Asia Tenggara itu sebenarnya seperti murid pintar yang dulu pernah juara kelas, tapi sekarang malah sibuk jadi admin WhatsApp keluarga. Padahal, di masa lalu, kawasan ini pernah jadi pusat peradaban dunia—punya Borobudur yang megah, Angkor Wat yang bikin kagum, dan kerajaan-kerajaan maritim yang jago ekspansi tanpa butuh Google Maps.
Namun, seperti kata Gita Wirjawan, kita ini sedang
kena amnesia kolektif. Kita lupa bahwa nenek moyang pernah
membangun imperium, bukan cuma membangun status WhatsApp.
Majapahit, Visioner Sejati Sebelum Kata ‘Visioner’ Jadi
Kata Motivasi
Majapahit itu ibarat startup terbesar di Asia Tenggara pada
abad ke-14. Pendiri utamanya, Raja Kertanegara, punya visi yang bisa bikin
pitch deck Silicon Valley ketar-ketir: menyatukan Nusantara tanpa
investor asing. Lalu datang Patih Gajah Mada dengan Sumpah
Palapa-nya—sebuah komitmen yang bahkan levelnya mengalahkan resolusi diet awal
tahun yang selalu gagal sejak 2007.
Namun kejayaan ini perlahan memudar. Bukan karena kurang
followers atau kurang like, tapi karena perubahan global: runtuhnya Abbasiyah,
masalah internal, dan—yang paling fatal—Eropa dapat “buff” teknologi usai
Gutenberg bikin mesin cetak. Akhirnya, benua biru itu maju pesat, sementara
Asia Tenggara masih sibuk debat internal dan lupa update sistem geopolitik.
Tiongkok pun tiba-tiba off selama era
Ming-Qing, seperti pengguna WhatsApp yang baca pesan tapi tidak balas-balas.
Akibatnya, kawasan ini jadi free real estate bagi kolonialisme
Eropa. Dan dimulailah era “350 tahun penghinaan”—atau yang kalau di film pasti
diberi judul: “Asia Tenggara: The Long Sad Season.”
ASEAN: Upaya ‘Reuni Akbar’ Setelah Dijajah Berabad-abad
Lepas dari kolonialisme, negara-negara di kawasan akhirnya
sadar: “Kita ini harusnya bersatu, bukan sibuk rebutan klaim makanan mana asli
siapa.”
Maka lahirlah ASEAN tahun 1967, awalnya
diisi lima negara yang sepakat bersatu demi satu alasan mulia: sama-sama takut
komunis dan ribut.
Sekarang ASEAN sudah 11 negara dan ekonominya US$ 3,8
triliun—cukup untuk bikin banyak negara iri, atau minimal bikin mereka tanya:
“Kalian pakai apa? Kok bisa cepat begitu?”
Tapi tentu saja, perjalanan tidak mulus. ASEAN ini ibarat
grup keluarga besar yang ingin kompak, tapi tiap anggota punya gaya hidup dan
drama masing-masing. Ada yang sibuk ekonomi, ada yang sibuk konflik laut, ada
yang sibuk kudeta. Jadinya kadang rapat ASEAN seperti rapat RT: banyak yang
hadir, tapi keputusan harus konsensus, alias harus semua setuju.
Bayangkan betapa sulitnya membuat 11 negara setuju pada satu kalimat saja.
Milih tempat makan dengan teman tiga orang saja susah, apalagi ini.
ASEAN vs Uni Eropa: Antara Pacaran Longgar vs Pernikahan
Ribet
Kalau Uni Eropa itu seperti pasangan yang sudah menikah: ada
rumah bareng, rekening bareng, bahkan mata uang bareng. Kadang berantem, tapi
tetap harus pulang ke rumah yang sama karena cicilan KPR.
ASEAN? ASEAN itu pacaran. Mesra, iya. Saling
support, iya. Tapi kalau sudah menyangkut masalah pribadi, langsung berkata:
“Itu urusan kamu. Aku nggak mau ikut campur.”
Makanya ASEAN sulit bergerak kompak. Ibaratnya, EU bisa
ngirim ultimatum ke negara anggota yang bandel. ASEAN? Paling banter cuma
ngirim statement panjang yang isinya “kami prihatin dan
mendorong dialog.”
Harapan Baru: Menjadi Kertanegara 2.0 Tanpa Perlu Sumpah
Palapa
Gita Wirjawan mengajak agar Asia Tenggara kembali berani
membayangkan sesuatu yang besar—visi yang membuat Kertanegara dulu begitu
keren.
Dan memang, kawasan ini punya modal: budaya kaya, ekonomi
stabil, demografi muda, dan kemampuan bertahan dari drama geopolitik level
tinggi. Tapi tantangannya juga besar: beda sistem politik, beda tingkat
ekonomi, beda loyalitas geopolitik. Bahkan beda sambal saja bisa bikin debat
panjang.
Namun jika ASEAN ingin ‘naik kelas’, ia perlu menyatukan
imajinasi dan keberanian. Bukan meniru Uni Eropa, tapi menciptakan model unik:
perpaduan fleksibel, adaptif, dan tetap humoris—karena kalau tidak humoris,
bagaimana bisa bertahan menghadapi dunia yang semakin absurd?
Penutup: Ingatlah Kejayaan, Tapi Jangan Terjebak
Nostalgia
Menghidupkan kembali semangat masa lalu bukan berarti ingin
bikin Majapahit 2.0 atau Sriwijaya Remastered Edition. Yang dibutuhkan adalah
energi visi besar: kemampuan melihat jauh ke depan, seperti Kertanegara, tapi
tetap realistis dengan hardware dan software geopolitik zaman now.
Jika berhasil, Asia Tenggara bukan hanya akan menjadi blok
regional yang kuat. Ia bisa jadi peradaban global yang kembali disegani—tanpa
perlu sumpah tidak makan buah-buahan seperti Gajah Mada.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.