Sabtu, 29 November 2025

Gus Yahya: Sang Arsitek Peradaban yang Terkadang Bikin Warga NU Mencari Obat Sakit Kepala

Jika ada lomba “Ketua Umum PBNU Paling Banyak Membuat Jamaah Berpikir Dua Kali”, kemungkinan besar Gus Yahya akan pulang membawa piala, karangan bunga, dan mungkin sedikit cibiran penuh cinta dari para kiai sepuh. Kepemimpinannya pada 2021–2025 adalah periode ketika NU seperti di-upgrade dari Motor Supra ke Tesla—meski sebagian pengurus masih setia memegang kunci jok Supra dan bingung mencari di mana lubang bensinnya.

1. Meritokrasi ala Gus Yahya: NU Tapi Rasa Manajemen Startup

Sejak awal, Gus Yahya datang membawa rumus baru: siapa yang kompeten, dialah yang naik. Sederhana kan? Tidak bagi sebagian warga NU yang bertanya, “Kalau semua pakai meritokrasi, terus nasib ‘kedekatan emosional’ kita ini bagaimana?”

Di tangan Gus Yahya, struktur NU terasa lebih mirip papan organisasi perusahaan multinasional. Bahkan ada yang khawatir suatu hari beliau akan mengumumkan:
“Mulai bulan depan, rapat Syuriyah menggunakan OKR dan KPI.”

**2. Lakpesdam Jadi ‘Bappenas’:

NU Upgrade Level Sampai Bikin Negara Deg-degan**

Transformasi Lakpesdam jadi “Bappenas-nya NU” membuat banyak orang berpikir:

“Waduh, jangan-jangan sebentar lagi NU bikin Rencana Pembangunan Jangka Menengah Syuriyah 2045.”

Yang pasti, dengan perubahan ini, para peneliti NU makin percaya diri. Mereka tidak hanya bisa memetakan isu sosial, tapi juga memetakan warisan pemikiran sambil menikmati kopi dan wifi cepat di kantor yang sudah dimodernisasi.

3. Infrastruktur Kantor NU: Dari Sumuk Jadi Modern

Dulu, beberapa kantor NU terkenal dengan dua ciri: kipas angin usianya sama dengan orde baru, dan lemari arsip yang kalau dibuka suka mengeluarkan suara “kreek” seperti film horor.

Gus Yahya datang, langsung diganti semua. Kantor jadi kinclong, wifi ngebut, dan beberapa pengurus generasi sepuh mulai belajar cara membedakan tombol power dan tombol volume.

4. Diplomasi Internasional: NU Go Global

Di era Gus Yahya, NU tampil di pentas dunia dengan percaya diri. Kalau sebelumnya diplomat Indonesia yang mengenalkan Islam Nusantara, kini justru dunia bertanya:

“Ada Gus Yahya? Kita mau dengar Fiqih Peradaban.”

Bahkan ada pengurus yang bercanda, “Habis ini NU buka perwakilan di Mars kalau Elon Musk berhasil kolonisasi.”

5. Digitalisasi NU: Dari Kertas ke Cloud, Meskipun Ada yang Masih Cari Stempel Basah

Gus Yahya mendorong digitalisasi organisasi. Administrasi dipindah ke platform daring. Tidak semua langsung paham—terutama mereka yang percaya bahwa password email harus ditulis di balik kalender 2020 agar tidak lupa.

Tapi tetap, ini lompatan besar: NU kini punya jejak digital yang rapi, meski terkadang masih diselingi pesan broadcast WA yang meragukan.

6. Harlah Satu Abad NU: Perayaan yang Bikin Konser K-Pop Minder

Perayaan satu abad NU begitu meriah sampai ada warga berkata, “Ini acara NU atau opening ceremony Piala Dunia?”
Panggung megah, lighting glamor, dan massa yang luar biasa — semuanya menandakan NU siap memasuki abad baru dengan gaya yang sangat profesional, tapi tetap dengan nuansa shalawat.

7. Fiqih Peradaban: Mahakarya yang Membuat Dunia Kagum dan Sebagian Warga NU Mikir Keras

Nah, ini dia: inti drama, inti pujian, inti keributan kecil tapi penuh hikmah.
Fiqih Peradaban adalah karya monumental Gus Yahya yang mencoba menjawab pertanyaan:

“Bagaimana fikih merespons zaman ketika AI bisa bikin khotbah, dan semua orang sibuk scroll TikTok?”

Ia menawarkan paradigma fikih baru: fikih yang bukan hanya mengatur wudhu dan jual beli, tapi juga masa depan peradaban manusia. Hasilnya? Keputusan progresif, internasional, dan cukup bikin sebagian anggota NU mengangkat alis sampai hampir menembus peci.

Mulai dari dukungan demokrasi, kebolehan mengucapkan selamat hari raya agama lain, sampai reinterpretasi soal hukuman mati bagi murtad—semuanya memicu diskusi, perdebatan, dan tentu saja meme.

Tapi justru di situlah letak keberanian intelektualnya.

8. Dinamika Internal: Ketika Ide Modern Bertemu Tradisi yang Sangat Setia

Setiap inovasi punya risiko, dan tampaknya Fiqih Peradaban menjadi percikan besar dalam dapur politik NU. Sebagian menyebutnya terlampau liberal, sebagian lain melihatnya sebagai cahaya masa depan.
Akhirnya, dinamika ini berkontribusi pada pemberhentian Gus Yahya. Ironis? Tentu.
Tapi dalam tradisi NU, perbedaan itu lumrah. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan:

  1. musyawarah,

  2. makan bersama,

  3. atau minimal segelas teh panas dan rokok kretek.

**Kesimpulan:

Gus Yahya, Pionir yang Kadang Terlalu Cepat bagi Jamaahnya Sendiri**

Kepemimpinan Gus Yahya ibarat menyalakan lampu sorot di panggung NU: sebagian penonton terpesona, sebagian lagi silau dan memilih menunduk.

Namun yang tidak bisa dibantah:
ia telah meninggalkan fondasi besar untuk NU modern — lengkap dengan perdebatan yang akan dikenang berpuluh tahun.

Gus Yahya mungkin tidak lagi di kursi Ketua Umum, tapi gagasan-gagasannya, terutama Fiqih Peradaban, tetap hidup:
dipuji, dikritik, diperdebatkan, lalu dijadikan bahan makalah mahasiswa semester akhir.

NU memang rumah besar. Kadang riuh, kadang damai, kadang bikin bingung, tapi selalu penuh cinta. Dan dalam rumah besar itu, Gus Yahya telah menulis bab penting — yang jenaka, dramatis, ambisius, tapi tetap bernilai.

abah-arul.blogspot.com., November 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.