Di zaman modern yang penuh kehebohan—mulai dari notifikasi HP yang tak kenal waktu hingga cicilan yang datang lebih rajin daripada teman sendiri—kita sering terjebak pada satu pertanyaan menyayat hati: “Dompetku ini bolong atau ilmu bocor?” Rezeki rasanya lari lebih cepat daripada rumor di grup WhatsApp keluarga.
Padahal, ada satu kunci simpel yang sering kita
remehkan: syukur. Bukan syukur yang sekadar diucapkan setelah makan
bakso, tapi syukur yang benar-benar meresap ke hati, seperti kuah mie instan
yang meresap ke dalam mie setelah didiamkan tiga menit.
Penyakit 'Inkar Rezeki': Datangnya Halus, Rasanya Pedas
Ada satu penyakit spiritual yang bahaya tingkat tinggi tapi
sering disangka masuk angin: inkar rezeki. Gejalanya halus:
- melihat
isi rekening seperti melihat film horor,
- takut
miskin padahal hemat bukan hobi,
- merasa
semua hasil kerja itu pure dari otot sendiri—seolah-olah
udara, kesehatan, dan ide-ide brilian itu datang dari diskon online.
Penyakit ini membuat orang lupa bahwa rezeki bukan cuma
uang. Kadang rezeki itu berupa tetangga baik hati, parkiran kosong di depan
minimarket, atau gorengan yang tiba-tiba ukurannya lebih besar dari biasanya.
Zamzam: Bukti Bahwa Rezeki Bisa Muncul dari Tempat yang
Tidak Masuk Akal
Dalam kisah seorang ibu salehah yang berlari-lari di padang
pasir, kita diberi contoh dramatis bahwa rezeki itu tidak kenal lokasi. Gurun
kering? Bisa muncul mata air. Dompet kempes? Eh, tiba-tiba ada promo cashback
90%.
Intinya, selama kita tetap berusaha dan hati tidak panik
bagai alarm kebakaran, rezeki punya cara unik untuk muncul. Terkadang dari
celah yang bahkan Google Maps pun tidak tahu.
Azab Duniawi: Punya Banyak, Tapi capek Hati
Ini bagian yang sering bikin meringis: ada orang yang
hartanya banyak, tapi seperti punya langganan masalah. Punya mobil
mewah, tapi lebih sering masuk bengkel daripada jalan. Punya uang banyak, tapi
habis untuk hal-hal yang tidak ada “spark joy”-nya.
Makanya, tanpa syukur, rezeki bisa berubah jadi beban.
Ibarat punya laptop mahal tapi colokannya hilang—yang tersisa cuma frustrasi.
Syukur: Antivirus untuk Kecemasan Ekonomi
Dalam dunia yang hobi bikin orang panik, syukur adalah
antivirus premium. Ketika banyak, syukur bikin hati tenang. Ketika sedikit,
syukur bikin kita tidak merasa gagal. Syukur ini seperti update software batin
yang bikin semuanya lebih smooth.
Secara psikologis, orang yang bersyukur hidup seperti punya
“mode hemat energi”—tenang, tidak boros kecemasan, dan pikiran jernih.
Sementara orang yang tidak bersyukur hidup seperti HP 5% yang tetap dipakai
buat main game.
Penutup: Tangga Cahaya Itu Sebenarnya Simple
Pada akhirnya, syukur adalah cahaya yang membantu kita naik
dari gelapnya kekhawatiran menuju terang ketenteraman. Tidak perlu rumit: cukup
menghargai apa yang ada, bukan mengeluh tentang apa yang belum tiba.
Rezeki sesungguhnya bukan soal berapa yang masuk, tetapi
berapa banyak yang membuat hati lapang.
Dan kadang, lapangnya hati itu lebih mujarab daripada
lapangnya saldo.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.