Kamis, 13 November 2025

“Menjadi Negara Serba Bisa: Seni Menyelinap di Antara Dua Gajah”

Ketika Amerika Serikat dan Tiongkok sedang adu otot seperti dua gajah di padang globalisasi, Asia Tenggara tampak sibuk melakukan hal yang paling bijak—berjalan pelan di tengah-tengah sambil pura-pura menunduk, tapi mata tetap awas menghitung peluang. Inilah yang disebut optionalitas: kemampuan elegan untuk tidak memilih, tapi tetap mendapatkan semua keuntungan seolah-olah sudah memilih.

Go Wirjawan, dalam gaya khasnya yang kalem tapi tajam, menyebut strategi ini sebagai “mempertahankan nilai opsi.” Dalam bahasa warung kopi, artinya: jangan buru-buru ikut kubu siapa pun sebelum jelas siapa yang menang. Kalau nanti Tiongkok menang, kita tinggal bilang, “Kami kan sudah lama kerja sama ekonomi.” Kalau ternyata Amerika unggul, tinggal ganti narasi: “Kami selalu menjunjung nilai demokrasi.”
Diplomasi rasa capcay—semua bahan ada, semua rasa masuk.

Namun, Go tak berhenti di situ. Ia mengingatkan bahwa optionalitas bukan cuma soal bersilat lidah dalam konferensi internasional, tapi juga tentang punya “fondasi internal yang kokoh.” Artinya, kalau mau jadi jago menari di antara dua naga dan satu elang, jangan sampai rumah sendiri bocor. Percuma punya strategi geopolitik kalau jaringan internet sering putus dan birokrasi masih menunggu tanda tangan pejabat yang sedang rapat entah di mana.

Go bahkan menyebut bahwa “modal mengikuti kepercayaan, dan kepercayaan mengikuti kompetensi.”
Tapi di banyak negara Global South, kadang modal justru mengikuti kenalan, dan kepercayaan mengikuti siapa yang bisa mentraktir makan siang. Maka ketika para pejabat bicara tentang meritokrasi, rakyat sering bingung: itu nama proyek baru atau jenis makanan?

Untuk keluar dari jebakan ini, Go menyerukan agar kita menutup kesenjangan antara kekuasaan dan talenta. Artinya, berhentilah memberi jabatan karena hubungan keluarga, dan mulailah memberikannya kepada orang yang memang tahu bedanya antara algoritma dan aljabar. Negara yang ingin menaklukkan ekonomi digital tidak bisa terus-menerus memperlakukan STEM seperti singkatan dari “Sudah Tapi Entah Mengapa.”

Asia Tenggara punya 700 juta penduduk dan PDB hampir 4 triliun dolar—angka yang cukup besar untuk membuat dunia melirik, tapi cukup kecil untuk membuat investor bertanya, “Apakah ini peluang atau ujian kesabaran?” Namun jika kawasan ini bisa memadukan diplomasi lentur dengan ekonomi tangguh, kita bukan hanya jadi “penonton” dalam pertarungan raksasa, tapi sutradara yang menentukan alur ceritanya.

Pada akhirnya, refleksi Go Wirjawan bisa disarikan begini:
Dalam dunia bipolar, Asia Tenggara harus belajar menjadi negara serba bisa—bukan plin-plan, tapi fleksibel; bukan oportunis, tapi oportunistik dengan tanggung jawab.
Sebab, seperti kata pepatah diplomatik yang tidak tertulis:

“Di dunia di mana semua orang ingin jadi pemenang, yang paling beruntung adalah mereka yang berhasil jadi teman semua pihak tanpa harus ikut perang.”

Jadi, selamat datang di era geopolitik yoga: di mana keseimbangan, kelenturan, dan napas panjang menjadi kunci bertahan hidup di antara dua raksasa yang sedang batuk nuklir.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.