Senin, 10 November 2025

Voltaire di Era Wi-Fi: Dari Pencerahan ke Notifikasi

Seandainya Voltaire hidup di zaman sekarang, kemungkinan besar ia tidak akan menulis Candide di kertas perkamen, tapi di Twitter—eh, X—dengan bio: “Pencerahan bukan fitur premium.” Ia akan diblok oleh separuh pengguna dalam seminggu, dilaporkan karena “menyebarkan kebencian terhadap kebodohan,” dan tetap menulis utas baru dari akun alter-nya: @PanglossBukanGuru.

Voltaire, yang di abad ke-18 berani menantang gereja, raja, dan optimisme buta Leibniz, mungkin kini akan menantang algoritma, influencer, dan motivator spiritual yang berkata: “Semua terjadi karena semesta mengizinkan.” Dalam hati, ia pasti menggumam, “Omong kosong kosmik macam apa lagi ini?”

Candide dan Pangloss Masuk Grup WhatsApp

Bayangkan Candide hidup di era digital. Ia baru saja keluar dari grup “Positive Vibes Only 🌸 setelah 300 pesan berisi kalimat motivasi dan testimoni MLM. Gurunya, Pangloss, tentu masih kukuh berkata:

“Tenanglah Candide, ini adalah dunia terbaik dari semua kemungkinan dunia.”

Lalu Candide membalas:

“Tapi dunia ini baru saja crash karena update sistem, Guru.”

Dan Pangloss menjawab:

“Itu tandanya semesta sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik.”

Voltaire, di balik layar laptop-nya, akan menulis caption:

“Kadang, cara terbaik menghadapi kebodohan adalah dengan mute notifications.”

Dogma Lama, Platform Baru

Voltaire dulu menentang inkuisisi yang membakar orang karena perbedaan keyakinan. Kini ia mungkin menentang komentar netizen yang membakar orang karena beda opini. Bedanya, kalau dulu apinya sungguhan, sekarang bentuknya cyberbullying.

Kalimat legendarisnya — “Mereka yang bisa membuatmu percaya pada hal-hal absurd bisa membuatmu melakukan kekejaman” — kini bisa diterjemahkan menjadi:

“Mereka yang bikin kamu percaya bahwa bumi datar, bisa bikin kamu beli kripto pakai pinjaman online.”

Voltaire mungkin akan menulis di statusnya:

“Gunakan akal sehat sebelum share. Jika tidak, akalmu akan di-repost oleh kebodohan.”

“Mengolah Kebun Sendiri” di Dunia Digital

Dalam Candide, pesan akhirnya sederhana: jangan cuma berdebat tentang dunia, tapi rawat kebunmu sendiri. Di zaman Wi-Fi, kebun itu mungkin adalah feed media sosial kita. Tapi sayangnya, alih-alih mengolah, banyak orang justru menanam hoaks, menyiramnya dengan emosi, dan memanen engagement.

Voltaire akan berkata:

“Temanku, sebelum kau mengubah dunia, tolong ubah dulu pengaturan privasimu.”

Ia akan menyarankan agar kita mengolah kebun digital dengan menanam ide-ide rasional, memupuk empati, dan mencabut gulma clickbait. Karena kalau tidak, taman maya kita akan jadi hutan algoritma—penuh suara tapi tanpa makna.

Kesimpulan: Dari Lilin ke Layar

Voltaire menulis dengan penerangan lilin, tapi pikirannya jauh lebih terang dari banyak netizen yang kini dikelilingi lampu LED 4K. Ia mengingatkan kita bahwa kebebasan berbicara tanpa kebijaksanaan adalah seperti Wi-Fi tanpa sandi—mudah diretas oleh siapa pun yang membawa kebodohan.

Dan seandainya ia masih hidup hari ini, mungkin ia akan menulis status terakhir-nya seperti ini:

“Aku bela hakmu untuk berpendapat, tapi aku juga bela hakku untuk unfollow.”

abah-arul.blogspot.com., November 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.