Kamis, 27 November 2025

Enam Kitab Tasawuf: Kompas Spiritual bagi Hati yang Sering “Error 404: Kedamaian Not Found”

Di zaman modern ini, hampir semua orang sibuk mengejar “ketenangan batin”—ironisnya sambil terus memeriksa notifikasi yang jumlahnya lebih banyak daripada dzikir harian. Di tengah keramaian ini, tasawuf hadir sebagai oase. Tapi mencari tasawuf yang benar itu seperti mencari sinyal 4G di hutan: ada, tapi harus tahu titiknya.

Nah, artikel NU Online berjudul “Mengenal 6 Kitab Tasawuf untuk Mengantarkan Cinta kepada Allah” bisa diibaratkan GPS resmi dari para ulama. Enam kitab yang disebutkan bukan sekadar buku kuno yang baunya seperti lembaran sejarah, tetapi power bank spiritual yang masih sangat relevan untuk hati-hati low-batt.

Tasawuf Sunni: Ibarat Charger Original

Sebelum masuk ke kitab-kitabnya, penulis artikel menegaskan bahwa tasawuf yang benar itu harus “Sunni”. Ini penting, karena tasawuf tanpa syariat ibarat pakai charger KW: awalnya masuk, lama-lama meledak.

Tasawuf Sunni memastikan bahwa perjalanan spiritual tetap berada di jalur Qur’an, Sunnah, dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Jadi tidak ada praktik aneh-aneh seperti mencari ketenangan dengan menatap lilin selama 3 jam atau menganggap tidur siang sebagai suluk level tinggi.

Enam Kitab yang Jadi Lampu Penerang Hati (dan Pengusir Kegalauan)

1. Ar-Risālah al-Qusyairiyyah
Kitab ini seperti pintu masuk resmi dunia tasawuf. Ibarat brosur wisata, ia memperkenalkan peta sufi, istilah-istilahnya, sampai biografi para “petualang hati”. Cocok untuk pemula yang baru selesai dari “turn back crime” spiritual.

2. Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn
Mahakarya Al-Ghazali ini begitu lengkap hingga bisa dibilang sebagai “Super App”-nya tasawuf: ada fikihnya, akhlaknya, sampai tips menghindari sifat yang bikin hati gelap seperti iri, sombong, dan terlalu banyak stalking akun orang lain.

3. Sirr al-Asrār
Karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini membahas rahasia batin ibadah. Bahasanya enak, tidak bikin kening berkerut. Kalau ibadah itu kue, kitab ini menjelaskan apa yang terjadi di balik oven spiritualnya.

4. Madārij as-Sālikīn
Ibnul Qayyim membuktikan bahwa tasawuf akhlaki itu lintas-mahzeab. Kitab ini seperti tangga 100 tingkat menuju ridha Allah. Cocok untuk yang suka naik level, tapi yang ini bukan level game—level akhlak.

5. Al-Ta‘arruf li Madzhab Ahl at-Tashawwuf
Kalau kitab lain fokus membimbing hati, yang ini fokus membela tasawuf dari fitnah. Ibarat pengacara tasawuf, ia menjelaskan bahwa sufi bukanlah kumpulan orang yang tugasnya hanya tersenyum sambil memakai jubah putih dan wangi cendana.

6. Qūt al-Qulūb
Kitab ini seperti secangkir teh hangat yang menenangkan. Lembut, puitis, dan mengalir. Tidak heran Al-Ghazali mengambil banyak inspirasi dari sini. Cocok untuk hati yang sedang “buffering”.

Tasawuf vs Era Digital: Antara Zikir dan Scroll

Tahun 2025 penuh dengan fenomena “tasawuf pop”—semua ingin tenang, tapi tidak mau ribet menjalankan syariat. Ada yang mengira ketenangan bisa dicapai hanya dengan caption Instagram berbunga-bunga. Padahal, para sufi zaman dulu kalau ingin tenang, jalannya riyadhah, bukan reels.

Karena itu, artikel NU ini hadir seperti penjaga gawang yang bersuara:
“Silakan cari ketenangan, tapi pakailah jalur resmi!”

Penutup: Dari Cinta Dunia ke Cinta Ilahi, Perlahan tapi Pasti

Inti dari semua ini sederhana: tasawuf itu bukan bid’ah atau pelarian dari dunia. Ia adalah inti agama, mengajarkan kita merawat hati, memperbaiki akhlak, dan menata kembali cinta—dari cinta terhadap dunia ringan-ringan, menuju cinta Ilahi yang menenangkan.

Enam kitab tasawuf ini adalah kompas. Kalau hati Anda sering tersesat, sering overthinking, atau sering merasa kosong meski kuota penuh, mungkin sudah saatnya membuka kitab-kitab ini.

Dan siapa tahu, dari hati yang kusam, Allah tumbuhkan cahaya. Dari jiwa yang gelisah, tumbuh cinta Ilahi yang lembut.

Wallahu a’lam bis-shawab.

Sumber: https://nu.or.id/pustaka/mengenal-6-kitab-tasawuf-untuk-mengantarkan-cinta-kepada-allah-QHMko\

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.