Pada akhir 2025, media sosial kembali membuktikan diri
sebagai tempat berkumpulnya dua spesies manusia:
- yang
penasaran,
- dan
yang terlalu yakin.
Salah satu contohnya adalah klaim viral bahwa psilocybin—zat
psikedelik yang biasanya ditemukan dalam jamur yang tidak direkomendasikan oleh
ibu-ibu PKK—dapat “membalikkan usia otak dalam empat jam.”
Empat jam! Itu lebih cepat dari durasi antrean klinik BPJS atau waktu yang
dibutuhkan untuk menghapus chat mantan.
Namun, seperti biasa, sains tidak pernah sesederhana caption
Instagram. Mari kita kupas dengan santai, seperti mengupas bawang sambil
menangis karena harganya mahal.
1. Psilocybin: Membuat Otak Fleksibel, Bukan Lenting
Seperti Odading
Benar, penelitian menunjukkan bahwa psilocybin bisa membuat
otak menjadi lebih fleksibel. Tapi fleksibel di sini bukan seperti tubuh
instruktur yoga atau tokoh anime yang bisa menghindar dari 12 peluru sekaligus.
Fleksibel di sini berarti konektivitas antarbagian otak menjadi lebih bebas
bergerak, seperti rapat RT yang tiba-tiba menjadi curhatan massal.
Salah satu efeknya adalah pada Default Mode Network (DMN)—sebuah
jaringan otak yang bertugas memikirkan hal-hal penting seperti:
- “Aku
ini siapa?”
- “Kenapa
mantan sudah move on lebih cepat?”
- “Apa
arti hidup selain bayar cicilan?”
Psilocybin membuat DMN ini downgrade sementara,
sehingga pikiran yang biasanya ruwet jadi lebih lentur. Jadi bukan membalikkan
usia, tapi seperti refresh browser, bukan install ulang Windows.
2. Tentang Klaim Anti-Aging: Harapan Tinggi, Bukti Masih
Kerempeng
Penelitian Emory University memang menemukan bahwa psilocin
dapat memperpanjang umur sel manusia 50% di dalam cawan kultur.
Tetapi mari jujur:
Sel dalam cawan itu hidupnya cuma makan, tidur, dan difoto untuk publikasi
jurnal. Tidak ada tugas kuliah, tidak ada macet, tidak ada drama keluarga.
Tentu saja mereka awet muda.
Pada penelitian tikus, efeknya memang menjanjikan:
- Kelangsungan
hidup meningkat,
- Bulu
lebih sehat,
- Tampil
lebih memesona.
Namun perlu dicatat: tikus tidak menggunakan media
sosial. Mereka tidak mengklaim “umur berkurang 20 tahun setelah satu kapsul
jamur.” Tikus tidak membuat konten before-after.
3. Antara Kebenaran Sains dan Keisengan Influencer
Sains berkata:
“Psilocybin membuat otak lebih plastis selama beberapa minggu.”
Media sosial berkata:
“INI DIA! KITA BISA MUDA LAGI DALAM 4 JAM!”
Perbedaannya jelas:
Sains berjalan dengan hati-hati, data lengkap, dan jurnal 30 halaman.
Media sosial berjalan dengan capslock.
Sementara itu, angka-angka bombastis seperti “DMN turun 40%”
atau “entropi naik 25%” terdengar keren, padahal mungkin saja dihitung oleh
seseorang sambil minum matcha latte di coworking space.
4. Jadi, Apakah Psilocybin Bisa Membuat Kita Awet Muda?
Singkatnya:
Belum.
Kalau sudah, tentu publikasi ilmiah pertama akan berjudul:
“Psilocybin: Selamat Tinggal Serum Anti-Aging, Selamat
Datang Jamur Sakti.”
Yang bisa kita pastikan adalah:
- Ia
membuka jendela neuroplastisitas,
- Bisa
membantu kesehatan mental,
- Dan
mungkin, mungkin, mendukung proses penuaan yang lebih sehat.
Tapi apakah bisa membuat kita berusia 25 lagi?
Belum ada bukti. Bahkan jamur itu sendiri tidak pernah terlihat panik soal
umur.
Kesimpulan Jenaka
Psilocybin mungkin adalah pintu yang membuka kemungkinan
besar, tetapi bukan portal waktu ke masa muda.
Ia seperti teman bijak yang berkata:
“Bro, hidup memang berat, tapi pikiranmu bisa dilenturkan.”
Bukan teman halu yang berkata:
“Ayo bro, makan jamur terus jadi 17 tahun lagi.”
Untuk saat ini, lebih baik kita memandang psilocybin sebagai
katalis untuk perubahan, bukan eliksir keabadian.
Dan seperti biasa:
Jika ada klaim fantastis di media sosial…
90% kemungkinan itu konten,
10% kemungkinan itu salah kutip jurnal,
dan 0% kemungkinan itu cara cepat menjadi muda kembali sebelum reuni SMA.
abah-arul.blogspot.com., November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.