Minggu, 02 November 2025

🔥🌍 Drama Iklim: Antara Tukang Teriak Kiamat dan Tim Santai Kayak di Bali

Isu perubahan iklim itu ibarat grup WA keluarga: selalu ramai, penuh emosi, dan ada saja yang ngegas atau nge-relax kelewat batas.

Di satu sisi, ada kubu Alarmisme—mereka seperti orang yang melihat kecoa terbang: langsung panik, teriak, dan siap bakar rumah. “Planet kita akan MATI dalam 10 tahun!” katanya sambil beli tote bag ramah lingkungan tapi pesan delivery setiap malam.

Di sisi lain, ada kubu Skeptisisme Cool-Cool Club. Mereka ini tipe yang kalau atap sudah bocor, masih bilang, “Halah, masih bisa ditambal, santai dulu lah. Nanti juga kering sendiri.” Padahal hujannya hujan badai, bukan gerimis cintanya film remaja.

Nah, muncul sosok seperti Bill Gates—yang bukannya panik, tapi juga nggak santai. Ia seperti bapak-bapak insinyur yang kalau rumah kebakaran nggak teriak, tapi langsung keluarin daftar alat pemadam dan SOP penyelamatan keluarga. Judul bukunya memang How to Avoid a Climate Disaster, tapi isinya lebih kayak: “Tenang, kita bisa kok... asal punya nuklir kecil, baterai super, dan teknologi yang belum ada di toko sebelah.”

Lalu ada Bjorn Lomborg, sang “anak tongkrongan” yang bilang, “Bro, fokus dulu atasi kemiskinan, baru bicara iklim.” Kedengarannya bijak, sampai kita sadar logikanya mirip orang bilang, “Jangan belajar dulu, tidur aja. Besok ujian juga santai.” Enak buat yang ngomong, tapi yang ketiban akibat nanti siapa? Generasi cucu kita yang baru bisa nabung sebentar, tiba-tiba harus beli perahu buat pergi sekolah karena banjir.

Diskusinya makin seru ketika dibawa ke konteks Indonesia. Di sini, para praktisi energi berusaha keras bikin transisi energi yang beneran jalan. PLN misalnya, lagi rajin nyopot diesel di daerah terpencil dan ganti panel surya. Itu ibarat nelayan yang upgrade dari dayung ke motor, tapi versi ramah lingkungan. Hasilnya? Warga desa bisa nyalain kulkas tanpa takut listrik mati, dan bumi bisa bernapas sedikit lega. Win-win! 🌞🔋

Sementara itu, di kota besar, masih ada yang debat: “Mending AC 16 derajat biar dingin atau mati lampu biar hemat energi?” Wah, pilihan hidup kok seperti dua babak ujian nasional. Padahal jawaban sesungguhnya: hemat boleh, tapi teknologi dan kebijakan jangan ketinggalan zaman.

Dan terakhir, pesan moralnya adalah: jangan nunggu rumah sendiri kebanjiran baru peduli. Lihat tuh negara yang tiap tahun dihajar badai, kekeringan, kebakaran… mereka bukan cosplay tragedi. Planet ini lagi minta tolong, bukan latihan drama.

Kesimpulan yang Agak Serius Tapi Tetap Senyum

Masalah iklim bukan sinetron yang bisa di-skip. Kita nggak bisa cuma:

  • panik tapi nggak ngapa-ngapain, atau
  • santai sambil bilang “itu urusan generasi selanjutnya.”

Solusinya? Jadi tim Realistis Progresif: nggak lebay, tapi juga nggak malas. Kita ikuti sains, dukung teknologi yang masuk akal, dan pastikan transisi energi itu adil dan bisa dipakai rakyat, bukan cuma jadi bahan seminar ber-AC.

Karena masa depan bumi bukan ditentukan seberapa keras kita teriak di media sosial, tapi seberapa rajin kita action di dunia nyata.

Kalem boleh. Panik? Kadang perlu. Tapi yang penting:

Jangan cuma debat, mari colok panel surya dan mulai kerja!

abah-arul.blogspot.com.,
November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.