Selasa, 18 November 2025

Bom Masjid oleh Anak SMA : Ketika Dunia Maya Lebih Ramai dari Halaman Pesantren

Pada Oktober 2025, Indonesia diguncang peristiwa yang bikin masyarakat bingung harus istighfar dulu atau geleng-geleng kepala dulu: seorang siswa SMA 17 tahun mengebom… masjid sekolahnya sendiri. Bukan karena paham teroris internasional, bukan pula karena direkrut organisasi gelap dari Timur Tengah — tapi karena ia marah, kesepian, dan terlalu sering nongkrong di sudut-sudut internet yang bahkan Google pun mungkin segan mendekati.

Ini adalah contoh pertama dalam sejarah di mana white supremacy—yang biasanya muncul dengan rambut pirang, tato salib nordik, dan aksen Alabama—muncul dalam diri seorang remaja Muslim Jakarta yang masih pakai seragam putih-abu. Globalisasi memang luar biasa; barang-barang impor sekarang bahkan termasuk ideologi aneh.

1. “Teroris”? Tidak. Korban Bullying yang Kesal Tingkat Dewa

Polisi dengan tegas menyebut pelaku sebagai lone actor. Artinya: dia bukan anggota jaringan, bukan boneka orang asing, dan bukan “radikalis kelas kakap”.

Ia hanyalah remaja pendiam yang:

  • dibully
  • tidak punya teman curhat
  • tidak punya ruang aman
  • dan menemukan komunitas di internet yang mengajarkan cara merasa kuat lewat bom rakitan.

Kira-kira seperti menemukan buku “Cara Menjadi Superman” tapi isinya malah resep petasan level Avengers.

Saking marahnya, ia meledakkan masjid—tempat ia dulu shalat Zuhur bersama teman-teman yang mungkin juga mem-bully dia. Ini tragedi, tapi juga potret betapa kita gagal menyediakan tempat aman di dunia nyata, sehingga remaja mencari pelarian di dunia maya yang kadang lebih gelap dari kolong ranjang kos-kosan.

2. Rumah dan Sekolah: Hadir Fisik, Absen Fungsinya

Banyak orang tua merasa anak pendiam adalah “anak baik-baik”.

Padahal:

Fisiknya di rumah, pikirannya nginep di Reddit.

Atau 4chan. Atau forum misterius yang isinya orang-orang sedunia curhat soal hidup sambil berbagi cara bikin bom dengan alat dapur.

Sementara itu sekolah berjalan seperti biasa:

  • Ranking adalah segalanya
  • Bimbingan konseling hanya sibuk mengurus tata tertib
  • Guru sering tidak sadar kalau bercanda “lebay dikit” bisa jadi pemicu trauma
  • Dan bullying dianggap “proses pendewasaan”, seolah hidup belum cukup keras tanpa tambahan body shaming dari teman sebangku

Akhirnya rumah bukan home, sekolah bukan sanctuary. Keduanya cuma bangunan — tanpa perasaan.

3. Agama: Ketika Kesakralan Terkalahkan Konten Ceramah Clickbait

Pelaku adalah Muslim taat, tapi mengebom masjid. Ini bukan plot film Inception, ini Indonesia 2025.

Mengapa bisa begitu?

Karena agama yang ditawarkan ke generasi muda kadang:

  • lebih banyak ancaman daripada harapan
  • lebih banyak aturan daripada makna
  • lebih banyak politik daripada akhlak
  • lebih banyak konten “debat kusir” daripada “ilmu yang bikin hidup lebih waras”

Lama-lama, anak muda bingung:
Shaf shalat saja diperdebatkan, tapi shaf hati siapa yang merapikan?

Tak heran mereka mencari alternatif—meski yang ditemukan justru ideologi paling absurd: white supremacy versi digital. Lengkap dengan meme Viking dan jargon “Great Replacement” yang mungkin ia sendiri tidak paham.

4. Moderasi Beragama: Bukan Seragam, Bukan Stempel, Tapi… Sewajarnya Saja

Moderasi bukan berarti jadi “setengah beriman”. Bukan juga harus ikut seminar pemerintah berjudul Internalisasi Nilai Moderasi Beragama dalam Era Revolusi Industri 4.0 yang biasanya membuat peserta justru semakin ingin tidur, bukan semakin moderat.

Moderasi itu:

  • beragama dengan waras
  • mencintai manusia sebelum mengkoreksi aqidahnya
  • meneladani Nabi yang lebih suka mendamaikan konflik daripada menambahnya
  • dan menyebarkan rahmat, bukan notulen perdebatan

Kadang yang dibutuhkan remaja bukan ceramah 2 jam tentang siksa kubur; cukup pelukan, empati, dan guru yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi.

Kesimpulan: Musuh Kita Bukan Bom, Tapi Kerapuhan

Kasus SMA 72 bukan sekadar kasus kriminal. Ia adalah:

  • alarm keras
  • pemberitahuan darurat
  • notifikasi merah yang seharusnya tidak kita “swipe ignore”

Bahaya terbesar bukan ideologi impor. Bukan white supremacy. Bukan konten ekstrem.

Bahaya terbesar adalah anak-anak kita sendiri — ketika mereka sedih, marah, kecewa, dan tidak punya satu pun orang dewasa yang bisa mereka andalkan untuk bicara.

Solusi kita?

  • Reformasi sekolah agar lebih manusiawi
  • Pola asuh yang tidak sekadar “mengawasi tubuh”, tapi mendampingi jiwa
  • Agama yang kembali menjadi cahaya, bukan alat intimidasi
  • Ruang dialog di mana remaja bisa bertanya tanpa takut dituduh sesat

Jika semua itu kita gagal lakukan, maka yang meledak nanti bukan hanya masjid, tapi kepercayaan anak-anak kita kepada keluarga, sekolah, dan agama itu sendiri.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada bom rakitan.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.