Dalam keseharian media sosial yang sering lebih riuh daripada pasar malam menjelang Lebaran, tiba-tiba muncul sebuah thread berjudul dramatis: “HOW THE LAW OF VIBRATION WORKS”. Diposting oleh akun bernama @maximumpain333—nama yang terdengar seperti tokoh antagonis anime yang sedang skripsi—thread ini langsung viral. Bukan karena kontroversi, tetapi karena ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih langka di tahun 2025: harapan murah meriah.
Gagasan utamanya simpel: semua benda di alam semesta
bergetar. Termasuk pikiran kita. Bahkan “perasaan insecure tiap lihat story
mantan” juga katanya punya frekuensinya sendiri. Dan sesuai hukum “like
attracts like”, kalau Anda memancarkan getaran positif, maka pengalaman positif
akan datang menghampiri — seperti magnet; hanya saja bukan magnet kulkas yang
selalu hilang itu.
Spiritualitas Lama, Kemasan Estetika Glow-Up
Bagi para pemula, konsep ini mungkin terasa modern dan
futuristik, padahal akarnya sudah sepuh—setua rambut kakek Hermetik dari
Kybalion. Dulu ia dibahas dengan bahasa filsafat berat, tapi sekarang cukup
diwakili oleh satu slide Canva penuh glitter ungu. Evolusi yang luar biasa.
Thread itu juga memberi target lucu tapi manis: berpikirlah
positif minimal 51% dalam sehari. Ini merupakan target hidup pertama yang
lebih rendah dari nilai remedial. Sangat ramah pemula.
Dan benar saja—kolom komentar langsung penuh pengakuan: ada
yang bilang “aku re-start hidupku hari ini”, ada yang bilang “aku tiba-tiba
merasa kaya walau dompet tinggal dua receh”. Vibrasi memang dahsyat.
CBT Berjubah Mistis
Dalam dunia psikologi modern, apa yang disebut “vibrasi
positif” itu sebenarnya mirip dengan konsep CBT: mengubah cara berpikir Anda
bisa mengubah cara hidup Anda. Bedanya, CBT tidak pernah bilang “energi
negatifmu nanti nempel di semesta seperti cacar air”.
Saran seperti mengganti narasi negatif, tidak
mengeluh, dan fokus pada perasaan baik memang sehat dan
masuk akal. Bahkan bidikan kesehatannya jelas: ketahanan mental, kebiasaan
refleksi, dan kemampuan mengelola pikiran liar yang biasanya muncul jam 1 pagi
tanpa permisi.
Dengan kata lain: Hukum Vibrasi cocok sebagai
motivasi, bukan sebagai mata pelajaran fisika kuantum.
Masalah Dimulai Ketika Hukum Ini Dianggap Lebih Ilmiah
dari Atom
Tentu saja, tidak semua orang terpikat. Para ilmuwan,
fisikawan, dan mahasiswa teknik semester tujuh yang sudah tidak percaya apa pun
selain kopi sachet, menganggap konsep vibrasi ini pseudosains.
Menurut kritik mereka, mengatakan bahwa pikiran manusia
“bergetar” dan “menarik kejadian” itu seperti bilang teh manis bisa memperbaiki
nasib negara. Niatnya baik, tapi tidak ada hubungannya.
Dan resikonya jelas: bisa muncul fenomena victim-blaming
tingkat galaksi, di mana orang yang sedang susah dikira “kurang vibrasi”.
Padahal kadang masalah bukan vibrasi, tapi harga beras.
Kearifan Digital: Antara Coping Mechanism dan PDA Semesta
Namun, terlepas dari semua kritik, thread ini laris manis
bukan karena isinya ilmiah, tapi karena ia membahagiakan hati yang
sedang mencari pegangan. Di era ketika timeline seperti roller coaster
emosi, nasihat untuk mengendalikan pikiran sendiri terasa seperti menemukan
payung warna-warni di tengah badai.
Dan mungkin itu esensi sebenarnya dari Hukum Vibrasi: bukan
tentang memanggil uang dari langit, tetapi tentang menata pikiran agar hidup
lebih tidak drama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.