Seandainya Voltaire hidup di zaman sekarang, kemungkinan besar ia tidak akan menulis Candide di kertas perkamen, tapi di Twitter—eh, X—dengan bio: “Pencerahan bukan fitur premium.” Ia akan diblok oleh separuh pengguna dalam seminggu, dilaporkan karena “menyebarkan kebencian terhadap kebodohan,” dan tetap menulis utas baru dari akun alter-nya: @PanglossBukanGuru.
Voltaire, yang di abad ke-18 berani menantang gereja, raja,
dan optimisme buta Leibniz, mungkin kini akan menantang algoritma, influencer,
dan motivator spiritual yang berkata: “Semua terjadi karena semesta
mengizinkan.” Dalam hati, ia pasti menggumam, “Omong kosong kosmik
macam apa lagi ini?”
Candide dan Pangloss Masuk Grup WhatsApp
Bayangkan Candide hidup di era digital. Ia baru saja keluar
dari grup “Positive Vibes Only 🌸” setelah 300
pesan berisi kalimat motivasi dan testimoni MLM. Gurunya, Pangloss, tentu masih
kukuh berkata:
“Tenanglah Candide, ini adalah dunia terbaik dari semua
kemungkinan dunia.”
Lalu Candide membalas:
“Tapi dunia ini baru saja crash karena
update sistem, Guru.”
Dan Pangloss menjawab:
“Itu tandanya semesta sedang mempersiapkan sesuatu yang
lebih baik.”
Voltaire, di balik layar laptop-nya, akan menulis caption:
“Kadang, cara terbaik menghadapi kebodohan adalah
dengan mute notifications.”
Dogma Lama, Platform Baru
Voltaire dulu menentang inkuisisi yang membakar orang karena
perbedaan keyakinan. Kini ia mungkin menentang komentar netizen yang
membakar orang karena beda opini. Bedanya, kalau dulu apinya sungguhan,
sekarang bentuknya cyberbullying.
Kalimat legendarisnya — “Mereka yang bisa membuatmu percaya
pada hal-hal absurd bisa membuatmu melakukan kekejaman” — kini bisa
diterjemahkan menjadi:
“Mereka yang bikin kamu percaya bahwa bumi datar, bisa bikin
kamu beli kripto pakai pinjaman online.”
Voltaire mungkin akan menulis di statusnya:
“Gunakan akal sehat sebelum share. Jika tidak,
akalmu akan di-repost oleh kebodohan.”
“Mengolah Kebun Sendiri” di Dunia Digital
Dalam Candide, pesan akhirnya sederhana: jangan
cuma berdebat tentang dunia, tapi rawat kebunmu sendiri. Di zaman
Wi-Fi, kebun itu mungkin adalah feed media sosial kita. Tapi
sayangnya, alih-alih mengolah, banyak orang justru menanam hoaks, menyiramnya
dengan emosi, dan memanen engagement.
Voltaire akan berkata:
“Temanku, sebelum kau mengubah dunia, tolong ubah dulu
pengaturan privasimu.”
Ia akan menyarankan agar kita mengolah kebun digital dengan
menanam ide-ide rasional, memupuk empati, dan mencabut gulma clickbait.
Karena kalau tidak, taman maya kita akan jadi hutan algoritma—penuh suara tapi
tanpa makna.
Kesimpulan: Dari Lilin ke Layar
Voltaire menulis dengan penerangan lilin, tapi pikirannya
jauh lebih terang dari banyak netizen yang kini dikelilingi
lampu LED 4K. Ia mengingatkan kita bahwa kebebasan berbicara tanpa
kebijaksanaan adalah seperti Wi-Fi tanpa sandi—mudah diretas oleh siapa pun
yang membawa kebodohan.
Dan seandainya ia masih hidup hari ini, mungkin ia akan
menulis status terakhir-nya seperti ini:
“Aku bela hakmu untuk berpendapat, tapi aku juga bela hakku
untuk unfollow.”
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.