Kamis, 27 November 2025

Diktator Serbaguna: Paket Lengkap antara Tegas, Tegang, dan Tergolong Murah Meriah

Ketika mendengar nama Muammar Gaddafi, sebagian orang langsung membayangkan sosok berkacamata hitam, berpenampilan eksentrik, dan gemar berpidato panjang seperti dosen yang lupa waktu. Narasi Barat sering menggambarkannya sebagai “diktator gila yang bangun tidur sudah marah-marah.” Tapi bagi sebagian rakyat Libya pada zamannya, beliau justru  Pemimpin ideal: tegas, nyentrik, tapi listrik selalu gratis dan warganya tidak pernah kelaparan.

Sungguh sebuah paradoks yang membuat kita bertanya-tanya:
Kalau ini diktator, lalu demokrasi yang suka janji kosong itu apa? Pengembangan karakter?

Negara Gratisan: Libya edisi Promo Besar-Besaran

Di bawah Gaddafi, Libya hampir seperti negara yang baru buka toko dan banting harga untuk menarik pelanggan. Listrik? Gratis. Pendidikan? Gratis. Kesehatan? Gratis. Mau menikah? Dapat subsidi apartemen. Mau beli mobil? Setengah harga ditanggung negara—lebih murah dari promo akhir tahun.

Tingkat melek huruf meroket dari 25% menjadi 83%. Bahkan orang tuanya sendiri tak dibelikan rumah oleh Gaddafi sampai semua warga punya rumah. Kalau ini bukan plot twist, saya tidak tahu apa lagi.

Dan yang paling menakjubkan:
Setiap bayi lahir, negara menghadiahkan $5.000. Di tempat lain, bayi baru lahir biasanya menghadiahi orang tuanya tagihan rumah sakit.

Aturannya Sederhana: Kalau Anda Sakit, Negara Bayar; Kalau Anda Menganggur, Negara Juga Bayar

Libya zaman Gaddafi seperti punya malaikat pelindung finansial. Warga butuh operasi di luar negeri? Silakan, yang penting cepat sembuh—tagihannya nanti dikirim ke negara. Pengangguran pun tidak dianggap masalah besar. Negara yang menanggung. Bahkan uang minyak didistribusikan langsung ke rekening warga, bukan ke rekening pejabat (model ini terlalu maju untuk banyak negara).

Sementara itu, harga roti dan bensin sangat murah—level “seribu dapat dua.” Bayangkan isi ulang bensin yang lebih murah dari kopi sachet.

Proyek Ambisius: Dari Gurun Gersang ke Kolam Besar ala Gaddafi

"The Great Man-Made River" adalah bukti bahwa Gaddafi tidak hanya membangun irigasi: beliau membuat versi raksasa bak aquascape nasional. Bayangkan mengubah gurun menjadi ladang subur, seperti mengubah gorengan berminyak jadi salad—misi yang tampaknya mustahil, tapi tetap dijalankan dengan penuh percaya diri.

Ternyata bisa.

Pertanyaan Rumit: Bolehkah Kita Betah dengan Diktator yang Dermawan?

Di sinilah drama sesungguhnya. Para pendukungnya berkata:

“Kami tidak punya kebebasan politik, tapi kami punya listrik gratis.”

Sementara dunia Barat berkata:

“Kebebasan itu penting! Walau listriknya bayar penuh, pajaknya tinggi, dan utangnya menumpuk.”

Dua kubu berbeda ini sama-sama yakin mereka benar. Satu bicara kebebasan, satu bicara kesejahteraan. Anda mau pilih mana? Hak memilih pemimpin setiap lima tahun, atau hak mendapat bensin super murah setiap hari? Dilema yang tidak diajarkan di sekolah.

Akhir Kisah: Dari Negara Mandiri ke Drama Pasca-NATO

Ketika Gaddafi tumbang, Libya seketika berubah dari “negara welfare versi super” menjadi “grup WhatsApp keluarga yang rusuh 24 jam.” Ketertiban hilang, fasilitas hancur, dan demokrasi yang dijanjikan datang dengan harga yang lebih mahal dari bensin era Gaddafi—lebih mahal dari apa pun yang warga bayangkan.

Kini, sebagian warga mungkin bergumam lirih:

“Dulu listrik gratis. Sekarang listrik saja jarang muncul.”

“Dulu rumah disubsidi. Sekarang rumahnya hilang.”

Sungguh ironi: demokrasi datang, tapi sejahtera pergi.

Penutup: Antara Gaddafi dan Definisi Pemerintahan Ideal

Warisan Gaddafi mengajarkan kita satu hal:

Politik tidak sesederhana paket internet.
Tidak bisa dipilih hanya: “yang murah,” “yang cepat,” atau “yang stabil.”

Gaddafi mungkin diktator dalam hal politik, tapi juga sultan kedermawanan dalam kebijakan sosial. Pertanyaan yang ditinggalkannya sulit dijawab:

Lebih penting mana: kebebasan politik tanpa jaminan hidup, atau jaminan hidup tanpa kebebasan politik?

Pada akhirnya, Libya mengingatnya dengan cara yang unik:
Tidak semua rindu akan pidatonya yang panjang, tapi banyak yang rindu listrik gratisnya.

Dan mungkin, itu sudah cukup untuk membuat dunia berpikir ulang tentang definisi “negara ideal.”

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.