Indonesia kembali bergembira! Tahun 2025 diumumkan sebagai tonggak sejarah baru: negeri kita katanya berhasil mencapai swasembada pangan! Media ramai menyiarkan gambar sawah hijau, pejabat menanam padi sambil senyum-senyum, dan spanduk “Selamat Datang di Era Kedaulatan Pangan” dipasang di mana-mana—kadang di depan mal, kadang di depan tanah yang sudah jadi kompleks perumahan.
Namun, sebagaimana sering terjadi di negeri penuh sinetron
politik ini, kisahnya ternyata tidak sesederhana itu. Menurut laporan INDEF
(yang rupanya lebih suka membaca data ketimbang baliho), kenaikan produksi padi
tahun ini bukan karena kebijakan ajaib, melainkan... karena kemarau
yang basah.
Ya, kemarau basah. Cuaca yang bingung identitas,
antara ingin kering tapi malah menetes. Akibatnya, petani punya waktu lebih
panjang untuk menanam. Bukan karena kebijakan baru, bukan juga karena benih
unggul dari hasil riset canggih, tapi karena langit sedang berbaik hati.
Kalau begini, mungkin kita sebaiknya mengangkat awan jadi
Menteri Pertanian.
πΎ Petani Gurem, Sang
Pahlawan dengan Cangkul Mikro
Tentu saja, di balik euforia “kedaulatan pangan”, masih ada
para petani gurem—pahlawan nasional dengan modal cangkul, doa, dan lahan
seukuran lapangan badminton. Sekitar 70% petani Indonesia hanya punya
lahan kurang dari setengah hektar. Itu pun sering terancam hilang, karena
setiap tahun 100 ribu hektare sawah berubah jadi kavling.
Jadi kalau Anda bertanya “Mengapa beras mahal?”, mungkin
jawabannya sederhana: karena sawahnya sudah jadi ruko minimalis
berkonsep tropis.
Lebih ironis lagi, banyak petani kita kini tak lagi punya
tanah sendiri. Mereka seperti buruh di ladang yang dulu mereka miliki. Dalam
istilah akademik, ini disebut depeasantization. Tapi dalam istilah
rakyat, ini disebut: “Dulu sawah, sekarang sawangan.”
πΈ Pasar Bebas dan
Petani yang Tak Bebas
Sementara itu, logika pasar bebas terus bekerja keras
memastikan siapa yang bebas—dan siapa yang tidak. Petani di desa harus bersaing
dengan korporasi pertanian yang punya traktor seharga rumah dinas, drone
penyemprot pupuk, dan manajer bergelar MBA.
Petani kecil masih mengandalkan “moral ekonomi”, gotong
royong, dan doa bersama sebelum panen. Tapi pasar global tidak paham bahasa
gotong royong. Ia hanya mengerti margin profit. Akibatnya, hasil
panen petani sering kalah bukan karena kualitas, tapi karena logistik,
tengkulak, dan tentu saja... kebijakan yang lebih sering berubah daripada cuaca
“kemarau basah” tadi.
π« Larangan Impor:
Diet Nasional yang Tak Direncanakan
Ketika semua ini berlangsung, pemerintah mencoba strategi
baru: larangan impor pangan. Katanya, supaya kita makan dari hasil
bumi sendiri. Ide yang mulia, sampai orang sadar... bahwa produksi garam cuma
setengah dari kebutuhan nasional.
Akibatnya, harga melambung. Pabrik makanan mulai
kelimpungan. Rakyat mulai berhitung ulang di warung: “Kalau nasi tambah
mahal, apa kita makan janji politik saja?”
Kebijakan seperti ini mengingatkan kita pada diet
ekstrem—niatnya sehat, tapi hasilnya pusing dan lapar.
π± Menuju Kedaulatan
yang Tidak Cuma di Spanduk
Tapi tenang, masih ada harapan. Indonesia bisa benar-benar
mandiri pangan jika kita berani melakukan reforma agraria yang nyata,
bukan sekadar seremoni penyerahan sertifikat di televisi.
Bayangkan jika lahan benar-benar didistribusikan adil, jika
petani mendapat akses modal dan teknologi, dan jika koperasi pertanian jadi
sekuat startup fintech. Kita bahkan bisa mengembangkan sistem agroekologi—di
mana tanah dirawat seperti keluarga, bukan dieksploitasi seperti tambang.
Dan tentu saja, semua ini perlu dukungan infrastruktur:
irigasi, jalan desa, dan gudang penyimpanan. Karena bagaimana kita bisa bicara
“kedaulatan pangan” kalau hasil panen masih busuk di truk karena jalan
berlubang?
π Penutup: Dari
Kemarau Basah ke Kebijakan yang Basah Otak
Kedaulatan pangan tidak bisa lahir dari keberuntungan cuaca.
Ia butuh otak yang basah oleh ide, bukan oleh keringat panik menjelang
konferensi pers.
Swasembada sejati bukan soal angka di laporan, tapi
tentang rakyat yang bisa makan dari hasil kerja mereka sendiri,
tanpa harus menunggu langit memberi diskon hujan.
Jadi, sebelum kita kembali mengklaim “sukses besar” di
televisi, mari kita pastikan dulu siapa yang sebenarnya bekerja: cuaca
atau kebijakan?
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.