Kamis, 20 November 2025

Mahabbah: Ketika Allah yang Narik, Kita Cuma Ikut Keseret

Dalam banyak ceramah tasawuf, kita sering diberi gambaran bahwa mahabbah—cinta Ilahi tingkat dewa—itu hanya bisa dicapai setelah melewati riyadhah super ketat: puasa senin-kamis, zikir sampai mulut kering, dan bangun malam yang frekuensinya mengalahkan alarm sahur Ramadan. Pokoknya paket lengkap “menderitanya seorang hamba”.

Tapi menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (dan dibenarkan oleh para murid yang wajahnya selalu tampak calm), konsep itu agak… salah paham.

Karena ternyata, mahabbah itu bukan kita yang ngejar.
Kita itu cuma kayak feri kecil di laut yang tiba-tiba ditarik kapal induk nuklir—tanpa ditanya dulu.
Tiba-tiba saja hati merasa diseret kepada Allah dengan “tarikan rahasia”, atau dalam bahasa lebih modernnya: divine gravity mode on.

Ketika Nafs Diet Syahwat dan Hati Tiba-Tiba Serius

Tahap paling ajaib dari tarikan ini adalah ketika “selain-Nya” hilang dari hati. Bukan hilang kayak lupa bayar cicilan, tapi hilang total—factory reset. Nafs yang biasanya rewel minta kuota syahwat, mendadak jadi rajin mengikuti syariat, tanpa disogok pahala.

Qalb menjadi rajin merenung, Ruh standby siap dipanggil, dan Sirr? Sirr tenggelam dalam musyahadah sampai-sampai, kalau ada yang tanya: “Kamu lihat apa?” Dia jawab: “Aku lihat Allah sebelum aku lihat dunia… dan sebelum kamu mulai kepo.”

Sebelum kita sempat bilang astaghfirullah, Allah sudah duluan memaafkan.
Ini mirip orang tua yang sudah ngelus dada bahkan sebelum anaknya mulai ngaku salah.

Salat Hajat: Dari Dulu Minta Rezeki, Sekarang Cuma Mau Quality Time

Hamba yang ditarik oleh Allah itu punya ciri khas: makin ditarik, makin merasa kecil. Kalau Allah menunjukkan kekayaan-Nya, dia langsung sadar betapa fakir dirinya—dan bukan fakir gaya sindrom self-love toxic, tetapi fakir yang sehat, elegan, dan spiritual.

Salat hajat pun berubah fungsi.
Dulu: “Ya Allah, lancarkan rezeki hamba.”
Sekarang: “Ya Allah, mumpung hamba lagi sendiri, kita ngobrol yuk.”

Dan ada warning keras: Jangan senang dulu kalau doa cepat dikabulkan.
Bisa jadi Allah sedang bilang: “Nih, ambil. Biar cepat kamu berhenti ribut.”

Karena hamba yang dicintai tidak sibuk soal hasil, tapi merasa cukup ketika diberi waktu “berduaan”.

Surab al-Hubb: Minuman Cinta Tanpa Kafein

Ceramah ini menggunakan metafora minuman cinta. Menariknya, ini bukan latte, bukan espresso, bukan matcha, tapi:

  • Cahayanya Allah adalah minumannya,
  • Ma’rifatullah adalah gelasnya,
  • Dan baristanya? Allah sendiri.

Masalahnya, banyak orang malah sibuk mengagumi “gelas” ma’rifahnya sendiri.
Ini seperti orang yang ke kedai kopi mahal, bukannya menikmati minuman, malah pamer foto gelasnya di Instagram.

Ketika itu terjadi, hati-hati. Itu namanya istidraj spiritual—naik level tapi sebenarnya makin jauh dari server pusat.

Sukr dan Ṣaḥw: Mabuk ala Sufi, Sadar Ala Kekasih

Tingkatan “mabuk cinta Ilahi” itu memang benar adanya. Tetapi mabuk di sini bukan terpeleset syariat, melainkan tenggelam dalam cahaya Allah sampai lupa dunia.

Tapi tingkatan yang lebih berat justru ṣaḥw—ketika seseorang “kembali sadar”, tapi kesadarannya penuh zikir dan rasa takut.
Contoh paling keren adalah Rasulullah SAW, yang istighfar puluhan kali sehari bukan karena dosa, tapi karena saking banyaknya cahaya yang beliau terima. Beliau takut cahaya itu malah jadi… hijab.

Ini seperti takut silau karena lampu panggung, padahal kita pemain utamanya.

Bahaya: Jangan Ngaku Sampai!

Ceramah ini tutup dengan peringatan kelas berat:
Kalau seseorang sudah mulai bilang “Saya sudah wusul”, “Saya sudah makrifat”, itu sama seperti orang kampung yang baru sampai bandara Soekarno-Hatta lalu bilang “Aku sudah keliling dunia.”

Semua pengalaman spiritual—seindah apa pun—pasti tenggelam.
Yang tidak tenggelam cuma Allah.
Nabi Ibrahim sudah kasih bocoran: “Aku tidak suka yang tenggelam.”

Jadi kalau ada yang terlalu bangga dengan “pengalaman batinnya”, ingatkan saja pakai satu kalimat:
“Bro, yang abadi itu bukan pengalamannya, tapi Dia.”

Penutup: Orang yang Paling Sampai Justru Tidak Pernah Merasa Sampai

Kesimpulan ceramah ini sebenarnya sangat syadziliyah:
Makin tinggi seseorang, makin membumi syariatnya. Makin dalam makrifat seseorang, makin ia terlihat sebagai orang biasa—sholatnya standar, bajunya sederhana, dan Instagramnya tidak ada foto lingkaran cahaya.

Karena pada akhirnya, dalam logika cinta Ilahi:

Yang sampai itu bukan kita.
Kita cuma ikut ditarik.
Dan kita bersyukur ditarik.

Mahabbah sejati adalah pasrah total kepada takdir cinta—sambil tetap berwudu, tetap salat, tetap istighfar, dan tetap berharap pada tarikan rahasia dari Sang Kekasih Sejati.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.