Di dunia normal, bank sentral itu biasanya punya gedung megah, pegawai ribuan, dan konferensi pers yang membuat rakyat menguap bersama. Tetapi di era digital yang makin absurd ini, muncul sebuah bank sentral baru yang tidak punya gedung, pegawai segelintir, dan—anehnya—justru dipercaya oleh ratusan juta manusia. Namanya? Tether. Lokasi kantor pusatnya? British Virgin Islands. Iya, benar: pulau kecil surgawi yang biasanya kita kenal dari brosur paket bulan madu.
Tether: Bank Sentral 100 Pegawai yang Mengalahkan Goldman Sachs
Ia juga:
-
Pemegang utang Treasury AS ranking ke-17 dunia (lebih kaya dari beberapa negara yang punya kursi di PBB).
-
Punya cadangan emas lebih banyak dari Australia (iya, Australia).
-
Mengoleksi 100.000 Bitcoin—mungkin satu-satunya “bank sentral” yang bisa beli negara kecil hanya dengan passphrase.
Semua ini dikelola oleh kurang dari 100 orang. Serius. Perusahaan ini efisien seperti warung kopi 24 jam yang cuma dijaga dua pegawai tapi bisa melayani satu kecamatan.
Dan yang lebih ajaib, perusahaan super-ramping ini menghasilkan $10 miliar setahun. Itu membuat Goldman Sachs terlihat seperti abang fotokopian yang berusaha bertahan di era printer digital.
Tether melayani 400 juta pengguna, terutama orang-orang yang banknya suka tutup, listriknya suka mati, dan inflasinya suka joget poco-poco. Bagi mereka, USDT bukan lagi stablecoin—tapi oksigen finansial.
Regulator: “Haramkan Tether!” | Dunia: “Maaf, kami sudah kadung pakai.”
Karena terlalu heboh, Amerika pun mulai panik dan menciptakan undang-undang hipotetis bernama GENIUS Act (nama yang ironis, mengingat isinya justru bisa bikin masalah lebih besar).
Bayangkan: Amerika punya dua dolar sekarang.
-
Dolar resmi – pakai FDIC, diatur negara, bergaya rapi seperti pegawai kementerian.
-
Dolar Tether – nongkrong di lepas pantai, disokong emas, Bitcoin, dan utang Treasury, tapi tanpa pengawasan.
Dari luar, ini seperti punya dua versi nasi goreng:
-
satu halal, ada sertifikatnya;
-
satu lagi lezatnya sama, tapi dimasak di kontrakan dan kokinya misterius.
Masalahnya: bagi orang-orang di Lagos, Istanbul, dan Buenos Aires, USDT itu bukan barang mewah. Itu alat bertahan hidup.
Eurodollar 2.0: Kali ini Bukan Bank, Tapi Stablecoin
-
tanpa bank,
-
tanpa perbatasan,
-
tanpa izin,
-
dan tentunya tanpa "lender of last resort".
Di masa depan, mungkin bukan lagi bendera yang menentukan kedaulatan, tapi imbal hasil 5% dan dokumentasi API yang well-maintained.
Kesimpulan: Tether Bukan Masalah—Ia Gejala Dunia yang Sudah Keburu Absur
Tether adalah cermin yang menunjukkan bahwa:
-
dunia membutuhkan dolar cepat, murah, dan tanpa birokrasi,
-
bank tradisional terlalu lamban dan terlalu suka tutup jam 3 sore,
-
regulator sering bereaksi seperti orang yang baru sadar rumahnya sudah lama tanpa pintu.
Karena suka atau tidak, kita kini hidup di era ketika bank sentral paling berpengaruh di dunia mungkin saja bukan berkantor di Washington, tetapi di sebuah pulau kecil yang bahkan sebagian orang tidak bisa tunjuk di peta.
Dan yang paling aneh dari itu semua?
Ternyata… berjalan cukup lancar.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.