Sabtu, 08 November 2025

ERA Melawan Dikit-Dikit AI: Panduan Bertahan Hidup di Era Otak Malas

Suatu hari, seorang mahasiswa dengan wajah penuh percaya diri berkata kepada dosennya,

“Pak, saya tidak menyontek. Saya hanya berkolaborasi dengan ChatGPT.”

Di sinilah masalah dimulai: manusia mulai membenarkan kemalasan dengan istilah akademis. Untungnya, di tengah wabah “Dikit-Dikit AI” ini, muncul sosok penyelamat dari Yogyakarta — bukan superhero berselimut jubah, tapi seorang Guru Besar UGM bernama Prof. Ridi Ferdiana dengan senjata andalannya: konsep ERA — Esensial, Rating, Applicable.

E: Esensial — Jangan Jadi Generasi Ctrl+C Ctrl+V

Tahap pertama, Esensial, mengingatkan kita bahwa sebelum bertanya pada AI, sebaiknya kita bertanya dulu pada… otak sendiri.
Prof. Ridi mengajarkan: sebelum membuka ChatGPT, bukalah buku. Sebelum bertanya pada Gemini, bertanyalah pada Google Scholar. Sebelum percaya pada Copilot, yakinkan dulu bahwa kita bukan hanya pilot penumpang.

Sayangnya, banyak orang kini lebih hafal prompt daripada isi kepala. Kalau dulu mahasiswa rebutan kursi depan di kelas, sekarang mereka rebutan Wi-Fi untuk “nanya AI.” Esensial mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bisa di-copy-paste seperti caption motivasi.

R: Rating — Jangan Percaya AI Sebelum AI Percaya Padamu

Tahap kedua, Rating, adalah seni menilai. Setelah kita paham dasarnya, barulah AI dijadikan teman diskusi, bukan nabi digital.
Masalahnya, manusia modern punya kebiasaan baru: kalau AI menjawab, langsung “amin.”
Padahal, AI itu kadang ngawur. Ia bisa menulis puisi yang indah, tapi juga bisa yakin bahwa “Plato adalah brand yogurt dari Yunani.”

Prof. Ridi ingin kita menjadi manusia yang kritis — bukan sekadar user, tapi thinker. AI boleh membantu, tapi keputusan tetap di tangan manusia. Kalau AI bilang “loncat dari gedung karena itu efisien,” tugas kita bukan mengikuti, tapi menilai… dan mungkin melapor ke pihak berwajib.

A: Applicable — Dari ChatGPT ke Catatan Kehidupan

Tahap terakhir, Applicable, adalah puncak pencerahan digital. Di sinilah AI dipakai untuk bekerja, bukan berpikir menggantikan kita.
Kalau sebelumnya kita sudah punya dasar dan menilai dengan akal sehat, barulah hasilnya jadi bermanfaat.
Tapi kalau langsung ke tahap Applicable tanpa Esensial dan Rating, hasilnya ya seperti anak magang yang disuruh presentasi: penuh percaya diri tapi kosong isinya.

Applicable itu seperti masak dengan resep. AI bisa kasih daftar bahan dan cara memasak, tapi yang menyalakan kompor dan menentukan rasa tetap manusia. Kalau tidak, nanti hasilnya bukan nasi goreng, tapi “nasi data mentah berperisa prompt.”

Fenomena DDA (Dikit-Dikit AI) dan Ancaman Otak Layu

 

Menjadikan ERA Sebagai Kebudayaan, Bukan Sekadar Kurikulum

 

Prof. Ridi menyebut fenomena Dikit-Dikit AI sebagai awal mula “brain rot”, atau pembusukan otak modern.
Ciri-cirinya: sulit fokus, malas berpikir, dan sering menulis “menurut AI…” tanpa tahu menurut siapa sebenarnya.
Sebanyak 77% mahasiswa UGM ternyata sudah bersahabat akrab dengan AI — sebagian bahkan lebih dekat dengannya daripada dengan dosen pembimbing.

Konsep ERA hadir sebagai suplemen vitamin otak: untuk mencegah kita menjadi generasi yang pintar mengetik prompt tapi gagap ketika ditanya, “Kenapa kamu percaya itu benar?”

Menjadikan ERA Sebagai Kebudayaan, Bukan Sekadar Kurikulum

Prof. Ridi tidak sedang menciptakan slogan kampus. Ia sedang menciptakan vaksin peradaban.
ERA seharusnya diterapkan di kampus, kantor, dan bahkan di rumah.
Bayangkan, jika setiap pekerja sebelum membuka AI harus menjawab dulu tiga pertanyaan sakral:

  1. Apa esensinya?
  2. Sudah kamu nilai?
  3. Layak diterapkan?

Mungkin dunia akan lebih waras — dan grup WA kantor tidak lagi dipenuhi slide PowerPoint hasil “AI yang katanya elegan tapi entah apa maksudnya.”

Penutup: Antara AI dan Akal Sehat

Konsep ERA bukan ajakan untuk menolak teknologi, tapi cara untuk mendidik manusia agar tidak terhapus dari pembaruan sistem.
AI boleh pintar, tapi manusia punya sesuatu yang belum bisa diprogram: kebijaksanaan dan humor.
Dan kalau suatu hari AI mulai menulis esai jenaka seperti ini, jangan khawatir. Itu artinya kita sudah berhasil menerapkan ERA — karena berarti AI belajar dari manusia, bukan sebaliknya.

🧠 Moralnya:
Sebelum menulis pakai AI, pastikan dulu otakmu tidak dalam mode sleep.
Sebab sebagus apa pun prompt-nya, tidak ada yang bisa menggantikan satu hal paling Esensial:
pikiran manusia yang masih mau berpikir.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.