Mari kita mulai dengan satu pertanyaan besar yang
mengguncang iman kuliner kita:
apakah sarapan, makan siang, dan makan malam adalah hasil konspirasi
Rockefeller?
Ya, begitulah kata video viral yang menampilkan seorang
“ahli gizi” dengan wajah penuh wibawa dan suara yang tenang — sayangnya, wajah
dan suaranya hasil deepfake, alias editan canggih yang membuat Photoshop
tampak seperti krayon anak TK. Dalam video itu, sang “ahli” menyebut bahwa
leluhur manusia dulu hanya makan sekali sehari, atau bahkan tiga kali
seminggu, dan tetap sehat bugar seperti model iklan vitamin.
Kita pun mulai berpikir: mungkin nenek moyang kita memang
punya abs six-pack karena mereka... kelaparan.
π₯¦ Puasa Intermiten dan
Romantisisme Gua Batu
Narasi ini terdengar menggoda — seolah tubuh manusia
diciptakan untuk hidup heroik di antara dua dunia: lapar dan lebih lapar.
Para penggemar intermittent fasting segera bersorak: “Lihat! Sains
membenarkan gaya hidup kami!”
Padahal, kalau dipikir-pikir, manusia purba itu puasa
bukan karena sadar kesehatan, tapi karena babi hutan-nya kabur.
Tidak ada jadwal “eat clean” atau “detoks alami”, hanya perut berbunyi dan
nasib yang ditentukan oleh arah angin.
Jadi, kalau sekarang kita puasa 16 jam dengan aplikasi
penghitung kalori, mungkin itu lebih dekat ke startup lifestyle daripada
ke evolusi biologis.
π Rockefeller, Sang
Tukang Atur Perut?
Tuduhan paling nikmat datang saat Rockefeller diseret ke
meja makan sejarah.
Konon, keluarga ini bukan hanya mengatur minyak dunia, tapi juga jadwal sarapan
kita.
Katanya, tiga kali makan sehari adalah hasil resep kapitalisme,
dirancang agar kita terus membeli makanan, obat, dan tentu saja... harapan
palsu untuk hidup sehat.
Sayangnya, sejarah berkata lain.
Kebiasaan makan tiga kali sehari bukan hasil pertemuan rahasia di ruang bawah
tanah Rockefeller, tapi akibat Revolusi Industri.
Para pekerja pabrik butuh energi yang konsisten agar tidak pingsan di depan
mesin pemintal.
Dan kampanye “sarapan itu penting” datang bukan dari Rockefeller, melainkan
dari Beech-Nut Company, yang ingin menjual lebih banyak bacon dan telur.
Jadi ya… perut kita dijajah oleh iklan, bukan oleh Illuminati.
π€ Deepfake: Saat Marion
Nestle Menjadi Marion “Nasi Uduk”
Yang paling menggelikan (dan mengerikan) adalah video
deepfake yang memalsukan Marion Nestle, profesor gizi ternama.
Bayangkan betapa absurdnya: seseorang mengedit wajah ilmuwan agar tampak
seolah-olah ia berkata,
“Rockefeller ingin kamu makan tiga kali sehari!”
Padahal, di dunia nyata, Marion Nestle mungkin sedang makan siang sambil
mengelus kucingnya dan berpikir,
“Manusia abad ini benar-benar lapar… tapi bukan lapar makanan, lapar drama.”
π§ Kesimpulan: Jangan
Percaya Perutmu (Begitu Saja)
Akhirnya, kita sampai pada inti persoalan: kita hidup di
zaman di mana konspirasi lebih cepat viral daripada fakta.
Puasa intermiten mungkin sehat, tapi bukan berarti semua teori konspirasi yang
membungkusnya ikut menyehatkan.
Kebenaran itu seperti sup bening — tidak heboh, tapi menenangkan.
Sementara konspirasi itu seperti sambal botol palsu di warung pinggir jalan —
menggoda, tapi kadang bikin perut mules.
Jadi, sebelum menuduh Rockefeller sebagai dalang nasi
goreng, mari kita gunakan sedikit akal sehat dan sedikit humor.
Karena, jujur saja, kalau benar makan tiga kali sehari adalah konspirasi,
berarti nenek kita juga agen kapitalis yang tak sadar.
abah-arul.blogspot.com., November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.