Isu perubahan iklim itu ibarat grup WA keluarga: selalu ramai, penuh emosi, dan ada saja yang ngegas atau nge-relax kelewat batas.
Di satu sisi, ada kubu Alarmisme—mereka seperti orang
yang melihat kecoa terbang: langsung panik, teriak, dan siap bakar rumah.
“Planet kita akan MATI dalam 10 tahun!” katanya sambil beli tote bag ramah
lingkungan tapi pesan delivery setiap malam.
Di sisi lain, ada kubu Skeptisisme Cool-Cool Club.
Mereka ini tipe yang kalau atap sudah bocor, masih bilang, “Halah, masih bisa
ditambal, santai dulu lah. Nanti juga kering sendiri.” Padahal hujannya hujan
badai, bukan gerimis cintanya film remaja.
Nah, muncul sosok seperti Bill Gates—yang bukannya panik,
tapi juga nggak santai. Ia seperti bapak-bapak insinyur yang kalau rumah
kebakaran nggak teriak, tapi langsung keluarin daftar alat pemadam dan SOP
penyelamatan keluarga. Judul bukunya memang How to Avoid a Climate Disaster,
tapi isinya lebih kayak: “Tenang, kita bisa kok... asal punya nuklir kecil,
baterai super, dan teknologi yang belum ada di toko sebelah.”
Lalu ada Bjorn Lomborg, sang “anak tongkrongan” yang bilang,
“Bro, fokus dulu atasi kemiskinan, baru bicara iklim.” Kedengarannya bijak,
sampai kita sadar logikanya mirip orang bilang, “Jangan belajar dulu, tidur
aja. Besok ujian juga santai.” Enak buat yang ngomong, tapi yang ketiban akibat
nanti siapa? Generasi cucu kita yang baru bisa nabung sebentar, tiba-tiba harus
beli perahu buat pergi sekolah karena banjir.
Diskusinya makin seru ketika dibawa ke konteks Indonesia. Di
sini, para praktisi energi berusaha keras bikin transisi energi yang beneran
jalan. PLN misalnya, lagi rajin nyopot diesel di daerah terpencil dan ganti
panel surya. Itu ibarat nelayan yang upgrade dari dayung ke motor, tapi versi
ramah lingkungan. Hasilnya? Warga desa bisa nyalain kulkas tanpa takut listrik
mati, dan bumi bisa bernapas sedikit lega. Win-win! 🌞🔋
Sementara itu, di kota besar, masih ada yang debat: “Mending
AC 16 derajat biar dingin atau mati lampu biar hemat energi?” Wah, pilihan
hidup kok seperti dua babak ujian nasional. Padahal jawaban sesungguhnya: hemat
boleh, tapi teknologi dan kebijakan jangan ketinggalan zaman.
Dan terakhir, pesan moralnya adalah: jangan nunggu rumah
sendiri kebanjiran baru peduli. Lihat tuh negara yang tiap tahun dihajar
badai, kekeringan, kebakaran… mereka bukan cosplay tragedi. Planet ini lagi
minta tolong, bukan latihan drama.
✨ Kesimpulan yang Agak Serius
Tapi Tetap Senyum
Masalah iklim bukan sinetron yang bisa di-skip. Kita
nggak bisa cuma:
- panik
tapi nggak ngapa-ngapain, atau
- santai sambil bilang “itu urusan generasi selanjutnya.”
Solusinya? Jadi tim Realistis Progresif: nggak lebay,
tapi juga nggak malas. Kita ikuti sains, dukung teknologi yang masuk akal, dan
pastikan transisi energi itu adil dan bisa dipakai rakyat, bukan cuma jadi
bahan seminar ber-AC.
Karena masa depan bumi bukan ditentukan seberapa keras kita
teriak di media sosial, tapi seberapa rajin kita action di dunia nyata.
Kalem boleh. Panik? Kadang perlu. Tapi yang penting:
Jangan cuma debat, mari colok panel surya dan mulai kerja!
abah-arul.blogspot.com.,
November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.