Di dunia bisnis modern, ada dua tipe pendiri perusahaan.
Ya, Ren adalah contoh langka dari miliarder yang tidak jadi miliarder — bukan karena gagal, tapi karena memilih berbagi saham dengan lebih dari 150.000 karyawannya. Hasilnya? Huawei jadi seperti koperasi raksasa berteknologi tinggi, di mana semua orang merasa memiliki… kecuali saat mereka resign, karena sahamnya langsung diambil kembali.
Itu mirip seperti “kebersamaan” di grup WA keluarga: semua
boleh bicara, tapi kalau salah ngomong, keluar grup.
Karyawan Jadi Pemilik, Tapi Jangan Terlalu Percaya Diri
Bayangkan kalau ini terjadi di Indonesia:
Kalau kapitalisme Barat adalah lomba menimbun kekayaan
pribadi, maka versi Huawei ini seperti lomba menimbun rasa memiliki bersama
— hanya saja, sertifikatnya disimpan orang lain.
Ren Zhengfei: Antara Nabi Bisnis dan Ninja Kontrol
Banyak orang menganggap Ren sebagai simbol kepemimpinan
egaliter. Ia cuma punya 0,65% saham — angka yang cukup kecil untuk membuat
Elon Musk menatapnya sambil berkata, “Kamu serius?” Tapi jangan salah, Ren juga
punya hak veto, alias jurus bayangan yang bisa membatalkan
keputusan siapa pun.
Jadi, walaupun Ren terlihat seperti “pahlawan yang merelakan
kekayaannya,” dia sebenarnya seperti orang yang bilang,
“Silakan ambil semua kue ini, tapi izinkan aku menentukan
siapa yang boleh makan dan berapa potong.”
Tentu ini bukan manipulasi — ini strategi kepemimpinan
yang terpusat namun penuh cinta, seperti guru spiritual yang membiarkan
muridnya bebas... selama masih sesuai ajaran.
Kisah Inspiratif atau Strategi PR Bertingkat Dua?
Namun kalau kita gali lebih dalam, cerita ini juga punya
aroma politik halus:
Kesimpulan: Kaya Bersama, Tapi Tetap Satu Komando
Struktur kepemilikan Huawei memang brilian:
- Karyawan
termotivasi.
- Perusahaan
stabil.
- Dan
bosnya tetap tenang, karena semuanya di bawah kendali sistem yang
sangat... efisien.
Model ini adalah bukti bahwa tidak semua kekayaan harus
terakumulasi di tangan satu orang — tapi kontrol, tentu saja, tetap sebaiknya
jangan dibagi rata.
Pada akhirnya, Huawei mengajarkan filosofi baru dalam
bisnis:
“Kepemilikan adalah ilusi, selama loyalitas masih nyata.”
Dan mungkin, di sinilah rahasia sukses Huawei — mereka tidak
hanya menjual teknologi, tapi juga menjual perasaan memiliki... yang
dikontrol dengan penuh kasih.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.