Kamis, 06 November 2025

🍽️ “Konspirasi Tiga Kali Sehari”: Ketika Perut Jadi Korban Kapitalisme

Mari kita mulai dengan satu pertanyaan besar yang mengguncang iman kuliner kita:

apakah sarapan, makan siang, dan makan malam adalah hasil konspirasi Rockefeller?

Ya, begitulah kata video viral yang menampilkan seorang “ahli gizi” dengan wajah penuh wibawa dan suara yang tenang — sayangnya, wajah dan suaranya hasil deepfake, alias editan canggih yang membuat Photoshop tampak seperti krayon anak TK. Dalam video itu, sang “ahli” menyebut bahwa leluhur manusia dulu hanya makan sekali sehari, atau bahkan tiga kali seminggu, dan tetap sehat bugar seperti model iklan vitamin.

Kita pun mulai berpikir: mungkin nenek moyang kita memang punya abs six-pack karena mereka... kelaparan.

πŸ₯¦ Puasa Intermiten dan Romantisisme Gua Batu

Narasi ini terdengar menggoda — seolah tubuh manusia diciptakan untuk hidup heroik di antara dua dunia: lapar dan lebih lapar.
Para penggemar intermittent fasting segera bersorak: “Lihat! Sains membenarkan gaya hidup kami!”

Padahal, kalau dipikir-pikir, manusia purba itu puasa bukan karena sadar kesehatan, tapi karena babi hutan-nya kabur.
Tidak ada jadwal “eat clean” atau “detoks alami”, hanya perut berbunyi dan nasib yang ditentukan oleh arah angin.

Jadi, kalau sekarang kita puasa 16 jam dengan aplikasi penghitung kalori, mungkin itu lebih dekat ke startup lifestyle daripada ke evolusi biologis.

🏭 Rockefeller, Sang Tukang Atur Perut?

Tuduhan paling nikmat datang saat Rockefeller diseret ke meja makan sejarah.
Konon, keluarga ini bukan hanya mengatur minyak dunia, tapi juga jadwal sarapan kita.
Katanya, tiga kali makan sehari adalah hasil resep kapitalisme, dirancang agar kita terus membeli makanan, obat, dan tentu saja... harapan palsu untuk hidup sehat.

Sayangnya, sejarah berkata lain.
Kebiasaan makan tiga kali sehari bukan hasil pertemuan rahasia di ruang bawah tanah Rockefeller, tapi akibat Revolusi Industri.
Para pekerja pabrik butuh energi yang konsisten agar tidak pingsan di depan mesin pemintal.
Dan kampanye “sarapan itu penting” datang bukan dari Rockefeller, melainkan dari Beech-Nut Company, yang ingin menjual lebih banyak bacon dan telur.
Jadi ya… perut kita dijajah oleh iklan, bukan oleh Illuminati.

πŸ€– Deepfake: Saat Marion Nestle Menjadi Marion “Nasi Uduk”

Yang paling menggelikan (dan mengerikan) adalah video deepfake yang memalsukan Marion Nestle, profesor gizi ternama.
Bayangkan betapa absurdnya: seseorang mengedit wajah ilmuwan agar tampak seolah-olah ia berkata,
“Rockefeller ingin kamu makan tiga kali sehari!”
Padahal, di dunia nyata, Marion Nestle mungkin sedang makan siang sambil mengelus kucingnya dan berpikir,
“Manusia abad ini benar-benar lapar… tapi bukan lapar makanan, lapar drama.”

🧠 Kesimpulan: Jangan Percaya Perutmu (Begitu Saja)

Akhirnya, kita sampai pada inti persoalan: kita hidup di zaman di mana konspirasi lebih cepat viral daripada fakta.
Puasa intermiten mungkin sehat, tapi bukan berarti semua teori konspirasi yang membungkusnya ikut menyehatkan.
Kebenaran itu seperti sup bening — tidak heboh, tapi menenangkan.
Sementara konspirasi itu seperti sambal botol palsu di warung pinggir jalan — menggoda, tapi kadang bikin perut mules.

Jadi, sebelum menuduh Rockefeller sebagai dalang nasi goreng, mari kita gunakan sedikit akal sehat dan sedikit humor.
Karena, jujur saja, kalau benar makan tiga kali sehari adalah konspirasi, berarti nenek kita juga agen kapitalis yang tak sadar.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.