Bertani hortikultura itu, kata banyak orang, mirip jatuh cinta: kelihatannya mudah, tapi begitu dijalani, penuh drama. Cabai, tomat, melon, timun—semuanya memang menjanjikan cuan. Tapi ternyata mereka ini punya satu kesamaan penting: sama-sama jadi sasaran empuk para “penjahat” kecil yang gemar menghisap, menggigit, dan mencuri hasil panen sebelum sempat masuk keranjang.
Maka lahirlah tugas baru bagi petani modern: bukan hanya
menanam, tapi juga menjadi satpam sekaligus dokter pribadi bagi tanaman. Dan
kerjaan ini, percaya atau tidak, lebih rumit daripada menjaga anak kos dari
godaan mi instan.
Kutu Daun & Thrips: Duo Penjahat Kecil Tapi Sangat
Berisik
Pertama datanglah Kutu Daun, makhluk mungil yang
hobinya menghisap cairan tanaman seperti vampir vegetarian. Akibatnya daun jadi
keriting, bahkan tumbuh “emberselai”—bukan yang enak di roti, tapi yang
mengundang jamur.
Lalu ada Thrips, serangga yang tampaknya punya
hobi menggambar graffiti. Daun tanaman jadi menggulung dengan bercak-bercak
keperakan seperti glitter murahan.
Solusinya? Insektisida seperti Imidakloprid dan Spinetoram.
Tapi jangan terus-terusan dipakai, nanti hama-hama itu jadi kebal dan
ikut-ikutan sombong, “Halah, itu mah obat lama.” Jadi wajib rotasi—mirip
menjaga perasaan dua gebetan agar tidak curiga.
Ulat Grayak & Lalat Buah: Para Tukang Bobol Tanaman
Nah, kalau dua ini kerjanya lebih frontal.
Ulat Grayak makan daun seolah baru puasa 40
hari. Lubangnya besar-besar seperti bekas gigitan dinosaurus mini.
Sedangkan Lalat Buah lebih halus—kerjaannya
menyusup, bertelur di dalam buah, dan meninggalkan kejutan tak menyenangkan
mirip plot twist sinetron.
Cara mengatasinya cukup elegan: BT untuk si ulat—ramah
lingkungan dan tidak membuat ulat protes ke LSM. Sementara itu, Lalat Buah bisa
dipancing pakai metil eugenol, aroma yang katanya sangat menggoda
bagi mereka. Intinya, buat mereka jatuh cinta pada aroma jebakan, bukan pada
buah kita.
Tungau Merah: Si Kecil yang Suka Pura-Pura Jadi Penyakit
Bentuknya hampir tak kelihatan—tapi efeknya? Daun kusam,
bercak, dan tanaman meringis seperti habis diceramahi. Banyak petani keliru
mengira ini penyakit, padahal ini “kelakuan” Tungau Merah.
Akarisida seperti Bifenazate jadi jurus utama. Cepat
mematikan—cocok untuk makhluk yang terlalu kecil tapi berani macam-macam.
Jamur & Virus: Musuh Tak Terlihat yang Suka Bikin
Drama
Jamur seperti Fusarium dan Phytophthora ini
sepertinya punya dendam pribadi. Mereka menyerang akar dan pembuluh, bikin
tanaman layu tanpa permisi. Pencegahannya seperti perawatan spa: perbaiki
drainase, jaga kebersihan, dan beri Trichoderma sebagai “teman baik” yang
menjaga akar tetap bahagia.
Masalahnya belum selesai. Ada Virus Kuning yang
lebih kejam. Sekali kena, tidak bisa disembuhkan—mirip patah hati tahap akut.
Solusinya hanya satu: cabut tanaman terinfeksi, buang dengan hormat, dan
pastikan Kutu Kebul, sang penyebar gosip virus, diberantas.
PHT: Filosofi Hidup Para Petani Bijak
Di tengah segala kekacauan ini, lahirlah konsep Pengendalian
Hama Terpadu (PHT). Ini bukan jurus ninja, tetapi pendekatan komprehensif:
mulai dari sanitasi lahan, aerasi tanah, mulsa perak, sampai pemilihan
pestisida yang bijak.
PHT mengajarkan satu hal penting: jangan tergesa-gesa
menyemprot. Gunakan dulu langkah-langkah yang lembut dan alami. Baru kalau hama
mulai kurang ajar, kita keluarkan “jurus kimia”—itu pun harus sesuai dosis,
terukur, dan dengan rotasi. Tanaman sehat, hama takut, petani bahagia.
Penutup: Menjadi Petani adalah Seni Mengelola Drama
Tanaman
Jika semua strategi diterapkan dengan disiplin, tanaman akan
tumbuh sehat, hasil melimpah, dan petani bisa senyum puas melihat panen tanpa
drama tambahan. Pada akhirnya, pengendalian hama dan penyakit itu seperti
kehidupan: butuh kesabaran, strategi, dan sedikit humor agar tidak stres
menghadapi kejutan-kejutan kecil di lapangan.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.