Ketika mendengar nama Muammar Gaddafi, sebagian orang langsung membayangkan sosok berkacamata hitam, berpenampilan eksentrik, dan gemar berpidato panjang seperti dosen yang lupa waktu. Narasi Barat sering menggambarkannya sebagai “diktator gila yang bangun tidur sudah marah-marah.” Tapi bagi sebagian rakyat Libya pada zamannya, beliau justru Pemimpin ideal: tegas, nyentrik, tapi listrik selalu gratis dan warganya tidak pernah kelaparan.
Negara Gratisan: Libya edisi Promo Besar-Besaran
Di bawah Gaddafi, Libya hampir seperti negara yang baru buka
toko dan banting harga untuk menarik pelanggan. Listrik? Gratis. Pendidikan?
Gratis. Kesehatan? Gratis. Mau menikah? Dapat subsidi apartemen. Mau beli
mobil? Setengah harga ditanggung negara—lebih murah dari promo akhir tahun.
Tingkat melek huruf meroket dari 25% menjadi 83%. Bahkan
orang tuanya sendiri tak dibelikan rumah oleh Gaddafi sampai semua warga punya
rumah. Kalau ini bukan plot twist, saya tidak tahu apa lagi.
Aturannya Sederhana: Kalau Anda Sakit, Negara Bayar;
Kalau Anda Menganggur, Negara Juga Bayar
Libya zaman Gaddafi seperti punya malaikat pelindung
finansial. Warga butuh operasi di luar negeri? Silakan, yang penting cepat
sembuh—tagihannya nanti dikirim ke negara. Pengangguran pun tidak dianggap
masalah besar. Negara yang menanggung. Bahkan uang minyak didistribusikan
langsung ke rekening warga, bukan ke rekening pejabat (model ini terlalu maju
untuk banyak negara).
Sementara itu, harga roti dan bensin sangat murah—level
“seribu dapat dua.” Bayangkan isi ulang bensin yang lebih murah dari kopi
sachet.
Proyek Ambisius: Dari Gurun Gersang ke Kolam Besar ala
Gaddafi
"The Great Man-Made River" adalah bukti bahwa
Gaddafi tidak hanya membangun irigasi: beliau membuat versi raksasa bak
aquascape nasional. Bayangkan mengubah gurun menjadi ladang subur, seperti
mengubah gorengan berminyak jadi salad—misi yang tampaknya mustahil, tapi tetap
dijalankan dengan penuh percaya diri.
Ternyata bisa.
Pertanyaan Rumit: Bolehkah Kita Betah dengan Diktator
yang Dermawan?
Di sinilah drama sesungguhnya. Para pendukungnya berkata:
“Kami tidak punya kebebasan politik, tapi kami punya listrik
gratis.”
Sementara dunia Barat berkata:
“Kebebasan itu penting! Walau listriknya bayar penuh,
pajaknya tinggi, dan utangnya menumpuk.”
Dua kubu berbeda ini sama-sama yakin mereka benar. Satu
bicara kebebasan, satu bicara kesejahteraan. Anda mau pilih mana? Hak memilih
pemimpin setiap lima tahun, atau hak mendapat bensin super murah setiap hari?
Dilema yang tidak diajarkan di sekolah.
Akhir Kisah: Dari Negara Mandiri ke Drama Pasca-NATO
Ketika Gaddafi tumbang, Libya seketika berubah dari “negara
welfare versi super” menjadi “grup WhatsApp keluarga yang rusuh 24 jam.”
Ketertiban hilang, fasilitas hancur, dan demokrasi yang dijanjikan datang
dengan harga yang lebih mahal dari bensin era Gaddafi—lebih mahal dari apa pun
yang warga bayangkan.
Kini, sebagian warga mungkin bergumam lirih:
“Dulu listrik gratis. Sekarang listrik saja jarang muncul.”
“Dulu rumah disubsidi. Sekarang rumahnya hilang.”
Sungguh ironi: demokrasi datang, tapi sejahtera pergi.
Penutup: Antara Gaddafi dan Definisi Pemerintahan Ideal
Warisan Gaddafi mengajarkan kita satu hal:
Gaddafi mungkin diktator dalam hal politik, tapi juga sultan
kedermawanan dalam kebijakan sosial. Pertanyaan yang ditinggalkannya
sulit dijawab:
Lebih penting mana: kebebasan politik tanpa jaminan
hidup, atau jaminan hidup tanpa kebebasan politik?
Dan mungkin, itu sudah cukup untuk membuat dunia berpikir
ulang tentang definisi “negara ideal.”
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.