Rabu, 05 November 2025

Huawei dan Seni Membagi Kaya Tanpa Bikin Bosnya Kaya

Di dunia bisnis modern, ada dua tipe pendiri perusahaan.

Pertama, tipe “aku kaya, kalian semangat”, seperti bos-bos startup yang naik jet pribadi sambil menulis thread motivasi di X tentang “kerja keras dan passion.”
Kedua, tipe “aku tidak kaya, tapi kalian semua ikut menanggung beban bersama”, alias Ren Zhengfei dari Huawei.

Ya, Ren adalah contoh langka dari miliarder yang tidak jadi miliarder — bukan karena gagal, tapi karena memilih berbagi saham dengan lebih dari 150.000 karyawannya. Hasilnya? Huawei jadi seperti koperasi raksasa berteknologi tinggi, di mana semua orang merasa memiliki… kecuali saat mereka resign, karena sahamnya langsung diambil kembali.

Itu mirip seperti “kebersamaan” di grup WA keluarga: semua boleh bicara, tapi kalau salah ngomong, keluar grup.

Karyawan Jadi Pemilik, Tapi Jangan Terlalu Percaya Diri

Model ini disebut Employee Stock Ownership Plan alias ESOP. Kedengarannya keren — seperti “ESOP” itu singkatan dari “Everyone’s Share, Our Prosperity.”
Tapi ternyata, sahamnya bukan saham sungguhan. Saham karyawan Huawei adalah “saham virtual,” dipegang oleh Komite Serikat Pekerja atas nama mereka. Jadi pada dasarnya, para karyawan punya saham, tapi tidak bisa jual, beli, atau pamer ke calon mertua.

Bayangkan kalau ini terjadi di Indonesia:

“Mas kerja di Huawei?”
“Iya, aku punya saham di sana.”
“Wah, keren! Nilainya berapa?”
“Tidak tahu. Tapi katanya, aku boleh bangga.”

Kalau kapitalisme Barat adalah lomba menimbun kekayaan pribadi, maka versi Huawei ini seperti lomba menimbun rasa memiliki bersama — hanya saja, sertifikatnya disimpan orang lain.

Ren Zhengfei: Antara Nabi Bisnis dan Ninja Kontrol

Banyak orang menganggap Ren sebagai simbol kepemimpinan egaliter. Ia cuma punya 0,65% saham — angka yang cukup kecil untuk membuat Elon Musk menatapnya sambil berkata, “Kamu serius?” Tapi jangan salah, Ren juga punya hak veto, alias jurus bayangan yang bisa membatalkan keputusan siapa pun.

Jadi, walaupun Ren terlihat seperti “pahlawan yang merelakan kekayaannya,” dia sebenarnya seperti orang yang bilang,

“Silakan ambil semua kue ini, tapi izinkan aku menentukan siapa yang boleh makan dan berapa potong.”

Tentu ini bukan manipulasi — ini strategi kepemimpinan yang terpusat namun penuh cinta, seperti guru spiritual yang membiarkan muridnya bebas... selama masih sesuai ajaran.

Kisah Inspiratif atau Strategi PR Bertingkat Dua?

Narasi “Ren yang tak mau kaya” begitu indah, sampai-sampai terasa seperti bagian dari kampanye PR paling sukses abad ini.
Huawei menggambarkan dirinya bukan hanya sebagai perusahaan, tapi sebagai komunitas kebersamaan yang futuristik, lengkap dengan markas seperti film Blade Runner dan karyawan yang tampak bahagia menatap hologram data.

Namun kalau kita gali lebih dalam, cerita ini juga punya aroma politik halus:

“Lihat, di China pun ada kapitalisme yang manusiawi, bahkan lebih kolektif dari koperasi!”
Pesan tersiratnya: kapitalisme Barat = rakus, kapitalisme Timur = spiritual.

Kalau begitu, mungkin di masa depan akan muncul slogan baru:
“Huawei: membuatmu merasa memiliki, tanpa benar-benar memiliki.”

Kesimpulan: Kaya Bersama, Tapi Tetap Satu Komando

Struktur kepemilikan Huawei memang brilian:

  • Karyawan termotivasi.
  • Perusahaan stabil.
  • Dan bosnya tetap tenang, karena semuanya di bawah kendali sistem yang sangat... efisien.

Model ini adalah bukti bahwa tidak semua kekayaan harus terakumulasi di tangan satu orang — tapi kontrol, tentu saja, tetap sebaiknya jangan dibagi rata.

Pada akhirnya, Huawei mengajarkan filosofi baru dalam bisnis:

“Kepemilikan adalah ilusi, selama loyalitas masih nyata.”

Dan mungkin, di sinilah rahasia sukses Huawei — mereka tidak hanya menjual teknologi, tapi juga menjual perasaan memiliki... yang dikontrol dengan penuh kasih.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.