Di era digital ini, timeline media sosial kita sudah mirip pasar malam: ramai, penuh lampu warna-warni, dan kadang ada “ulama dadakan” yang berteriak lebih keras daripada pedagang odading Mang Oleh. Dalam suasana seperti ini, nasihat Nabi Muhammad SAW yang dikutip dari Tanbihul Ghofilin—sebagaimana dibagikan Kang-Imam—serasa seperti menemukan musholla kecil di tengah festival musik: tenang, sederhana, dan menyejukkan.
Sabdanya, “Jangan duduk pada orang alim kecuali yang
mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal lainnya,” bukan sekadar panggilan
lembut, tapi semacam warning spiritual: “Hati-hati, salah duduk bisa
bikin Anda makin jauh dari jalan lurus, bahkan mungkin malah jadi admin fanbase
guru palsu.”
Guru Sejati: Bukan yang Fasih Bicara, Tapi yang Bikin
Kita Takjub… pada Diri Sendiri
Inti ajaran itu sederhana: guru sejati adalah agen
transformasi, bukan komentator tetap di kolom reply. Dialah yang membawa kita
dari keraguan ke keyakinan, dari kesombongan ke kerendahan hati, dari
permusuhan ke nasihat, dari riya’ ke ikhlas, dan dari cinta dunia ke
zuhud—bukan dari IG Story ke reels motivasi tiap pagi.
Guru seperti ini ibarat GPS spiritual: tidak hanya memberi
peta, tetapi juga menegur halus, “Silakan putar balik, Anda sudah terlalu jauh
dalam kesombongan.”
Era Ulama Medsos: Ketika Kealiman Diukur dari Jumlah
Followers
Masalahnya di era digital, sosok “alim” sering dinilai bukan
dari akhlaknya, tapi dari angka: jumlah subscribers, views, likes, dan tentu
saja, kemampuan membuat judul konten yang heboh seperti “5 Tanda Kamu
Diikuti Jin, Nomor 3 Paling Bikin Syok!”
Fenomena ini membuat banyak orang keliru. Mereka mengira
bahwa ulama yang paling keras suaranya pasti paling benar, padahal volume bukan
indikator hikmah. Kang-Imam dengan jenaka menyinggung “orang alim aneh zaman
sekarang”: yang hobi mencaci, iri, ngomong duniawi, dan memecah belah. Kalau
ulama seperti ini masuk mall, mungkin diskon akhlaknya 70%.
Lebih lucu lagi ketika debat kusir di medsos dibungkus
dalil-dalil: seakan-akan semakin marah seseorang, semakin dekat ia dengan
kebenaran. Padahal semakin panas debatnya, semakin dingin hatinya.
Hadis Dha’if, Tapi Hikmahnya Sangat Thiqah atau Tsiqah (الثقة)
Thread Kang-Imam juga menyebut bahwa hadis ini dha’if.
Namun, dalam tradisi tasawuf, kadang yang dha’if sanadnya justru shahih
manfaatnya. Nasihat ini seperti obat herbal: mungkin tidak lulus uji klinis
modern, tapi kalau bisa bikin hati adem, ya patut dipertimbangkan.
Ketika ada netizen yang protes, “Bang, sumbernya mana?”—itu
bukan kesalahan. Itu justru tanda bahwa umat ini mulai melek: meminum hikmah
dengan hati, tetapi tetap memeriksa tanggal kedaluwarsa.
Literasi Spiritual: Kemampuan yang Lebih Penting dari
Followers
Akhirnya, thread ini bukan hanya kritik, tapi ajakan untuk
menjadi muslim cerdas. Kita diminta tidak hanya menjadi penonton pasif yang
duduk di majelis mana pun hanya karena “rame” atau “estetik buat konten.” Kita
harus bertanya:
“Ilmu dari guru ini mengajak saya ke arah mana: ke ikhlas
atau ke cuek? Ke takwa atau ke toxic?”
Karena di era kebisingan spiritual seperti sekarang, guru
yang benar bukan yang paling sering muncul di FYP, melainkan yang mampu
membawa kita dari lima keburukan menuju lima kebaikan—meski mungkin
followers-nya cuma 300, dan itu pun sebagian adalah keluarga sendiri.
Sebab pada akhirnya, suara hati yang tenang, tawadhu’, dan
ikhlas—meski pelan—jauh lebih nyaring daripada segala retorika duniawi yang
sedang tren.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.