Ada dua hal di dunia yang tidak pernah selesai
diperdebatkan: kapan kiamat datang, dan bagaimana NU harus berubah. Yang
pertama masih misteri, yang kedua baru saja dapat “buku panduan”—meski ditulis
tanpa menyelonong minta izin ke tokoh utamanya.
Peluncuran buku “Menavigasi Perubahan NU dan Pesantren:
Syarah Pemikiran Gus Yahya” terasa seperti resepsi kejutan ulang tahun,
hanya saja yang berulang tahun adalah organisasi 100 juta jamaah, dan yang
diberi kejutan adalah ketua umumnya sendiri. “Lho, kok jadi buku?” mungkin itu
gumam Gus Yahya dalam hati. Tapi seperti kiai-kiai NU lain, beliau tersenyum
saja. Wong kitab kuning saja sering dijadikan syarah berjilid-jilid tanpa izin
penulisnya, apalagi beliau.
Konsolidasi NU: Mengumpulkan 30.000 Pesantren, Mirip
Mengatur 30.000 Grup WhatsApp
Salah satu ide sentral Gus Yahya adalah konsolidasi. Dalam
bahasa sederhana: “ayo rapikan NU sebelum NU dirapikan orang lain.”
Masalahnya, mengonsolidasikan lebih dari 30.000 pesantren itu ibarat mengatur
30.000 grup WhatsApp keluarga—semua punya admin, semua punya tradisi, dan semua
merasa paling benar dalam urusan jadwal haul.
Kiai A ingin model organisasi longgar. Kiai B ingin
pembakuan sistem. Kiai C ingin keduanya, tergantung siapa yang bertanya.
Belum lagi pihak luar yang melihat NU sebagai oase moderasi—atau raksasa
politik yang bikin mereka begidik. Pokoknya, konsolidasi NU itu seperti
menyusun puzzle sambil duduk di kapal yang goyang diterjang gelombang
globalisasi.
R20: NU Go International, Bukan Cuma Jamaah Umrah yang
Global
Lalu lahirlah R20, forum antaragama global yang
menegaskan bahwa NU tidak hanya jago bikin bahtsul masail, tetapi juga bisa
menggelar diplomasi internasional. Ini menandai era baru: NU bukan hanya
mengirim jamaah umrah, tapi juga mengirim gagasan ke forum global.
R20 ini unik:
- Formatnya
keren,
- temanya
perdamaian,
- dan
semua orang tampil serius sambil tetap saling hormat.
Saking globalnya, kadang luar negeri lebih paham visi NU
daripada warga kampung sebelah Kantor PBNU sendiri.
Pesantren dan Tantangan Abad 21: Antara Peci, Gadget, dan
Standardisasi
Gus Yahya mengingatkan bahwa kalau 30.000 pesantren tidak
beradaptasi, nanti banyak santri yang lebih hapal nama seleb TikTok daripada
kitab Safinatun Najah.
Transformasi itu penting: bukan supaya pesantren jadi “startup”, tapi agar
santri tetap bisa membaca kitab kuning sambil tahu cara hidup di dunia yang
sudah pindah ke era pasca-poni—eh, pasca-industrial.
Namun, karena ini NU, transformasi tidak boleh pakai gaya
“langsung gas.”
Harus pelan, persuasif, penuh tabarruk, sangat khas NU.
Bahasa kasarnya: “Ayo berubah, tapi pelan-pelan, jangan bikin kiai-kiai kaget.”
Tradisi Bertemu Modernitas: Bukan Perang Dua Dunia, Tapi
Reuni Keluarga Besar
Buku ini memakai format syarah, strategi jenius yang
membuat perubahan terasa seperti membaca lanjutan kitab kuning… bukan seperti
membaca proposal startup.
Ini cara halus PBNU mengatakan, “Tenang, ini bukan westernisasi. Ini cuma
modernisasi dengan aroma pesantren.”
Intinya:
Perubahan itu bukan pembangkangan.
Justru cara menjaga tradisi tetap hidup… karena tradisi yang tidak berubah
lama-lama hanya jadi koleksi museum.
Penutup: NU di Abad 21—Masih Asli, Tapi Lebih Rapi
Pada akhirnya, buku ini bukan sekadar catatan perjalanan Gus
Yahya.
Ini adalah deklarasi halus: bahwa NU siap menjadi pemain global tanpa
kehilangan ciri khas lokalnya—sarung tetap sarung, peci tetap peci, tapi visi
makin mendunia.
Warisan terbesar Gus Yahya mungkin bukan programnya, bukan
juga wacananya, tapi kemampuannya menjadikan perubahan terdengar seperti
tradisi itu sendiri.
NU tetap NU:
- Akarnya
di bumi Nusantara,
- cabangnya
menjangkau dunia,
- dan
humornya… ya tetap humor NU, yang kadang hanya dimengerti sesama warga
nahdliyin.
Navigasi perubahan ini belum selesai.
Tapi setidaknya, kompasnya sudah benar—dan syarahnya sudah dibukukan.
abah-arul.blogspot.com., November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.