Bayangkan dua anak kecil di taman bermain dunia teknologi.Yang satu, Amerika Serikat, membawa ember raksasa penuh pasir—GPU sebanyak
bintang di langit, listrik sebanyak satu kota kecil, dan uang sebanyak... yah,
anggaran perang kecil.
Yang satu lagi, China, datang dengan ember kecil, sendok plastik, tapi wajahnya
tenang dan penuh perhitungan.
Keduanya sama-sama ingin membangun istana pasir paling megah di dunia AI.
Bedanya, yang satu membangun dengan “brute force”, yang satu dengan “kung fu
efisiensi”.
Elon Musk dan Kolosus: Monster dari Silicon Valley
Proyek Colossus xAI terdengar seperti nama makhluk
dari film Marvel—dan memang rasanya begitu. Elon Musk tampaknya ingin membuat
komputer yang tidak hanya berpikir, tapi mungkin bisa menatap balik manusia
dengan tatapan eksistensial:
“Apakah kau yakin kau yang menciptakanku, atau aku yang
menciptakanmu, Elon?”
Dengan 1 juta GPU dan biaya 60 miliar dolar,
Colossus seperti pusat kebugaran raksasa bagi algoritma. Ia mengangkat beban
komputasi, makan listrik 300 Megawatt, dan berkeringat berupa panas yang bisa
memanggang ayam satu kota.
Namun, di balik keperkasaannya, Colossus juga membawa aroma klasik Amerika:
keyakinan bahwa jika sesuatu tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan otot,
mungkin kamu hanya belum menambahkan cukup GPU.
DeepSeek: Si Biksu Efisien dari Timur
Sementara itu di timur, DeepSeek duduk bersila di
atas gunung server, bermeditasi sambil berbisik:
“GPU banyak itu penderitaan. Hematlah daya, maka kau akan
tercerahkan.”
Alih-alih membangun gunung besi seperti Colossus, DeepSeek
menciptakan sistem Mixture of Experts (MoE) — seni membuka hanya
sebagian otak AI saat dibutuhkan. Ibaratnya, ketika Colossus menyalakan semua
lampu rumah hanya untuk mencari remot TV, DeepSeek cukup menyalakan senter di
ruang tamu.
Dengan hanya 10.000–20.000 GPU, DeepSeek mencapai
performa hampir sama dengan Grok-nya Elon. Hemat energi, hemat biaya, tapi
cukup bikin Washington resah:
“Bagaimana mereka bisa lebih pintar tanpa listrik segudang?”
Mungkin karena mereka mempraktikkan prinsip Tao: “Yang lemah
mengalahkan yang kuat, yang kecil menaklukkan yang besar.”
Atau mungkin karena mereka tidak sibuk berdebat di Twitter.
Dua Filosofi, Satu Planet yang Kepanasan
Di satu sisi, Colossus adalah pameran “muscle car” AI —
bising, cepat, dan haus bensin.
Di sisi lain, DeepSeek adalah sepeda listrik Zen — tenang, hemat, tapi entah
kenapa bisa sampai lebih dulu.
Namun, di balik duel epik ini, ada pertanyaan eksistensial:
Apakah kita benar-benar butuh AI yang lebih besar, atau hanya AI yang lebih
bijak?
Karena kalau perlombaan ini terus berlanjut, Bumi mungkin butuh AI lain hanya
untuk mengatur tagihan listriknya.
Ketika Geopolitik Bertemu Ego
Colossus dan DeepSeek bukan cuma proyek teknologi — mereka
adalah perpanjangan dari ego nasional.
AS berkata: “Kami punya kekuatan superkomputer.”
China menjawab: “Kami punya disiplin algoritma.”
Sementara sisanya, termasuk kita di dunia ketiga, hanya bisa berkata:
“Kami punya Wi-Fi yang kadang nyala, kadang tidak.”
Namun, ada hikmah di balik semua ini. Setiap GPU yang
terbakar dan setiap dolar yang menguap membawa dunia sedikit lebih dekat ke
satu kesimpulan: bahwa masa depan tidak dimenangkan oleh yang paling besar,
tapi oleh yang paling cerdas... atau yang paling hemat listrik.
Penutup: Kolosus vs Zen
Pada akhirnya, Colossus dan DeepSeek seperti dua versi
manusia modern:
Yang satu percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan lebih banyak
daya dan data,
Yang satu percaya bahwa kesadaran lahir dari keseimbangan dan efisiensi.
Dan mungkin, seperti dalam semua kisah jenaka umat manusia,
keduanya akan bertemu di tengah — di sebuah server farm yang hangus karena
overheat — dan berkata bersama:
“Mungkin kita seharusnya berhenti berpacu dan mulai
berpikir.”
abah-arul.blogspot.com., November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.