Minggu, 30 November 2025

Anktiva: Ketika Perang Melawan Kanker Mulai Pensiun dari Gaya Bar-Bar

Sudah puluhan tahun kita melawan kanker dengan strategi ala film aksi tahun 80-an: hajar dulu, lihat nanti apa yang masih tersisa. Kemoterapi dan radiasi bekerja seperti dua serdadu veteran yang selalu bawa granat—efektif, tapi rumah pasien ikut hancur setengah. Namun kini muncul kabar baru dari dunia medis: mungkin, mungkin saja, sudah waktunya kita pensiunkan gaya tempur “Rambo” dan mulai pakai pendekatan “Ninja”—lebih halus, lebih cerdas, dan tidak membuat tubuh pasien merasa dihajar palu Thor.

Masuklah Anktiva, sang bintang baru yang muncul bukan dari laboratorium rahasia pemerintah, tetapi dari segmen televisi yang dramanya nyaris menyamai sinetron jam prime time. Dr. Patrick Soon-Shiong—dokter bedah, miliarder, penemu obat, dan kemungkinan besar punya stamina seperti karakter Marvel—muncul membawa cerita yang membuat orang ternganga: pasien stadium akhir yang hitungannya tinggal “mingguan” tiba-tiba masuk mode “remisi total”. Kalau ini film, pasti ada suara “ting!” setiap kali dokter mengucapkan hasilnya.

Dan ketika Dr. Patrick berkata, “Ini lolos uji nenek”—wah, itu kalimat yang langsung menancap. Karena semua orang tahu: jika suatu hal lolos uji nenek, maka itu lebih meyakinkan daripada 10 publikasi jurnal. Nenek adalah standar emas. Kalau nenek bilang oke, maka dunia pun mengangguk.

Tak hanya itu, Dr. Soon-Shiong melanjutkan dengan kalimat yang membuat semua dokter onkologi mendadak mengehla napas panjang: “Setiap pasien berhak atas dokter yang masih punya harapan.” Secara tidak langsung, ini seperti menepuk pundak semua dokter sambil berkata, “Ayo, dong, jangan pasrah begitu amat.”

Lalu datanglah Dr. Robert Redfield, mantan bos CDC. Meskipun keterlibatannya dalam segmen televisi itu agak misterius—semacam cameo yang tidak jelas apakah resmi atau tidak—pernyataannya yang dikutip berhasil menggetarkan dunia kedokteran. Ia seakan berkata bahwa kemo dan radiasi itu seperti merusak rumah sendiri untuk mengusir maling, sementara imunoterapi seperti Anktiva membangun sistem keamanan baru yang canggih dan ramah lingkungan. Kalau benar beliau berkata begitu, itu ibarat seseorang mantan pejabat tinggi kesehatan tiba-tiba menyarankan kita ganti kompor minyak tanah dengan air fryer.

Tapi tunggu dulu—karena setiap cerita heroik juga butuh suara skeptis yang bijak. Di balik euforia media, Anktiva masih harus menghadapi bos terakhir: uji klinis acak terkontrol berskala besar. Dan sayangnya, uji fase 3 untuk indikasi kanker kandung kemih belum menunjukkan kemenangan telak. Ibarat pertandingan bola, tim Anktiva sudah mengecoh keeper, tapi tendangannya masih kena tiang.

Selain itu, jangan lupa bahwa Dr. Soon-Shiong juga pemilik perusahaan pembuat obatnya. Ini seperti menonton chef memuji masakan yang dia sendiri masak—mungkin enak, tapi tetep perlu dicicipi juri independen.

Narasi “mukjizat” memang menggugah, tapi dalam dunia medis, kita perlu lebih dari sekadar testimoni dramatis di televisi. Kita butuh data yang bisa membuat para peneliti yang super-kritis itu mengangguk sambil berkata, “Oke, menarik,” bukan hanya mengernyit sambil menyeduh kopi hitam ketiga mereka hari itu.

Pada akhirnya, Anktiva adalah harapan—harapan bahwa masa depan pengobatan kanker akan lebih manusiawi, lebih canggih, dan tidak lagi membuat pasien merasa seperti peserta uji ketahanan tubuh. Namun harapan itu harus ditemani oleh kehati-hatian ilmiah. Kita boleh optimis, tetapi jangan terlalu cepat pesan spanduk “Selamat Datang Pahlawan Baru”.

Jika nanti Anktiva benar-benar membuktikan diri dalam uji coba yang ketat, mungkin kita akan melihatnya jadi “berita medis terbesar dekade ini”. Tapi sampai saat itu tiba, kita tetap harus menapaki jalur ilmiah dengan langkah mantap—karena dalam dunia medis, mukjizat yang paling indah adalah bukti yang benar-benar terbukti.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.