Senin, 24 November 2025

Dokumen Bocor, Hati Tersentak: NU dan Drama Internal yang Lebih Serius dari Sinetron Azab

Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama (NU), organisasi ini selalu tampil tenang, teduh, dan penuh wibawa—kira-kira seperti kiai kharismatik yang bicara lembut tapi sekali dawuh, seluruh desa langsung bergerak. Namun pada November 2025, keteduhan itu retak untuk sesaat ketika sebuah dokumen internal bocor ke publik. Bukan dokumen sembarangan, tapi Risalah Rapat Harian Syuriyah—semacam notulen resmi yang biasanya hanya dibaca oleh orang-orang yang kuat iman dan tahan kantuk.

Tiba-tiba, seluruh warga jagat maya seperti bangun sahur: heboh, gaduh, dan langsung debat tanpa perlu membaca dokumennya. NU mendadak viral, tetapi bukan karena shalawat atau Muktamar, melainkan karena aroma drama politik yang tak kalah dari season terbaru “Game of Thrones”, dengan setting pesantren.

Risalah Berwibawa yang Menjelma Surat Cinta Berisi Ultimatum

Isi risalah tersebut ternyata cukup mengejutkan: tiga tuduhan terhadap Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, lengkap dengan ultimatum 3 hari—persis seperti diskon kilat marketplace.

Mulai dari isu narasumber “yang katanya punya hubungan dengan jaringan Zionis”, sampai dugaan pencemaran nama NU, hingga indikasi masalah tata kelola keuangan. Semua dibungkus dalam bahasa formal Syuriyah yang biasanya penuh hikmah, tapi kali ini terasa seperti surat cinta yang ditulis saat sedang marah: rapi, tapi deg-degan bacanya.

Namun ketika diamati lebih teliti, muncul pertanyaan: apakah Syuriyah memang punya wewenang memecat Ketua Tanfidziyah?

Jawabannya: tidak.

Ibaratnya, Syuriyah sedang memukul gong, tapi gendang yang punya acara sebenarnya Tanfidziyah. Jadi risalah ini secara moral berat, tapi secara hukum organisasi—ya, semacam “status WA panjang”, kuat menggetarkan, tapi tidak mengikat.

Akar Masalah: Bukan Semalam, Tapi Bertahun-Tahun

Krisis ini bukan semacam “kemarahan sesaat karena wifi lemot”. Ada dua lapisan konflik yang sudah lama mengendap.

1. Tradisi vs Modernisasi

Syuriyah, sebagai penjaga nilai-nilai klasik NU, ingin memastikan organisasi tetap seperti kitab kuning: terjaga, rapi, dan tak gampang diubah.

Sementara Tanfidziyah di bawah Gus Yahya justru seperti anak muda bersemangat: mau digitalisasi, mau bikin Akademi Kepemimpinan, mau diplomasi internasional. Bagi sebagian kalangan, ini seperti melihat santri tiba-tiba pakai AI buat nulis makalah—efisien, tapi bikin bingung kiai penguji.

2. Kasus CHT: Mualaf, Menteri Luar Negeri Dadakan, atau Kambing Hitam?

Charles Holland Taylor (CHT) menjadi katalis dramanya. Tokoh ini bagaikan “karakter asing” dalam film Indonesia yang selalu muncul di adegan penting. Keahliannya dalam diplomasi global dihargai oleh sebagian pihak, tapi dicurigai oleh pihak lain sebagai ‘pintu belakang’ pengaruh asing.

Ketika Rais Aam memecat CHT, tensi politik mendadak naik seperti volume di toa masjid saat takbir akbar. Dan ketika risalah bocor, lengkaplah sudah—CHT tidak hanya menjadi tokoh sentral, tapi juga simbol perbedaan paradigma.

NU di Persimpangan: Dialog, Drama, atau Damai?

Efek bocornya risalah langsung berlapis-lapis.

Di internal, NU seperti terbagi dua kubu: Jawa Timur dan Jawa Tengah seolah sedang memainkan derby sepak bola, hanya saja lapangannya rapat organisasi.

Di eksternal, dunia internasional mulai bertanya-tanya: “Lho, NU yang biasanya adem kok tiba-tiba panas?”
Media global pun ikut nimbrung, mungkin karena mereka belum pernah melihat organisasi keagamaan sebesar ini terlibat drama politik yang rapi sekali redaksinya.

Namun, sebagaimana tradisinya, musyawarah menjadi penolong. Para kiai kumpul, kopi disuguhkan, dan keputusan bulat dihasilkan: tidak ada pemakzulan.

Drama mereda perlahan. Dan seperti biasa, NU membuktikan bahwa konflik internal itu bukan tujuan, melainkan bumbu yang pada akhirnya memperkuat organisasi—asal tidak kebanyakan micin.

Penutup: Dokumen Bocor, Masalah Terbuka, Iman Tetap Terjaga

Pada akhirnya, risalah bocor ini menjadi ujian besar bagi NU. Tapi NU bukan organisasi kemarin sore. Ia ibarat kapal besar yang kadang oleng sedikit, tapi selalu kembali lurus karena nakhodanya banyak dan semuanya cinta umat.

Krisis ini tidak hanya memberi pelajaran tentang manajemen dokumen (dan manajemen password WhatsApp), tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya memperjelas batas wewenang dalam AD/ART.

Sebab jika tidak, drama seperti ini bisa terulang—dan bangsa ini sudah cukup memiliki sinetron azab tanpa perlu menambah “Azab Organisasi Besar yang Kebanyakan Ulama”.

Wallahu a’lam bish-shawab.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.