Pada Oktober 2025, Indonesia diguncang peristiwa yang bikin masyarakat bingung harus istighfar dulu atau geleng-geleng kepala dulu: seorang siswa SMA 17 tahun mengebom… masjid sekolahnya sendiri. Bukan karena paham teroris internasional, bukan pula karena direkrut organisasi gelap dari Timur Tengah — tapi karena ia marah, kesepian, dan terlalu sering nongkrong di sudut-sudut internet yang bahkan Google pun mungkin segan mendekati.
Ini adalah contoh pertama dalam sejarah di mana white
supremacy—yang biasanya muncul dengan rambut pirang, tato salib nordik, dan
aksen Alabama—muncul dalam diri seorang remaja Muslim Jakarta yang masih pakai
seragam putih-abu. Globalisasi memang luar biasa; barang-barang impor sekarang
bahkan termasuk ideologi aneh.
1. “Teroris”? Tidak. Korban Bullying yang Kesal Tingkat
Dewa
Polisi dengan tegas menyebut pelaku sebagai lone actor.
Artinya: dia bukan anggota jaringan, bukan boneka orang asing, dan bukan
“radikalis kelas kakap”.
Ia hanyalah remaja pendiam yang:
- dibully
- tidak
punya teman curhat
- tidak
punya ruang aman
- dan
menemukan komunitas di internet yang mengajarkan cara merasa kuat
lewat bom rakitan.
Kira-kira seperti menemukan buku “Cara Menjadi Superman”
tapi isinya malah resep petasan level Avengers.
Saking marahnya, ia meledakkan masjid—tempat ia dulu shalat
Zuhur bersama teman-teman yang mungkin juga mem-bully dia. Ini tragedi, tapi
juga potret betapa kita gagal menyediakan tempat aman di dunia nyata,
sehingga remaja mencari pelarian di dunia maya yang kadang lebih gelap dari
kolong ranjang kos-kosan.
2. Rumah dan Sekolah: Hadir Fisik, Absen Fungsinya
Banyak orang tua merasa anak pendiam adalah “anak
baik-baik”.
Padahal:
Fisiknya di rumah, pikirannya nginep di Reddit.
Atau 4chan. Atau forum misterius yang isinya orang-orang
sedunia curhat soal hidup sambil berbagi cara bikin bom dengan alat dapur.
Sementara itu sekolah berjalan seperti biasa:
- Ranking
adalah segalanya
- Bimbingan
konseling hanya sibuk mengurus tata tertib
- Guru
sering tidak sadar kalau bercanda “lebay dikit” bisa jadi pemicu trauma
- Dan
bullying dianggap “proses pendewasaan”, seolah hidup belum cukup keras
tanpa tambahan body shaming dari teman sebangku
Akhirnya rumah bukan home, sekolah bukan sanctuary.
Keduanya cuma bangunan — tanpa perasaan.
3. Agama: Ketika Kesakralan Terkalahkan Konten Ceramah
Clickbait
Pelaku adalah Muslim taat, tapi mengebom masjid. Ini bukan
plot film Inception, ini Indonesia 2025.
Mengapa bisa begitu?
Karena agama yang ditawarkan ke generasi muda kadang:
- lebih
banyak ancaman daripada harapan
- lebih
banyak aturan daripada makna
- lebih
banyak politik daripada akhlak
- lebih
banyak konten “debat kusir” daripada “ilmu yang bikin hidup lebih waras”
Tak heran mereka mencari alternatif—meski yang ditemukan
justru ideologi paling absurd: white supremacy versi digital. Lengkap dengan
meme Viking dan jargon “Great Replacement” yang mungkin ia sendiri tidak paham.
4. Moderasi Beragama: Bukan Seragam, Bukan Stempel, Tapi…
Sewajarnya Saja
Moderasi bukan berarti jadi “setengah beriman”. Bukan juga
harus ikut seminar pemerintah berjudul Internalisasi Nilai Moderasi Beragama
dalam Era Revolusi Industri 4.0 yang biasanya membuat peserta justru
semakin ingin tidur, bukan semakin moderat.
Moderasi itu:
- beragama
dengan waras
- mencintai
manusia sebelum mengkoreksi aqidahnya
- meneladani
Nabi yang lebih suka mendamaikan konflik daripada menambahnya
- dan
menyebarkan rahmat, bukan notulen perdebatan
Kadang yang dibutuhkan remaja bukan ceramah 2 jam tentang
siksa kubur; cukup pelukan, empati, dan guru yang bisa mendengarkan tanpa
menghakimi.
Kesimpulan: Musuh Kita Bukan Bom, Tapi Kerapuhan
Kasus SMA 72 bukan sekadar kasus kriminal. Ia adalah:
- alarm
keras
- pemberitahuan
darurat
- notifikasi
merah yang seharusnya tidak kita “swipe ignore”
Bahaya terbesar bukan ideologi impor. Bukan white supremacy.
Bukan konten ekstrem.
Bahaya terbesar adalah anak-anak kita sendiri — ketika
mereka sedih, marah, kecewa, dan tidak punya satu pun orang dewasa yang bisa
mereka andalkan untuk bicara.
Solusi kita?
- Reformasi
sekolah agar lebih manusiawi
- Pola
asuh yang tidak sekadar “mengawasi tubuh”, tapi mendampingi jiwa
- Agama
yang kembali menjadi cahaya, bukan alat intimidasi
- Ruang
dialog di mana remaja bisa bertanya tanpa takut dituduh sesat
Jika semua itu kita gagal lakukan, maka yang meledak nanti
bukan hanya masjid, tapi kepercayaan anak-anak kita kepada keluarga,
sekolah, dan agama itu sendiri.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada bom rakitan.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.