Minggu, 30 November 2025

Tether: Kisah Bank Sentral Swasta yang Tidak Pernah Kita Pilih (Tapi Tahu-tahu Sudah Menguasai Dunia)

Di dunia normal, bank sentral itu biasanya punya gedung megah, pegawai ribuan, dan konferensi pers yang membuat rakyat menguap bersama. Tetapi di era digital yang makin absurd ini, muncul sebuah bank sentral baru yang tidak punya gedung, pegawai segelintir, dan—anehnya—justru dipercaya oleh ratusan juta manusia. Namanya? Tether. Lokasi kantor pusatnya? British Virgin Islands. Iya, benar: pulau kecil surgawi yang biasanya kita kenal dari brosur paket bulan madu.

Tulisan Shanaka Anslem Perera yang berbunyi agak mengancam, “The Privatization of the Dollar Has Already Happened,” pada dasarnya bisa diterjemahkan sebagai:
“Selamat datang di dunia baru: dolar sudah diswastakan. Tanpa rapat DPR. Tanpa konferensi pers. Tanpa pemberitahuan.”

Tether: Bank Sentral 100 Pegawai yang Mengalahkan Goldman Sachs

Sebelum kita lanjut, mari kita ambil napas.
Tether punya cadangan 181 miliar dolar. Itu bukan lagi perusahaan kripto—itu negara kecil. Atau negara besar, tergantung standar Anda.

Ia juga:

  • Pemegang utang Treasury AS ranking ke-17 dunia (lebih kaya dari beberapa negara yang punya kursi di PBB).

  • Punya cadangan emas lebih banyak dari Australia (iya, Australia).

  • Mengoleksi 100.000 Bitcoin—mungkin satu-satunya “bank sentral” yang bisa beli negara kecil hanya dengan passphrase.

Semua ini dikelola oleh kurang dari 100 orang. Serius. Perusahaan ini efisien seperti warung kopi 24 jam yang cuma dijaga dua pegawai tapi bisa melayani satu kecamatan.

Dan yang lebih ajaib, perusahaan super-ramping ini menghasilkan $10 miliar setahun. Itu membuat Goldman Sachs terlihat seperti abang fotokopian yang berusaha bertahan di era printer digital.

Tether melayani 400 juta pengguna, terutama orang-orang yang banknya suka tutup, listriknya suka mati, dan inflasinya suka joget poco-poco. Bagi mereka, USDT bukan lagi stablecoin—tapi oksigen finansial.

Regulator: “Haramkan Tether!” | Dunia: “Maaf, kami sudah kadung pakai.”

Karena terlalu heboh, Amerika pun mulai panik dan menciptakan undang-undang hipotetis bernama GENIUS Act (nama yang ironis, mengingat isinya justru bisa bikin masalah lebih besar).

Bayangkan: Amerika punya dua dolar sekarang.

  1. Dolar resmi – pakai FDIC, diatur negara, bergaya rapi seperti pegawai kementerian.

  2. Dolar Tether – nongkrong di lepas pantai, disokong emas, Bitcoin, dan utang Treasury, tapi tanpa pengawasan.

Dari luar, ini seperti punya dua versi nasi goreng:

  • satu halal, ada sertifikatnya;

  • satu lagi lezatnya sama, tapi dimasak di kontrakan dan kokinya misterius.

Masalahnya: bagi orang-orang di Lagos, Istanbul, dan Buenos Aires, USDT itu bukan barang mewah. Itu alat bertahan hidup.

Kalau regulator melarangnya?
Ya, sama saja seperti menarik kursi dari orang yang sudah lama berdiri sambil gemetar. Mereka akan jatuh. Dan lari ke solusi yang lebih gelap lagi.

Eurodollar 2.0: Kali ini Bukan Bank, Tapi Stablecoin

Sebelum ini, ada Eurodollar—dolar yang diciptakan bank-bank luar negeri.
Sekarang, Tether menciptakan Eurodollar versi upgrade:

  • tanpa bank,

  • tanpa perbatasan,

  • tanpa izin,

  • dan tentunya tanpa "lender of last resort".

Artinya apa?
Kalau Tether tumbang, $174 miliar klaim dolar bisa hilang seperti sandal jepit yang terhisap ombak saat liburan.

Tapi kalau Tether bertahan?
Ia akan menjadi bukti bahwa kedaulatan moneter—sesuatu yang dulu dijaga mati-matian oleh negara—ternyata bisa direbut oleh sekelompok orang di pulau tropis yang punya API cepat dan spreadsheet rapi.

Di masa depan, mungkin bukan lagi bendera yang menentukan kedaulatan, tapi imbal hasil 5% dan dokumentasi API yang well-maintained.

Kesimpulan: Tether Bukan Masalah—Ia Gejala Dunia yang Sudah Keburu Absur

Tether adalah cermin yang menunjukkan bahwa:

  • dunia membutuhkan dolar cepat, murah, dan tanpa birokrasi,

  • bank tradisional terlalu lamban dan terlalu suka tutup jam 3 sore,

  • regulator sering bereaksi seperti orang yang baru sadar rumahnya sudah lama tanpa pintu.

Pilihan kita?
Bukan melarang atau membiarkan, tetapi mengakui bahwa dunia telah berubah dan berusaha membentuk sistem baru sebelum sistem itu yang membentuk (atau menghantam) kita.

Karena suka atau tidak, kita kini hidup di era ketika bank sentral paling berpengaruh di dunia mungkin saja bukan berkantor di Washington, tetapi di sebuah pulau kecil yang bahkan sebagian orang tidak bisa tunjuk di peta.

Dan yang paling aneh dari itu semua?

Ternyata… berjalan cukup lancar.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.