Di zaman ketika manusia merasa dirinya adalah influencer utama jagat raya—lengkap dengan bio “makhluk paling cerdas di planet bumi”—hadirlah satu suara yang langsung menurunkan rating kepercayaan diri kita: Russell Means. Aktivis Lakota ini, dengan kalem tapi pedas, menyampaikan pelajaran masa kecil yang kira-kira setara dengan menerima “roasting” filosofis sebelum ulang tahun keenam.
Kalimat terkenalnya—bahwa kalau semua tanaman, hewan berkaki
empat, dan makhluk bersayap hilang maka kehidupan tamat, tapi kalau manusia
hilang bumi justru makin sehat—adalah cara elegan untuk berkata: “Hei
manusia, kalian ini kayak tamu yang nggak pernah pamit, makannya banyak, tapi
nggak bantu cuci piring.”
Mitakuye Oyasin: Ternyata Kita Sepupu Jauh dari Rumput
Dalam kosmologi Lakota, konsep mitakuye oyasin berarti “kita
semua kerabat.” Sebuah pernyataan manis… sampai kita sadar bahwa itu berarti
kita punya hubungan keluarga dengan kecoa, lumut, dan mungkin jamur yang suka
muncul tiba-tiba di roti.
Bagi Lakota, alam adalah jaringan kehidupan yang erat—ibarat
grup WhatsApp keluarga besar. Bedanya, di grup ini manusia bukan admin. Bahkan
mungkin cuma anggota pasif yang sering dibisukan oleh anggota lain karena suka
bikin keributan.
Means menyampaikan bahwa manusia bergantung pada makhluk
lain, bukan sebaliknya. Suatu tamparan teknis yang halus: kita ini
bukan pusat ekosistem, kita cuma numpang hidup tanpa bayar kos.
Ketika Bumi Lebih Sehat Tanpa Kita: Plot Twist Terbesar
Setelah Avengers: Endgame
Pernyataan Means bahwa bumi akan “berkembang subur” tanpa
manusia terdengar seperti ulasan jujur dari Planet Earth: “Maaf ya
guys, kalian baik… tapi toxic.”
Contohnya sudah jelas:
- Hutan:
tumbuh kembali kalau kita diam.
- Sungai:
jernih kalau kita nggak usil.
- Hewan:
lebih santai kalau kita WFH dari planet lain.
Bahkan pandemi global sempat membuktikan teori Means: saat
manusia stay at home, alam auto healing seperti artis yang habis menjalani
retret tiga hari.
Ini bukan ajakan agar manusia hilang, tentu saja. Means
hanya mengingatkan bahwa peran kita itu guardian, bukan bos
besar. Kita ini satpam kosmik, bukan pemilik gedung.
Internet: Tempat di Mana Kebijaksanaan Lakota Berjumpa
Komentar Nyeleneh
Seperti biasa, ketika kutipan Means viral di medsos,
komentarnya pun beragam:
- “Wah,
ini dalam banget!”
- “Saya
tersinggung sebagai manusia!”
- “Jadi
maksudnya saya nggak penting, Bang?”
- “Ini
propaganda tumbuhan.”
Foto Means dengan tatapan tajamnya pun tampak seperti sedang
berkata: “Tenang, manusia. Yang perlu kamu hancurkan bukan alam, tapi
ego sendiri.”
Dan tentu, Means punya rekam jejak bukan kaleng-kaleng:
pendudukan Wounded Knee, perjuangan hak adat, dan kemampuan menyampaikan
kebijaksanaan tua dengan gaya yang bikin manusia modern merenung sambil menatap
kantong plastik bekas belanja.
Kerendahan Hati: Skill yang Belum Di-Update oleh Manusia
Modern
Pada akhirnya, Means mengajak kita upgrade firmware
kesadaran: dari mode eksploitasi ke mode kerabat
ekologis.
Kita memang tidak dibutuhkan bumi—tapi justru karena itu,
kita punya tanggung jawab moral yang unik: menjaga sesuatu yang tidak
membutuhkan kita, tapi yang kita butuhkan sepenuhnya.
Mirip seperti menjaga tanaman hias: tanaman tidak butuh kita
untuk hidup, cuma butuh kita untuk tidak lupa menyiram lalu selfie dengan
pencahayaan bagus.
Penutup: Bumi yang Bergetar Menunggu Kita Lebih Kalem
Jika bumi bergetar hari ini, mungkin bukan hanya karena
lempeng tektonik, tapi juga karena dia geleng-geleng melihat ulah kita.
Kerendahan hati bukan tanda kita kecil, tapi tanda bahwa
kita cukup besar untuk mengakui posisi kita di jaringan kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.