Sabtu, 22 November 2025

Hukum Vibrasi: Ketika Pikiran Kita Dikira Wi-Fi yang Kurang Sinyal

Dalam keseharian media sosial yang sering lebih riuh daripada pasar malam menjelang Lebaran, tiba-tiba muncul sebuah thread berjudul dramatis: “HOW THE LAW OF VIBRATION WORKS”. Diposting oleh akun bernama @maximumpain333—nama yang terdengar seperti tokoh antagonis anime yang sedang skripsi—thread ini langsung viral. Bukan karena kontroversi, tetapi karena ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih langka di tahun 2025: harapan murah meriah.

Gagasan utamanya simpel: semua benda di alam semesta bergetar. Termasuk pikiran kita. Bahkan “perasaan insecure tiap lihat story mantan” juga katanya punya frekuensinya sendiri. Dan sesuai hukum “like attracts like”, kalau Anda memancarkan getaran positif, maka pengalaman positif akan datang menghampiri — seperti magnet; hanya saja bukan magnet kulkas yang selalu hilang itu.

Spiritualitas Lama, Kemasan Estetika Glow-Up

Bagi para pemula, konsep ini mungkin terasa modern dan futuristik, padahal akarnya sudah sepuh—setua rambut kakek Hermetik dari Kybalion. Dulu ia dibahas dengan bahasa filsafat berat, tapi sekarang cukup diwakili oleh satu slide Canva penuh glitter ungu. Evolusi yang luar biasa.

Thread itu juga memberi target lucu tapi manis: berpikirlah positif minimal 51% dalam sehari. Ini merupakan target hidup pertama yang lebih rendah dari nilai remedial. Sangat ramah pemula.

Dan benar saja—kolom komentar langsung penuh pengakuan: ada yang bilang “aku re-start hidupku hari ini”, ada yang bilang “aku tiba-tiba merasa kaya walau dompet tinggal dua receh”. Vibrasi memang dahsyat.

CBT Berjubah Mistis

Dalam dunia psikologi modern, apa yang disebut “vibrasi positif” itu sebenarnya mirip dengan konsep CBT: mengubah cara berpikir Anda bisa mengubah cara hidup Anda. Bedanya, CBT tidak pernah bilang “energi negatifmu nanti nempel di semesta seperti cacar air”.

Saran seperti mengganti narasi negatiftidak mengeluh, dan fokus pada perasaan baik memang sehat dan masuk akal. Bahkan bidikan kesehatannya jelas: ketahanan mental, kebiasaan refleksi, dan kemampuan mengelola pikiran liar yang biasanya muncul jam 1 pagi tanpa permisi.

Dengan kata lain: Hukum Vibrasi cocok sebagai motivasi, bukan sebagai mata pelajaran fisika kuantum.

Masalah Dimulai Ketika Hukum Ini Dianggap Lebih Ilmiah dari Atom

Tentu saja, tidak semua orang terpikat. Para ilmuwan, fisikawan, dan mahasiswa teknik semester tujuh yang sudah tidak percaya apa pun selain kopi sachet, menganggap konsep vibrasi ini pseudosains.

Menurut kritik mereka, mengatakan bahwa pikiran manusia “bergetar” dan “menarik kejadian” itu seperti bilang teh manis bisa memperbaiki nasib negara. Niatnya baik, tapi tidak ada hubungannya.

Dan resikonya jelas: bisa muncul fenomena victim-blaming tingkat galaksi, di mana orang yang sedang susah dikira “kurang vibrasi”. Padahal kadang masalah bukan vibrasi, tapi harga beras.

Kearifan Digital: Antara Coping Mechanism dan PDA Semesta

Namun, terlepas dari semua kritik, thread ini laris manis bukan karena isinya ilmiah, tapi karena ia membahagiakan hati yang sedang mencari pegangan. Di era ketika timeline seperti roller coaster emosi, nasihat untuk mengendalikan pikiran sendiri terasa seperti menemukan payung warna-warni di tengah badai.

Dan mungkin itu esensi sebenarnya dari Hukum Vibrasi: bukan tentang memanggil uang dari langit, tetapi tentang menata pikiran agar hidup lebih tidak drama.

Karena pada akhirnya, apa pun istilahnya—vibrasi, frekuensi

abah-arul.blogspot.com., November 202

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.