Senin, 17 November 2025

Kritik atas Kepalsuan: Panduan Memilih Guru di Tengah Kebisingan Spiritual ala Zaman Now

Di era digital ini, timeline media sosial kita sudah mirip pasar malam: ramai, penuh lampu warna-warni, dan kadang ada “ulama dadakan” yang berteriak lebih keras daripada pedagang odading Mang Oleh. Dalam suasana seperti ini, nasihat Nabi Muhammad SAW yang dikutip dari Tanbihul Ghofilin—sebagaimana dibagikan Kang-Imam—serasa seperti menemukan musholla kecil di tengah festival musik: tenang, sederhana, dan menyejukkan.

Sabdanya, “Jangan duduk pada orang alim kecuali yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal lainnya,” bukan sekadar panggilan lembut, tapi semacam warning spiritual: “Hati-hati, salah duduk bisa bikin Anda makin jauh dari jalan lurus, bahkan mungkin malah jadi admin fanbase guru palsu.”

Guru Sejati: Bukan yang Fasih Bicara, Tapi yang Bikin Kita Takjub… pada Diri Sendiri

Inti ajaran itu sederhana: guru sejati adalah agen transformasi, bukan komentator tetap di kolom reply. Dialah yang membawa kita dari keraguan ke keyakinan, dari kesombongan ke kerendahan hati, dari permusuhan ke nasihat, dari riya’ ke ikhlas, dan dari cinta dunia ke zuhud—bukan dari IG Story ke reels motivasi tiap pagi.

Guru seperti ini ibarat GPS spiritual: tidak hanya memberi peta, tetapi juga menegur halus, “Silakan putar balik, Anda sudah terlalu jauh dalam kesombongan.”

Era Ulama Medsos: Ketika Kealiman Diukur dari Jumlah Followers

Masalahnya di era digital, sosok “alim” sering dinilai bukan dari akhlaknya, tapi dari angka: jumlah subscribers, views, likes, dan tentu saja, kemampuan membuat judul konten yang heboh seperti “5 Tanda Kamu Diikuti Jin, Nomor 3 Paling Bikin Syok!”

Fenomena ini membuat banyak orang keliru. Mereka mengira bahwa ulama yang paling keras suaranya pasti paling benar, padahal volume bukan indikator hikmah. Kang-Imam dengan jenaka menyinggung “orang alim aneh zaman sekarang”: yang hobi mencaci, iri, ngomong duniawi, dan memecah belah. Kalau ulama seperti ini masuk mall, mungkin diskon akhlaknya 70%.

Lebih lucu lagi ketika debat kusir di medsos dibungkus dalil-dalil: seakan-akan semakin marah seseorang, semakin dekat ia dengan kebenaran. Padahal semakin panas debatnya, semakin dingin hatinya.

Hadis Dha’if, Tapi Hikmahnya Sangat Thiqah atau Tsiqah (الثقة)

Thread Kang-Imam juga menyebut bahwa hadis ini dha’if. Namun, dalam tradisi tasawuf, kadang yang dha’if sanadnya justru shahih manfaatnya. Nasihat ini seperti obat herbal: mungkin tidak lulus uji klinis modern, tapi kalau bisa bikin hati adem, ya patut dipertimbangkan.

Ketika ada netizen yang protes, “Bang, sumbernya mana?”—itu bukan kesalahan. Itu justru tanda bahwa umat ini mulai melek: meminum hikmah dengan hati, tetapi tetap memeriksa tanggal kedaluwarsa.

Literasi Spiritual: Kemampuan yang Lebih Penting dari Followers

Akhirnya, thread ini bukan hanya kritik, tapi ajakan untuk menjadi muslim cerdas. Kita diminta tidak hanya menjadi penonton pasif yang duduk di majelis mana pun hanya karena “rame” atau “estetik buat konten.” Kita harus bertanya:

“Ilmu dari guru ini mengajak saya ke arah mana: ke ikhlas atau ke cuek? Ke takwa atau ke toxic?”

Karena di era kebisingan spiritual seperti sekarang, guru yang benar bukan yang paling sering muncul di FYP, melainkan yang mampu membawa kita dari lima keburukan menuju lima kebaikan—meski mungkin followers-nya cuma 300, dan itu pun sebagian adalah keluarga sendiri.

Sebab pada akhirnya, suara hati yang tenang, tawadhu’, dan ikhlas—meski pelan—jauh lebih nyaring daripada segala retorika duniawi yang sedang tren.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.