Sabtu, 08 November 2025

Kolosus Baru: Ketika AI Jadi Ajang Pamer Otot Digital

Bayangkan dua anak kecil di taman bermain dunia teknologi.

Yang satu, Amerika Serikat, membawa ember raksasa penuh pasir—GPU sebanyak bintang di langit, listrik sebanyak satu kota kecil, dan uang sebanyak... yah, anggaran perang kecil.
Yang satu lagi, China, datang dengan ember kecil, sendok plastik, tapi wajahnya tenang dan penuh perhitungan.
Keduanya sama-sama ingin membangun istana pasir paling megah di dunia AI. Bedanya, yang satu membangun dengan “brute force”, yang satu dengan “kung fu efisiensi”.

Elon Musk dan Kolosus: Monster dari Silicon Valley

Proyek Colossus xAI terdengar seperti nama makhluk dari film Marvel—dan memang rasanya begitu. Elon Musk tampaknya ingin membuat komputer yang tidak hanya berpikir, tapi mungkin bisa menatap balik manusia dengan tatapan eksistensial:

“Apakah kau yakin kau yang menciptakanku, atau aku yang menciptakanmu, Elon?”

Dengan 1 juta GPU dan biaya 60 miliar dolar, Colossus seperti pusat kebugaran raksasa bagi algoritma. Ia mengangkat beban komputasi, makan listrik 300 Megawatt, dan berkeringat berupa panas yang bisa memanggang ayam satu kota.
Namun, di balik keperkasaannya, Colossus juga membawa aroma klasik Amerika: keyakinan bahwa jika sesuatu tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan otot, mungkin kamu hanya belum menambahkan cukup GPU.

DeepSeek: Si Biksu Efisien dari Timur

Sementara itu di timur, DeepSeek duduk bersila di atas gunung server, bermeditasi sambil berbisik:

“GPU banyak itu penderitaan. Hematlah daya, maka kau akan tercerahkan.”

Alih-alih membangun gunung besi seperti Colossus, DeepSeek menciptakan sistem Mixture of Experts (MoE) — seni membuka hanya sebagian otak AI saat dibutuhkan. Ibaratnya, ketika Colossus menyalakan semua lampu rumah hanya untuk mencari remot TV, DeepSeek cukup menyalakan senter di ruang tamu.

Dengan hanya 10.000–20.000 GPU, DeepSeek mencapai performa hampir sama dengan Grok-nya Elon. Hemat energi, hemat biaya, tapi cukup bikin Washington resah:

“Bagaimana mereka bisa lebih pintar tanpa listrik segudang?”

Mungkin karena mereka mempraktikkan prinsip Tao: “Yang lemah mengalahkan yang kuat, yang kecil menaklukkan yang besar.”
Atau mungkin karena mereka tidak sibuk berdebat di Twitter.

Dua Filosofi, Satu Planet yang Kepanasan

Di satu sisi, Colossus adalah pameran “muscle car” AI — bising, cepat, dan haus bensin.
Di sisi lain, DeepSeek adalah sepeda listrik Zen — tenang, hemat, tapi entah kenapa bisa sampai lebih dulu.

Namun, di balik duel epik ini, ada pertanyaan eksistensial:
Apakah kita benar-benar butuh AI yang lebih besar, atau hanya AI yang lebih bijak?
Karena kalau perlombaan ini terus berlanjut, Bumi mungkin butuh AI lain hanya untuk mengatur tagihan listriknya.

Ketika Geopolitik Bertemu Ego

Colossus dan DeepSeek bukan cuma proyek teknologi — mereka adalah perpanjangan dari ego nasional.
AS berkata: “Kami punya kekuatan superkomputer.”
China menjawab: “Kami punya disiplin algoritma.”
Sementara sisanya, termasuk kita di dunia ketiga, hanya bisa berkata:

“Kami punya Wi-Fi yang kadang nyala, kadang tidak.”

Namun, ada hikmah di balik semua ini. Setiap GPU yang terbakar dan setiap dolar yang menguap membawa dunia sedikit lebih dekat ke satu kesimpulan: bahwa masa depan tidak dimenangkan oleh yang paling besar, tapi oleh yang paling cerdas... atau yang paling hemat listrik.

Penutup: Kolosus vs Zen

Pada akhirnya, Colossus dan DeepSeek seperti dua versi manusia modern:
Yang satu percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan lebih banyak daya dan data,
Yang satu percaya bahwa kesadaran lahir dari keseimbangan dan efisiensi.

Dan mungkin, seperti dalam semua kisah jenaka umat manusia, keduanya akan bertemu di tengah — di sebuah server farm yang hangus karena overheat — dan berkata bersama:

“Mungkin kita seharusnya berhenti berpacu dan mulai berpikir.”

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.