Rabu, 19 November 2025

Ajakan Bertani Nasional: Ketika Inflasi Wortel Diatasi dengan Cangkul Kolektif

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebenarnya dimulai dengan niat mulia: memberi makan puluhan juta warga negara agar tumbuh sehat, kuat, dan berprestasi. Namun entah bagaimana, di tengah perjalanan, program ini berubah menjadi kompetisi nasional “Siapa yang Paling Panik Mencari Telur?”. Harga wortel naik, harga kentang naik, harga telur ikut lari dari kandang—pokoknya semua makanan seolah sedang mempersiapkan diri menjadi barang mewah.

Di tengah kepanikan itu, muncullah solusi dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang terdengar penuh semangat hijau:
“Ayo bertani sendiri!”
Iya, semudah itu. Kalau harga wortel naik, solusinya bukan perbaiki rantai pasok, tapi: “Bapak-Ibu tanam wortel saja.”
Jika telur mahal, bukan perbaiki tata kelola logistik, tapi: “Pelihara ayam sendiri ya.”

Tentu, sebagian masyarakat menyambut gagasan ini dengan antusias—setidaknya sampai mereka sadar bahwa lahan kosong di rumah hanyalah seukuran sandal jepit. Sedangkan mereka yang tinggal di apartemen hanya bisa melihat balkon kecil sambil membayangkan seekor ayam menatap mereka dengan tatapan bingung: “Kita tinggal di mana, Bos?”

Tak heran jika akun X @Excel_Dee langsung angkat bicara. Menurutnya, ajakan bertani itu tidak berbeda dengan menambal ban bocor pakai plester luka—niatnya baik, hasilnya nihil. Ia menyoroti bahwa masalah bukan pada kurangnya wortel atau ayam, tetapi pada rantai pasok pascapanen yang lebih rumit daripada hubungan percintaan anak muda zaman sekarang: banyak janji, banyak risiko, dan tidak jelas kapan sampainya.

Bayangkan, produksi wortel ditambah, ayam diternakkan lebih banyak… tapi tanpa SOP, traceability, dan pengawasan yang memadai, hasilnya tetap sama: wortel tidak higienis, telur tidak aman, dan ayam stres karena distribusi berantakan.

Namun yang paling menarik adalah fenomena baru ini:
beban inflasi pangan dipindahkan secara elegan kepada rakyat.
Harga sayur naik? “Silakan tanam sendiri.”
Harga ayam mahal? “Silakan rawat sendiri.”
Harga pakan naik? “Silakan cari solusi sendiri.”
Begitulah akhirnya rakyat membuka mata bahwa rupanya, dalam program raksasa ini, negara bukan hanya mendorong ketahanan pangan… tetapi juga ketahanan mental.

Sementara itu, ada isu lain yang lebih sunyi namun tak kalah penting: anggaran triliunan rupiah untuk sektor peternakan—yang entah dipakai untuk memperbaiki rantai pasok atau hanya membuat Excel makin berat di komputer pemerintah. Publik pun bertanya-tanya:
“Ini uang dipakai untuk memperbaiki distribusi, atau hanya memicu inflasi baru dengan lebih rapi?”

Pada akhirnya, kritik @Excel_Dee bekerja seperti alarm subuh hari Senin: menyebalkan, tapi penting. Ia mengingatkan bahwa solusi instan seperti “ayo bertani massal” tidak bisa menutupi kenyataan bahwa sistem pangan kita perlu diperbaiki secara menyeluruh.

Karena sebesar apa pun semangat menanam rakyat, tidak semua keluarga bisa menjadi petani, terutama ketika lahan tinggal jadi legenda dan bibit tidak pernah turun harga.

Maka jika pemerintah benar-benar ingin MBG berjalan mulus, resep yang seharusnya dipakai bukan hanya “tanam sendiri”, tetapi:

  • perbaikan distribusi,
  • pengawasan ketat,
  • SOP pascapanen yang manusiawi,
  • dan transparansi anggaran yang tidak membuat rakyat ikut-ikutan pusing.

Kalau semua itu sudah beres?
Barulah rakyat bisa bertani dengan gembira—bukan karena terpaksa menyelamatkan harga wortel nasional.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.