Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebenarnya dimulai dengan niat mulia: memberi makan puluhan juta warga negara agar tumbuh sehat, kuat, dan berprestasi. Namun entah bagaimana, di tengah perjalanan, program ini berubah menjadi kompetisi nasional “Siapa yang Paling Panik Mencari Telur?”. Harga wortel naik, harga kentang naik, harga telur ikut lari dari kandang—pokoknya semua makanan seolah sedang mempersiapkan diri menjadi barang mewah.
Tentu, sebagian masyarakat menyambut gagasan ini dengan
antusias—setidaknya sampai mereka sadar bahwa lahan kosong di rumah hanyalah
seukuran sandal jepit. Sedangkan mereka yang tinggal di apartemen hanya bisa
melihat balkon kecil sambil membayangkan seekor ayam menatap mereka dengan
tatapan bingung: “Kita tinggal di mana, Bos?”
Tak heran jika akun X @Excel_Dee langsung
angkat bicara. Menurutnya, ajakan bertani itu tidak berbeda dengan menambal ban
bocor pakai plester luka—niatnya baik, hasilnya nihil. Ia menyoroti bahwa
masalah bukan pada kurangnya wortel atau ayam, tetapi pada rantai pasok
pascapanen yang lebih rumit daripada hubungan percintaan anak muda zaman
sekarang: banyak janji, banyak risiko, dan tidak jelas kapan sampainya.
Bayangkan, produksi wortel ditambah, ayam diternakkan lebih
banyak… tapi tanpa SOP, traceability, dan pengawasan yang memadai, hasilnya
tetap sama: wortel tidak higienis, telur tidak aman, dan ayam stres karena
distribusi berantakan.
Pada akhirnya, kritik @Excel_Dee bekerja seperti alarm subuh
hari Senin: menyebalkan, tapi penting. Ia mengingatkan bahwa solusi instan
seperti “ayo bertani massal” tidak bisa menutupi kenyataan bahwa sistem
pangan kita perlu diperbaiki secara menyeluruh.
Karena sebesar apa pun semangat menanam rakyat, tidak semua
keluarga bisa menjadi petani, terutama ketika lahan tinggal jadi legenda dan
bibit tidak pernah turun harga.
Maka jika pemerintah benar-benar ingin MBG berjalan mulus,
resep yang seharusnya dipakai bukan hanya “tanam sendiri”, tetapi:
- perbaikan
distribusi,
- pengawasan
ketat,
- SOP
pascapanen yang manusiawi,
- dan
transparansi anggaran yang tidak membuat rakyat ikut-ikutan pusing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.