ERA Melawan Dikit-Dikit AI: Panduan Bertahan Hidup di Era Otak Malas
Suatu hari, seorang mahasiswa dengan wajah penuh percaya diri berkata kepada dosennya,
“Pak, saya tidak menyontek. Saya hanya berkolaborasi dengan
ChatGPT.”
Di sinilah masalah dimulai: manusia mulai membenarkan
kemalasan dengan istilah akademis. Untungnya, di tengah wabah “Dikit-Dikit AI”
ini, muncul sosok penyelamat dari Yogyakarta — bukan superhero berselimut
jubah, tapi seorang Guru Besar UGM bernama Prof. Ridi Ferdiana dengan
senjata andalannya: konsep ERA — Esensial, Rating, Applicable.
E: Esensial — Jangan Jadi Generasi Ctrl+C Ctrl+V
Sayangnya, banyak orang kini lebih hafal prompt daripada isi
kepala. Kalau dulu mahasiswa rebutan kursi depan di kelas, sekarang mereka
rebutan Wi-Fi untuk “nanya AI.” Esensial mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan
itu tidak bisa di-copy-paste seperti caption motivasi.
R: Rating — Jangan Percaya AI Sebelum AI Percaya Padamu
Prof. Ridi ingin kita menjadi manusia yang kritis — bukan
sekadar user, tapi thinker. AI boleh membantu, tapi
keputusan tetap di tangan manusia. Kalau AI bilang “loncat dari gedung karena
itu efisien,” tugas kita bukan mengikuti, tapi menilai… dan mungkin melapor ke
pihak berwajib.
A: Applicable — Dari ChatGPT ke Catatan Kehidupan
Applicable itu seperti masak dengan resep. AI bisa kasih
daftar bahan dan cara memasak, tapi yang menyalakan kompor dan menentukan rasa
tetap manusia. Kalau tidak, nanti hasilnya bukan nasi goreng, tapi “nasi data
mentah berperisa prompt.”
Fenomena DDA (Dikit-Dikit AI) dan Ancaman Otak Layu
Menjadikan ERA Sebagai Kebudayaan, Bukan Sekadar
Kurikulum
Konsep ERA hadir sebagai suplemen vitamin otak: untuk
mencegah kita menjadi generasi yang pintar mengetik prompt tapi gagap ketika
ditanya, “Kenapa kamu percaya itu benar?”
Menjadikan ERA Sebagai Kebudayaan, Bukan Sekadar
Kurikulum
- Apa
esensinya?
- Sudah
kamu nilai?
- Layak
diterapkan?
Mungkin dunia akan lebih waras — dan grup WA kantor tidak
lagi dipenuhi slide PowerPoint hasil “AI yang katanya elegan tapi entah apa
maksudnya.”
Penutup: Antara AI dan Akal Sehat
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
11/08/2025 12:02:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.