Pernahkah Anda merasa sudah rajin beribadah, tapi hati tetap gelap gulita? Salatnya benar, wudhunya sempurna, tapi batin terasa seperti rumah yang kabelnya sudah dipasang, cuma… belum disambung ke listrik pusat.
Di sinilah muncul gagasan menarik: bahwa ibadah tanpa
sambungan spiritual itu seperti saklar tanpa listrik—klik sekeras apa
pun, lampunya tetap tidak menyala. Dan untuk mengalirkan “listrik ilahiah” itu,
dibutuhkan sambungan resmi yang disebut tarekat.
🕌 Syariat dan Hakikat:
Antara Colokan dan Arusnya
Dalam pandangan para sufi, syariat adalah bentuk
lahir ibadah, sementara hakikat adalah ruhnya. Ibarat instalasi rumah:
kabel, stopkontak, dan lampu boleh rapi, tapi kalau tidak tersambung ke
jaringan, semua itu hanya hiasan.
Sebaliknya, hakikat tanpa syariat ibarat arus listrik tanpa
kabel—bisa bikin gosong. Maka, tarekat hadir sebagai teknisi yang menyatukan
keduanya, supaya ibadah tak hanya benar secara hukum, tapi juga hidup dan
bercahaya.
Karena memang, apa gunanya shalat ribuan rakaat kalau
jiwanya tetap padam seperti komplek yang listriknya dicabut karena menunggak?
🔌 Sanad dan Baiat: Jangan
Colok Sendiri!
Ilmu hakikat tidak bisa diunduh dari internet atau dicetak
di buku. Ia mengalir seperti arus dari satu hati ke hati lain, lewat sambungan
spiritual yang disebut sanad. Dari guru ke murid, dari murid ke murid
berikutnya, sampai bersambung ke sumber cahaya sejati.
⚙️ Guru Spiritual: Teknisi Resmi
Jaringan Ilahiah
Guru dalam tarekat bukan figur yang disembah, melainkan petugas
lapangan yang punya izin resmi dari pusat. Mereka tahu cara menghubungkan
murid ke jaringan tanpa bikin korsleting ruhani.
Taat kepada guru berarti taat pada sistem sambungan
itu—bukan karena fanatisme, tapi karena hanya lewat jalur itu energi bisa
mengalir. Kalau belum siap taat, tidak apa-apa. Ibadah tetap sah, hanya saja
mungkin perlu genset batin—bunyinya berisik, dayanya kecil, dan sering
mati mendadak.
⚡️ Analogi PLN: Antara Zikir,
Kabel, dan Tagihan Akhirat
Mari kita bayangkan skemanya:
|
Komponen Duniawi |
Padanan Spiritual |
|
Instalasi listrik (kabel, saklar, lampu) |
Amaliah ibadah (zikir, salat, wirid) |
|
Sambungan resmi |
Sanad silsilah guru |
|
Listrik |
Nur Ilahi |
|
Petugas lapangan |
Mursyid spiritual |
|
Menyalakan saklar |
Niat dan keikhlasan |
|
Sambungan ilegal |
Ibadah tanpa bimbingan |
|
Tagihan bulanan |
Muhasabah diri |
Jadi, tarekat memastikan ibadah Anda punya daya.
Tanpa sambungan resmi, Anda mungkin terlihat beribadah—tapi nyatanya hanya
menyalakan lampu hias yang tidak tersambung ke mana-mana.
⚠️ Spiritualitas Instan: Bahaya
“Colok Sendiri”
Zaman sekarang banyak orang ingin langsung tersambung ke
langit tanpa repot bimbingan. Kirim fatihah sendiri, zikir sendiri, dan merasa
sudah “terkoneksi”. Sayangnya, itu mirip dengan nyolok listrik dari tiang
jalan—niatnya bagus, tapi bisa bikin konslet satu RT.
Tarekat bukan sekadar kumpulan ritual, tapi sistem
keamanan rohani. Ia memastikan arus spiritual tetap stabil, grounding ego
terpasang, dan kabel kesadaran tidak terbakar oleh rasa “aku paling suci”.
🌙 Kesimpulan: Bayar
Tagihan Ruhani Tepat Waktu
Kalau belum siap, tidak apa-apa. Bisa mulai dari memasang
kabel syariat dulu. Tapi jangan kaget kalau cahaya batin belum terang—karena
saklarnya belum tersambung ke pusat daya.
📞 Langkah-langkah
mendaftar ke jaringan spiritual nasional:
- Periksa
kabel niat — pastikan tidak putus.
- Hubungi
teknisi hati — bukan yang abal-abal.
- Hindari
colokan liar — karena konsletnya bisa ke mana-mana.
- Dan
yang paling penting: rawat sambungan itu dengan cinta, bukan sekadar
rutinitas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.