Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama (NU), organisasi ini selalu tampil tenang, teduh, dan penuh wibawa—kira-kira seperti kiai kharismatik yang bicara lembut tapi sekali dawuh, seluruh desa langsung bergerak. Namun pada November 2025, keteduhan itu retak untuk sesaat ketika sebuah dokumen internal bocor ke publik. Bukan dokumen sembarangan, tapi Risalah Rapat Harian Syuriyah—semacam notulen resmi yang biasanya hanya dibaca oleh orang-orang yang kuat iman dan tahan kantuk.
Tiba-tiba, seluruh warga jagat maya seperti bangun sahur:
heboh, gaduh, dan langsung debat tanpa perlu membaca dokumennya. NU mendadak
viral, tetapi bukan karena shalawat atau Muktamar, melainkan karena aroma drama
politik yang tak kalah dari season terbaru “Game of Thrones”, dengan setting
pesantren.
Risalah Berwibawa yang Menjelma Surat Cinta Berisi
Ultimatum
Isi risalah tersebut ternyata cukup mengejutkan: tiga
tuduhan terhadap Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, lengkap dengan ultimatum 3
hari—persis seperti diskon kilat marketplace.
Mulai dari isu narasumber “yang katanya punya hubungan
dengan jaringan Zionis”, sampai dugaan pencemaran nama NU, hingga indikasi
masalah tata kelola keuangan. Semua dibungkus dalam bahasa formal Syuriyah yang
biasanya penuh hikmah, tapi kali ini terasa seperti surat cinta yang ditulis
saat sedang marah: rapi, tapi deg-degan bacanya.
Namun ketika diamati lebih teliti, muncul pertanyaan: apakah
Syuriyah memang punya wewenang memecat Ketua Tanfidziyah?
Jawabannya: tidak.
Ibaratnya, Syuriyah sedang memukul gong, tapi gendang yang
punya acara sebenarnya Tanfidziyah. Jadi risalah ini secara moral berat, tapi
secara hukum organisasi—ya, semacam “status WA panjang”, kuat menggetarkan,
tapi tidak mengikat.
Akar Masalah: Bukan Semalam, Tapi Bertahun-Tahun
Krisis ini bukan semacam “kemarahan sesaat karena wifi
lemot”. Ada dua lapisan konflik yang sudah lama mengendap.
1. Tradisi vs Modernisasi
Syuriyah, sebagai penjaga nilai-nilai klasik NU, ingin
memastikan organisasi tetap seperti kitab kuning: terjaga, rapi, dan tak
gampang diubah.
Sementara Tanfidziyah di bawah Gus Yahya justru seperti anak
muda bersemangat: mau digitalisasi, mau bikin Akademi Kepemimpinan, mau
diplomasi internasional. Bagi sebagian kalangan, ini seperti melihat santri
tiba-tiba pakai AI buat nulis makalah—efisien, tapi bikin bingung kiai penguji.
2. Kasus CHT: Mualaf, Menteri Luar Negeri Dadakan, atau
Kambing Hitam?
Charles Holland Taylor (CHT) menjadi katalis dramanya. Tokoh
ini bagaikan “karakter asing” dalam film Indonesia yang selalu muncul di adegan
penting. Keahliannya dalam diplomasi global dihargai oleh sebagian pihak, tapi
dicurigai oleh pihak lain sebagai ‘pintu belakang’ pengaruh asing.
Ketika Rais Aam memecat CHT, tensi politik mendadak naik
seperti volume di toa masjid saat takbir akbar. Dan ketika risalah bocor,
lengkaplah sudah—CHT tidak hanya menjadi tokoh sentral, tapi juga simbol
perbedaan paradigma.
NU di Persimpangan: Dialog, Drama, atau Damai?
Efek bocornya risalah langsung berlapis-lapis.
Di internal, NU seperti terbagi dua kubu: Jawa Timur dan
Jawa Tengah seolah sedang memainkan derby sepak bola, hanya saja lapangannya
rapat organisasi.
Namun, sebagaimana tradisinya, musyawarah menjadi penolong.
Para kiai kumpul, kopi disuguhkan, dan keputusan bulat dihasilkan: tidak
ada pemakzulan.
Drama mereda perlahan. Dan seperti biasa, NU membuktikan
bahwa konflik internal itu bukan tujuan, melainkan bumbu yang pada akhirnya
memperkuat organisasi—asal tidak kebanyakan micin.
Penutup: Dokumen Bocor, Masalah Terbuka, Iman Tetap
Terjaga
Pada akhirnya, risalah bocor ini menjadi ujian besar bagi
NU. Tapi NU bukan organisasi kemarin sore. Ia ibarat kapal besar yang kadang
oleng sedikit, tapi selalu kembali lurus karena nakhodanya banyak dan semuanya
cinta umat.
Krisis ini tidak hanya memberi pelajaran tentang manajemen
dokumen (dan manajemen password WhatsApp), tetapi juga menunjukkan betapa
pentingnya memperjelas batas wewenang dalam AD/ART.
Sebab jika tidak, drama seperti ini bisa terulang—dan bangsa
ini sudah cukup memiliki sinetron azab tanpa perlu menambah “Azab Organisasi
Besar yang Kebanyakan Ulama”.
Wallahu a’lam bish-shawab.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.