku).

Masalahnya… Robot Ini Tidak Dijual di Pasar Kaget

Pertama, ada paradoks “akses semua keluarga”. Optimus itu bukan blender. Ia bukan barang yang bisa dibeli dengan cicilan tiga bulan tanpa bunga. Biaya riset dan produksinya bisa bikin dompet menjerit hingga dua generasi ke depan. Jadi sebelum menjadi penyeimbang, kemungkinan besar Optimus akan menjadi penye-bangkrut bagi siapa pun yang nekat beli di awal peluncuran.

Tanpa subsidi, kebijakan futuristik, atau program kredit “Robot Sehat Keluarga Sejahtera”, bisa jadi robot ini cuma akan nongkrong di rumah-rumah orang kaya—sebelum akhirnya dipakai bukan untuk operasi, tetapi untuk hal-hal penting seperti… mengangkat anjing peliharaan atau membalikkan steak.

Belum Lagi Urusan Etika: Siapa Tanggung Jawab Kalau Robot Keseleo Algoritma?

Ini robot operasi. Kalau misalnya terjadi error dan Optimus tiba-tiba mencoba melakukan prosedur dari game Surgeon Simulator, siapa yang disalahkan?

  • Pabriknya?
  • Programernya?
  • Atau pasiennya yang kurang update software?

Belum ada buku panduan yang menjelaskan bagaimana menghadapi robot yang mendadak hang di tengah operasi. Satu-satunya SOP saat ini mungkin adalah: “Cabut baterainya dan berharap yang lain baik-baik saja.”

Publik: Antara Terpesona dan Mendadak Jadi Skeptis Profesional

Sebagian orang menyambutnya dengan harapan setinggi langit. Mereka membayangkan masa depan di mana robot bisa menjadi dokter, perawat, chef, babysitter, bahkan mungkin konsultan percintaan.

Namun sebagian lain menghela napas sambil berkata:
“Beresin dulu kemampuan nyapu sebelum operasi bedah, bro.”

Skeptisisme ini masuk akal—kita sudah punya pengalaman dengan teknologi yang katanya akan mengubah dunia tapi akhirnya cuma bisa:

  • stuck di loading,
  • mis-detect wajah,
  • atau tidak bisa membedakan kentang dengan manusia.

Kesimpulannya: Optimus Memang Menjanjikan—Selama Kita Tidak Lupa Jadi Bijak

Video Optimus bukan cuma unjuk teknologi; ia mengundang imajinasi massal tentang masa depan kesehatan yang adil dan terjangkau. Tapi antara visi dan kenyataan, ada jalan panjang penuh tantangan: ekonomi, hukum, etika, dan tentu saja, keandalan robot agar tidak tiba-tiba crash di saat-saat genting.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar:
“Bisakah robot ini melakukan operasi?”

Tetapi lebih penting:
“Bisakah masyarakat membangun sistem yang memastikan semua orang mendapat manfaatnya—tanpa harus menjual sawah, motor, atau masa depan?”

Jika bisa, maka Optimus bukan sekadar robot bedah. Ia bisa menjadi simbol kesetaraan kesehatan global.
Jika gagal… yah, paling tidak kita punya robot yang sangat berbakat memegang pisau.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.