Jumat, 14 November 2025

Tradisi vs Transformasi: Drama NU yang Lebih Seru dari Sinetron Ramadan

Ada dua hal di dunia yang tidak pernah selesai diperdebatkan: kapan kiamat datang, dan bagaimana NU harus berubah. Yang pertama masih misteri, yang kedua baru saja dapat “buku panduan”—meski ditulis tanpa menyelonong minta izin ke tokoh utamanya.

Peluncuran buku “Menavigasi Perubahan NU dan Pesantren: Syarah Pemikiran Gus Yahya” terasa seperti resepsi kejutan ulang tahun, hanya saja yang berulang tahun adalah organisasi 100 juta jamaah, dan yang diberi kejutan adalah ketua umumnya sendiri. “Lho, kok jadi buku?” mungkin itu gumam Gus Yahya dalam hati. Tapi seperti kiai-kiai NU lain, beliau tersenyum saja. Wong kitab kuning saja sering dijadikan syarah berjilid-jilid tanpa izin penulisnya, apalagi beliau.

Konsolidasi NU: Mengumpulkan 30.000 Pesantren, Mirip Mengatur 30.000 Grup WhatsApp

Salah satu ide sentral Gus Yahya adalah konsolidasi. Dalam bahasa sederhana: “ayo rapikan NU sebelum NU dirapikan orang lain.”
Masalahnya, mengonsolidasikan lebih dari 30.000 pesantren itu ibarat mengatur 30.000 grup WhatsApp keluarga—semua punya admin, semua punya tradisi, dan semua merasa paling benar dalam urusan jadwal haul.

Kiai A ingin model organisasi longgar. Kiai B ingin pembakuan sistem. Kiai C ingin keduanya, tergantung siapa yang bertanya.
Belum lagi pihak luar yang melihat NU sebagai oase moderasi—atau raksasa politik yang bikin mereka begidik. Pokoknya, konsolidasi NU itu seperti menyusun puzzle sambil duduk di kapal yang goyang diterjang gelombang globalisasi.

R20: NU Go International, Bukan Cuma Jamaah Umrah yang Global

Lalu lahirlah R20, forum antaragama global yang menegaskan bahwa NU tidak hanya jago bikin bahtsul masail, tetapi juga bisa menggelar diplomasi internasional. Ini menandai era baru: NU bukan hanya mengirim jamaah umrah, tapi juga mengirim gagasan ke forum global.

R20 ini unik:

  • Formatnya keren,
  • temanya perdamaian,
  • dan semua orang tampil serius sambil tetap saling hormat.

Saking globalnya, kadang luar negeri lebih paham visi NU daripada warga kampung sebelah Kantor PBNU sendiri.

Pesantren dan Tantangan Abad 21: Antara Peci, Gadget, dan Standardisasi

Gus Yahya mengingatkan bahwa kalau 30.000 pesantren tidak beradaptasi, nanti banyak santri yang lebih hapal nama seleb TikTok daripada kitab Safinatun Najah.
Transformasi itu penting: bukan supaya pesantren jadi “startup”, tapi agar santri tetap bisa membaca kitab kuning sambil tahu cara hidup di dunia yang sudah pindah ke era pasca-poni—eh, pasca-industrial.

Namun, karena ini NU, transformasi tidak boleh pakai gaya “langsung gas.”
Harus pelan, persuasif, penuh tabarruk, sangat khas NU.
Bahasa kasarnya: “Ayo berubah, tapi pelan-pelan, jangan bikin kiai-kiai kaget.”

Tradisi Bertemu Modernitas: Bukan Perang Dua Dunia, Tapi Reuni Keluarga Besar

Buku ini memakai format syarah, strategi jenius yang membuat perubahan terasa seperti membaca lanjutan kitab kuning… bukan seperti membaca proposal startup.
Ini cara halus PBNU mengatakan, “Tenang, ini bukan westernisasi. Ini cuma modernisasi dengan aroma pesantren.”

Intinya:
Perubahan itu bukan pembangkangan.
Justru cara menjaga tradisi tetap hidup… karena tradisi yang tidak berubah lama-lama hanya jadi koleksi museum.

Penutup: NU di Abad 21—Masih Asli, Tapi Lebih Rapi

Pada akhirnya, buku ini bukan sekadar catatan perjalanan Gus Yahya.
Ini adalah deklarasi halus: bahwa NU siap menjadi pemain global tanpa kehilangan ciri khas lokalnya—sarung tetap sarung, peci tetap peci, tapi visi makin mendunia.

Warisan terbesar Gus Yahya mungkin bukan programnya, bukan juga wacananya, tapi kemampuannya menjadikan perubahan terdengar seperti tradisi itu sendiri.

NU tetap NU:

  • Akarnya di bumi Nusantara,
  • cabangnya menjangkau dunia,
  • dan humornya… ya tetap humor NU, yang kadang hanya dimengerti sesama warga nahdliyin.

Navigasi perubahan ini belum selesai.
Tapi setidaknya, kompasnya sudah benar—dan syarahnya sudah dibukukan.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.