Dalam banyak ceramah tasawuf, kita sering diberi gambaran bahwa mahabbah—cinta Ilahi tingkat dewa—itu hanya bisa dicapai setelah melewati riyadhah super ketat: puasa senin-kamis, zikir sampai mulut kering, dan bangun malam yang frekuensinya mengalahkan alarm sahur Ramadan. Pokoknya paket lengkap “menderitanya seorang hamba”.
Tapi menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (dan dibenarkan
oleh para murid yang wajahnya selalu tampak calm), konsep itu agak…
salah paham.
Ketika Nafs Diet Syahwat dan Hati Tiba-Tiba Serius
Tahap paling ajaib dari tarikan ini adalah ketika
“selain-Nya” hilang dari hati. Bukan hilang kayak lupa bayar cicilan, tapi
hilang total—factory reset. Nafs yang biasanya rewel minta kuota
syahwat, mendadak jadi rajin mengikuti syariat, tanpa disogok pahala.
Qalb menjadi rajin merenung, Ruh standby siap dipanggil, dan
Sirr? Sirr tenggelam dalam musyahadah sampai-sampai, kalau ada yang tanya:
“Kamu lihat apa?” Dia jawab: “Aku lihat Allah sebelum aku lihat dunia… dan
sebelum kamu mulai kepo.”
Salat Hajat: Dari Dulu Minta Rezeki, Sekarang Cuma Mau
Quality Time
Hamba yang ditarik oleh Allah itu punya ciri khas: makin
ditarik, makin merasa kecil. Kalau Allah menunjukkan kekayaan-Nya, dia langsung
sadar betapa fakir dirinya—dan bukan fakir gaya sindrom self-love toxic,
tetapi fakir yang sehat, elegan, dan spiritual.
Karena hamba yang dicintai tidak sibuk soal hasil, tapi
merasa cukup ketika diberi waktu “berduaan”.
Surab al-Hubb: Minuman Cinta Tanpa Kafein
Ceramah ini menggunakan metafora minuman cinta. Menariknya,
ini bukan latte, bukan espresso, bukan matcha, tapi:
- Cahayanya
Allah adalah minumannya,
- Ma’rifatullah
adalah gelasnya,
- Dan
baristanya? Allah sendiri.
Ketika itu terjadi, hati-hati. Itu namanya istidraj
spiritual—naik level tapi sebenarnya makin jauh dari server pusat.
Sukr dan Ṣaḥw: Mabuk ala Sufi, Sadar Ala Kekasih
Tingkatan “mabuk cinta Ilahi” itu memang benar adanya.
Tetapi mabuk di sini bukan terpeleset syariat, melainkan tenggelam dalam cahaya
Allah sampai lupa dunia.
Ini seperti takut silau karena lampu panggung, padahal kita
pemain utamanya.
Bahaya: Jangan Ngaku Sampai!
Penutup: Orang yang Paling Sampai Justru Tidak Pernah
Merasa Sampai
Karena pada akhirnya, dalam logika cinta Ilahi:
Mahabbah sejati adalah pasrah total kepada takdir cinta—sambil
tetap berwudu, tetap salat, tetap istighfar, dan tetap berharap pada tarikan
rahasia dari Sang Kekasih Sejati.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.