Selasa, 11 November 2025

⚡ Dari Tagihan Listrik ke Utang Wall Street:

Kisah Ironis di Mana Saklar Rumah Anda Terhubung ke Bursa New York

Bayangkan Anda sedang membayar tagihan listrik sambil bergumam kesal karena biaya bulan ini naik lagi. Tapi tunggu dulu — mungkin bukan karena AC Anda terlalu lama menyala. Bisa jadi, kenaikan itu disebabkan oleh seorang bankir di Wall Street yang baru saja membeli mobil sport barunya berkat… ya, tagihan listrik Anda.

Selamat datang di dunia modern, di mana energi listrik tidak lagi sekadar hasil putaran turbin, tapi juga putaran utang!

⚙️ Skema Canggih Bernama “Salah Siapa Kalau Saya Kaya?”

Seorang jurnalis investigasi pernah membongkar rahasia gelap dunia utilitas: ternyata perusahaan listrik bisa menjadi sapi perah bukan hanya bagi pemerintah, tapi juga bagi para konglomerat keuangan yang hobi bermain utang.

Begini triknya: raksasa investasi membeli perusahaan listrik — tapi bukan dengan uang mereka sendiri (tentu saja tidak, mereka terlalu pintar untuk itu). Mereka memakai uang pinjaman, lalu membebankan cicilannya ke… perusahaan yang baru saja mereka beli.

Dan karena listrik itu monopoli — tidak ada “PLN saingan” di ujung jalan — maka beban utang itu dialirkan langsung ke masyarakat.
Setiap kali Anda menyalakan lampu, sebagian sinarnya mungkin berasal dari percikan bunga utang di Wall Street.

💡 Dari Minnesota ke Menteng: Kabel Globalisasi Tak Pernah Putus

Di Minnesota, misalnya, perusahaan listrik dibeli senilai miliaran dolar. Regulator menyetujui, investor tersenyum, dan rakyat pun bersiap menyalakan lilin — bukan karena romantis, tapi karena tagihan listriknya naik.

Indonesia memang belum sampai ke sana, tapi kita sudah menyiapkan panggungnya: transisi energi hijau, utang infrastruktur, dan investor asing yang berbaris seperti lalat di atas gula proyek.
Mereka datang dengan jargon “sustainable financing”, yang kalau diterjemahkan bebas berarti: kita berkelanjutan menanggung beban, mereka berkelanjutan mendapat keuntungan.

🧮 Hitung-Hitungan yang Bikin Pening

Private equity masuk dengan wajah malaikat: “Kami ingin membantu Indonesia menuju Net Zero!”
Tapi di balik senyum manis itu tersembunyi kalkulator yang menghitung return on investment lebih cepat daripada Anda menghitung kembalian di warung.

Kenaikan tarif listrik? 10–20% demi target investor.
Pemotongan layanan di daerah pelosok? “Tidak efisien secara komersial.”
Dan yang paling ironis: dana pensiun rakyat kecil diinvestasikan untuk membiayai utang yang justru membuat hidup mereka lebih mahal.

Sebuah sirkuit ekonomi di mana arus listrik dan arus uang sama-sama kembali ke sumber — hanya saja sumbernya bukan rumah kita, tapi gedung pencakar langit di Manhattan.

⚖️ Antara Pembangunan dan Pemerasan

Tentu, kita butuh investasi. Tidak mungkin negara membangun pembangkit listrik tenaga surya hanya dengan semangat gotong royong dan doa bersama. Tapi seperti halnya kopi, dosisnya harus tepat: terlalu banyak investor asing bisa bikin jantung ekonomi berdebar tidak karuan.

Regulasi harus jadi sekering: mencegah arus berlebihan sebelum sistem terbakar.
Kalau tidak, bukan tidak mungkin 10 tahun lagi tagihan listrik kita disertai catatan kecil bertuliskan:

“Terima kasih, Anda baru saja membantu melunasi utang Wall Street sebesar $0.0003.”

🕯️ Penutup: Antara Lilin dan Laptop

Pada akhirnya, persoalan listrik ini bukan cuma soal energi, tapi juga kedaulatan dan keadilan.
Jika dibiarkan, kita akan hidup di dunia di mana menyalakan lampu berarti membayar bonus tahunan seorang analis keuangan di New York.

Mungkin suatu hari nanti, rakyat akan kembali pada cara tradisional: menulis surat dengan tangan di bawah cahaya lilin. Bukan karena romantisme zaman dulu, tapi karena tagihan listriknya kini terasa seperti surat cinta dari Wall Street—manis di kata, pahit di isi.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.