Kisah Ironis di Mana Saklar Rumah Anda Terhubung ke Bursa New York
Bayangkan Anda sedang membayar tagihan listrik sambil
bergumam kesal karena biaya bulan ini naik lagi. Tapi tunggu dulu — mungkin
bukan karena AC Anda terlalu lama menyala. Bisa jadi, kenaikan itu disebabkan
oleh seorang bankir di Wall Street yang baru saja membeli mobil sport barunya
berkat… ya, tagihan listrik Anda.
Selamat datang di dunia modern, di mana energi listrik
tidak lagi sekadar hasil putaran turbin, tapi juga putaran utang!
⚙️ Skema Canggih Bernama “Salah
Siapa Kalau Saya Kaya?”
Seorang jurnalis investigasi pernah membongkar rahasia gelap
dunia utilitas: ternyata perusahaan listrik bisa menjadi sapi perah bukan hanya
bagi pemerintah, tapi juga bagi para konglomerat keuangan yang hobi bermain
utang.
Begini triknya: raksasa investasi membeli perusahaan listrik
— tapi bukan dengan uang mereka sendiri (tentu saja tidak, mereka terlalu
pintar untuk itu). Mereka memakai uang pinjaman, lalu membebankan cicilannya
ke… perusahaan yang baru saja mereka beli.
💡 Dari Minnesota ke
Menteng: Kabel Globalisasi Tak Pernah Putus
Di Minnesota, misalnya, perusahaan listrik dibeli senilai
miliaran dolar. Regulator menyetujui, investor tersenyum, dan rakyat pun
bersiap menyalakan lilin — bukan karena romantis, tapi karena tagihan
listriknya naik.
🧮 Hitung-Hitungan yang
Bikin Pening
Sebuah sirkuit ekonomi di mana arus listrik dan arus uang
sama-sama kembali ke sumber — hanya saja sumbernya bukan rumah kita, tapi
gedung pencakar langit di Manhattan.
⚖️ Antara Pembangunan dan
Pemerasan
Tentu, kita butuh investasi. Tidak mungkin negara membangun
pembangkit listrik tenaga surya hanya dengan semangat gotong royong dan doa
bersama. Tapi seperti halnya kopi, dosisnya harus tepat: terlalu banyak
investor asing bisa bikin jantung ekonomi berdebar tidak karuan.
“Terima kasih, Anda baru saja membantu melunasi utang Wall
Street sebesar $0.0003.”
🕯️ Penutup: Antara Lilin
dan Laptop
Mungkin suatu hari nanti, rakyat akan kembali pada cara
tradisional: menulis surat dengan tangan di bawah cahaya lilin. Bukan karena
romantisme zaman dulu, tapi karena tagihan listriknya kini terasa seperti surat
cinta dari Wall Street—manis di kata, pahit di isi.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.